Tentang Hidup Saya

Tentang Rizqi, Saya harus berusaha supaya bisa menyantuni anak yatim, dhu'afa', shodaqoh, wakaf, jariyah dengan sebanyak-banyaknya
Tentang ajal, kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan saya, maka saya harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya.
Tentang jodoh, dia pasti yang terbaik untuk saya dan saya juga yang terbaik untuk dia, harapannya saya dan dia sama-sama ikhlas, ridho, syukur, qona'ah, sabar, dan saling pengertian.
Tentang masa depan, saya tidak tahu, saya hanya bisa belajar dari masa lalu dan berusaha menjadi yang lebih baik.
Tentang harapan, saya kurang sabar saya hanya minta kepada Allah tergolong mina al-Shobirin, Al-Mukhlishin, Al-Mahbubin, Al-Mardliyyin, Al-Sholihin.
Tentang orang lain, mereka sebagai obyek pendidikan, jika saya tidak mau dilukai saya harus tidak boleh melukai, saya harus menghargai, tidak merendahkan karena belum tentu saya lebih baik dari mereka.
ALLAHU MA'II, ALLAHU NAADHIRII, ALLAHU SYAAHIDII.

Kamis, 10 Juni 2010

Hanya Dia Yang Tahu 2 (Cinta Yang Dikorbankan)

Abdullah dipanggil salah satu koordinator pondok yang ditempatinya. Namanya ustad Ipul, ia diajak sowan ke Hadrotu Asyaikh Khodimu Al-Ilmy untuk meminta tenaga pengajar baru yang akan ditempatkan di salah satu lembaga asuhan teman ust Ipul.
Dengan memakai mobil avanza, Abdullah, ust Ipul, ketua Yayasan yang mau minta tenaga pengajar, satu sopir berangkat menuju tempat kediaman asyaikh yang ada di negeri Milh.
Sekitar 10 jam, mereka baru sampai di negeri milh lalu menuju Ndalem Assyaikh. Seperti tamu-tamu pada umumnya, salim, duduk, mengutarakan maksud dan tujuan, lalu minta restu. Mereka juga menemui salah satu santri yang akan diberangkatkan. Setelah berkenalan santri tadi bilang belum bisa berangkat, saat itu karena masih ada tugas yang harus ia selesaikan, ia memberi waktu sekitar satu bulan lagi.
Tiba saat yang telah ditunggu, teman yang hendak ditugaskan itu namanya kang Amri. Saat ini ia sedang menyelesaikan belajar Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Tentunya ia pandai dalam bahasa itu. Rencananya, kang amri berangkat dari Pare jam 08.00, diperkirakan sampai di tempat Abullah jam 10.00, dan rencananya kang Amri istirahat dulu ditempat Abdullah, esoknya baru menuju ke lokasi. Karena kang Amri belum paham daerah, maka ia minta dijemput di suatu tempat yang sudah disepakati bersama, yaitu di depan tempat wisata alam, biar mudah dikenal.
Saat berangkat menjemput kang Amri, Abdullah ditemani oleh temannya kang Abdul. Ditengah perjalanan, kang Abdul menawarkan gimana kalau tunggu di tempat temanku aja..? lokasinya tidak jauh dari wisata kurang lebih 2/3 km. Abdullah merespon positif, lagian kalau nunggu lama di tempat wisata, khan cari tempat peristirahatan agak repot.

Sesampai di rumah teman kang Abdul, Abdullah menghubungi kang Amri lewat hp, kurang lebih 20 kali misscall tanpa ada jawaban, telepon nggak diangkat, sms nggak dibalas, Abdullah mencemaskan hal itu, dalam benaknya “apa kang Amri bingung tidak tahu arah atau kena musibah, apa sengaja membuat main-main atau apa” sekitar 2 jam Abdullah menunggu dalam ketidakpastian itu, padahal pekerjaan paling membosankan adalah menunggu hal yang belum pasti. Coba telpon lagi nggak diangkat lagi, terus ia coba namun tetap tidak diangkat, sempat negatif thinking Abdullah saat itu, dalam pikirannya ia berkata “orang ini gimana maksudnya…nggak pengertian, aku khan sudah lama nunggu kenapa tidak kasih kabar nyampai mana, atau sedang apa atau macet atau gimana, gimana sih kang Amri ini” ?
Agak jenuh dalam penantiannya itu, Abdullah agak kesal, ia bilang pada kang Abdul “kang.. keluar aja kang, kita jalan-jalan dulu”. Kang Abdul mau aja, mereka kemudian minta ijin yang punya rumah untuk pamitan, Abdul bilang “kok nggak ditunggu di sini aja?
” nggak kang aku mau jalan-jalan dulu, nanti kang amri tak coba hubungi lagi”…setelah salaman, Abdullah bergegas ambil kontak sepeda dan nyalakan start kebetulan rumah teman kang Abdul itu pinggir jalan raya, baru start dibunyikan kang Amri datang bawa sepeda sendirian pas di depan Abdullah. Abdullah reflek baca “Alhamdulillah, Astaghfirullahal Adzim, Subhanallah”, ini benar-benar kejadian yang luar biasa. Abdullah berkata dalam hatinya “andai kata, aku nggak keluar rumah, kang Amri kan nggak repot nyari lokasi wisata, dia kan belum pernah tahu, jadi nanti repot, Tanya-tanya terus sungguh Allah yang mengatur semua ini”
Abdullah benar-benar mambaca tasbih mengagungkan serta memuji Allah, Dia tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Manusai ternyata kadang cemas dahulu untuk mengambil keputusan. Manusia terkadang muak dahulu untuk menentukan apa yang akan ia lakukan meski hal itu sedikit sekali. Yang paling penting adalah “yakin bahwa Allah selalu mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hambaNya, Allah akan memberikan sesuatu yang dibutuhkan hambaNya, Allah SWT akan memberi kemudahan pada kehidupan hambaNya, sungguh Allah luar biasa”. Saat Abdullah Tanya “kang Amri kenapa tadi telpon nggak kamu angkat” ? “ooo…tadi sedang dalam perjalanan, jadi nggak kedengeran” jawab kang Amri. Abdullah baca istigfar, Astaghfirullah..ternyata prasangka salah, aku sudah berburuk sangka pada orang lain, ampuni aku Ya Allah…aku kini jadi tahu, berprasangka buruk itu tidak boleh karena faktanya kadang tidak seprti itu..terima kasih ya Allah, Engkau telah mengingatkan aku mulai sekarang akau akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berprasangka buruk pada orang lain…
Pukul 14.00 siang baru sampai di tempat Abdullah. Mereka istirahat dan bincang-bincang banyak, kang Amri ini pintar agama dan pintar ilmu umumnya, terlebih bidang bahasa inggris ia lebih gaul dari Abdullah, sudah berinteraksi dengan orang banyak, status sosialnya juga lebih tinggi dari Abdullah, gaya hidupnya agak modern ketimbang Abdullah. Tapi semuanya itu tidak menjadikan Abdullah berkecil hati, semua makhluk ciptaan Allah sama, bukan status sosial, gaya hidup, tapi yang menjadi beda antara satu dengan yang lain adalah kadar ketaqwaan.
Hari berikutnya kang Amri dengan diantar Abdullah, kang Abdul, dan ust Ipul berangkat menuju lokasi tugasan. Selama perjalanan Abdullah sering menepuk pundak kang Amri, sambil canda. “kang, Mas Abdullah disini 1 bulan sudah jadi wali lo..bisa bersemedi disitu” Abdullah sambil menunjuk bukit di samping jalan naik turun pegunungan, masih jarang rumah yang banyak sawah, tebu, pohon-pohon besar mengerikan ditimbang kalau malam sepi ..jalan masih makadam (batu bukan aspal).
Sesampai di lokasi pesantren, kang Amri agak tercengang, komunitasnya bukan Jawa tapi Madura, bukan masalah bahasa tapi santrinya hanya 12 meski bukan kwantitas tapi setidak-tidaknya itu juga kendala, maklum kang Amri punya banyak bakat dan kelebihan dalam ilmu pengetahuan, Abdullah Tanya “gimana kang nikmati aja kang, kenyataannya nggak seburuk yang dibayangkan”,” semoga gitu” jawab kang amri. Setelah agak lama bincang-bincang dengan pengasuh, lalu Abdullah minta pamit pulang. Selamat berjuang kang Amri ..kita sama-sama satu guru, sama-sama pejuang untuk menegakkan agama Allah. Semoga amalan ini tercatat jihad fisabilillah, dapat ridho dari Allah. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah nyata ini, Abdullah berpikir “seandainya posisi kang Amri adalah aku, apakah aku bisa menerima ?, masih bakti pada Assyaikh untuk terus berjuang meski ditempat yang kurang memadai itu..Alhamdulillah aku ditaruh disini, aku kira punya nilai lebih dari tempat kang Amri.. Ya Allah Engkau benar-benar bijaksana, Engkau tahu kemanapun masing-masing hambaMu, mungkin aku nggak kuat jika ditaruh disana..terimalah dan ridhoilah kami, kami sama-sama khimadkan padaMu pada jalan syariatMu pada guru..

Kisah asmara Abdullah
Allah benar-benar maha luar biasa, merubah situasi, membolak-balikkan perasaan, merubah watak baginNya amat mudah. Semua yang ada berada dalam genggaman dan aturanNya “Jika Dia telah memberi sesuatu pada siapa yang telah Dia kehendaki, maka tidak akan ada yang bisa mencegah, dan bila Dia telah mencegah sesuatu maka tidak akan ada yang bisa memberi….. sungguh luar biasa”.
Abdullah manusia biasa, ia punya hati dan perasaan, ia berhak menikmati kehidupan, ia punya perasaan, perasaan gelisah, perasaan bahagia, perasaan duka dan perasaan cinta. Rasa duka jika hati disakiti, Rasa bahagia jika hati dicintai. Wajar manusia punya hak untuk itu

Ia sadar jika yang dirasa sekarang tidak tentu sama dengan yang akan ia rasa dikemudian hari. Ia tak berani terlalu mempertahankan perasaan yang sama karena hati diciptakan Allah dengan mempunyai karakter berubah-ubah. Sekarang bilang ia belum tentu besok sama, Sekarang bilang tidak mau belum tentu besok sama, Ia rasakan yang ia hadapi, perasaan besok adalah misteri Ilahi.

Abdullah baru sadar jika cinta benar-benar ada.
Entah Karena faktor apa, yang jelas sampai usia dewasa Abdullah tidak pernah tahu tentang cinta kepada seorang wanita, karena ia sama sekali belum pernah merasakannya. Yang ia tahu perasaan aneh jika seorang kekasih sedang mengadu asmara. Tidak jarang ia kesal jika ada sepasang kekasih yang berduaan, melewatkan waktu hanya bertemu kekasihnya mengorbankan aktifitas wajibnya. Melanggar aturan karena memilih kekasih dan lain-lain.
Abdullah buta dengan semua itu. Ia melihat cinta dari aspek pengaruhnya sehingga yang ia lihat cinta itu hal yang negatif
Abdullah sering mengingatkan sepasang yang sedang mengadu asmara untuk menghentikan (belum jadi pasangan sah) model komuniakasi mereka karena dianggap itu adalah cara yang tidak dibenarkan agama.
Suatu hari Abdullah menegur ahmad
“Ahmad kamu kok gitu pakek pacaran segala, pakek surat menyurat, pakek salam-salaman nanti pelajaran kamu ketinggalan lho….
Allah itu tidak menciptakan dua hati pada satu orang, kalau hatinya sudah memilih cinta pelajaran menjadi di nomer akhirkan, kamu ini masih siswa, kamu punya tanggung jawab untuk belajar, menghafal, faham materi pelajaran,kalau fikiran kamu begitu nanti nilaimu jelek, gak bisa manusia berfikir dua perkara secara bersamaan memilih pelajaran atau cinta”
Ahmad menanggapi “Abdullah kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasa… suatu saat nanti kamu akan tau”
“kamu itu kalau dikasih tau malah gitu,ya sudah terserah kamu ” gertak Abdullah.
Saat menyampaikan materi didepan teman-teman, Abdullah tidak jarang mengutarakan kata-kata yang ditujukan pada pelaku pacaran hingga kadang membuat kesal bagi yang merasa…. Mereka kadang bilang ”rasain nanti kalau kamu dilanda asmara, kamu akan tau”
Abdullah memang sama sekali belum pernah merasakan apa cinta itu, secara teori ia memang tau tapi bagaimana rasa sebenarnya ia tidak tau justru Abdullah lebih melihat dampak negatifnya Abdullah lebih memilih belajar dan belajar entah apa yang ia targetkan. Waktu baginya adalah belajar atau menghafal ia tidak senang bincang-bincang terlalu lama yang ia anggap omong kosong
Seringnya ia sendiri dikamar untuk menulis isi hatinya, menghafal yang ia anggap penting, membuat karya ilmiah dan aktifitas lain. Nyaris dalam pikirannya tidak ada tempat untuk memikirkan cinta …
Ahmad pernah bertanya : “kamu ini gimana to… sukanya kok belajar aja… kamu ingin apa sebenarnya dalam hidup ini….?
“Di dalam hidup ini aku tidak menginginkan apa-apa, hidupku sudah ada yang mengatur, aku hanya menjalaninya saja….. aku juga tidak punya target apa, mau jadi apa setelah aku sekolah dan belajar ini, yang aku lakukan aku harus lebih banyak belajar untuk mengetahui alam, melihat kehidupan, meyakini kebesaran Allah …..
Aku yakin Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hambanya dia tidak akan membiarkan hambanya dalam kesulitan, Dia maha kaya” jawab Abdullah
Aku lihat kamu juga gak suka wanita, buktinya siapa pacar kamu ? ”Tanya Ahmad lagi.
“aku gak gelisah urusan perempuan, bagi aku calon istri yang bakal hidup berdampingan denganku sudah dipilihkan oleh Allah siapa orangnya, aku yakin dia yang terbaik, jika sudah tiba waktunya nanti, Allah akan mengirim permaisuriku itu” jawab Abdullah
“Abdullah Abdullah … kamu itu irasional, zaman sekarang kok masih punya keyakinan kayak gitu…. Kuno dan ketinggalan zaman.” celoteh ahmad agak kesal.“Biarin,Dia lebih tau kehidupanku” tegas Abdullah
Pernah suatu saat Abdullah melihat seorang wanita, dan wanita itu berhasil mencuri perhatiannya bukan karena fisiknya namun karena kualitas berfikirnya. Abdullah hampir merasakan cinta. Ia jadi bingung sendiri, mendengar suaranya saja sudah bergetar hatinya. Apalagi namanya disebut orang lain rasanya ingin marah. Sekitar dua hari ia seperti itu, aktifitasnya agak terganggu. Beruntung ia sadar, ia bergumam dalam hatinya “kenapa aku harus begini, toh dia tidak merasakan apa yang aku rasakan dan dia juga tidak pedulikan aku….. aku tidak boleh teruskan ini.” Bergegas ia mengambil air wudlu dan membaca Al-Qur’an karena memang Abdullah berusaha melakukan rutinitas/istiqomah membaca Al-Qur’an ia yakin Al-Qur’an adalah Kalamullah dan Mu’jizat paling hebat, ia yakin di dalam al-qur’an terdapat banyak rahasia yang rasio manusia tidak bisa mencapainya. Al-Qur’an adalah obat, obat hati, obat penyakit dan obat mujarab. Alhamdulilllah perasaan itu luntur dan lenyap bersamaan alunan Al-Qur’an
Abdullah bergumam “berarti dia tidak untukku ia hilang dalam pikiranku….. terima kasih Ya Allah engkau telah menolongku….”
Hari-hari Abdullah habiskan dengan mendampingi teman-teman belajar, mengaji, ia merasa menemukan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan saat ia bersama-sama teman mengaji Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir, Filsafat, Psikologi dan lain-lain. Abdullah enjoy benar saat ia belajar itu, sampai-sampai ada yang berfikir negatif “kamu itu gak suka wanita ta…. Jangan-jangan…….!”
“He… jangan berburuk sangka, kebanyakan berburuk sangka itu dosa lho….kenyataan itu banyak yang tidak sesuai dengan perkiraan, otak kalian jangan mudah berperasangka lho aku itu laki-laki normal ya besok-besok aku akan menikah.” Jawab Abdullah.
Tepatnya malam sabtu Abdullah diperkenalkan temannya pada seorang gadis yang bernama khurul aini, ia mahir bahasa inggris ia menguasai bahasa yang benar dan masih kental dengan pesantrennya, didorong keinginan belajar bahasa inggris dan belajar bahasa yang benar Abdullah memberanikan diri sms minta izin pada gadis tersebut untuk menjalin persahabatan, alhamdulillah gadis tersebut welcome kalau memang bertujuan belajar. Mulailah Abdullah Tanya bagaimana cara belajar bahasa inggris yang tepat dan belajar bahasa yang benar, dengan hati tulus gadis itu memaparkan cara mudah belajar inggris.
Mulai saat itu, Abdullah semakin tertarik dengan bahasa inggris Abdullah rela dekat dengan kamus inggris Indonesia karena ia tidak banyak mengerti arti kosa kata inggris sedangkan mbak aini begitu ia memanggil dalam sms banyak memakai kata inggris hingga kadang Abdullah merasa pusing gak mudeng artinya kalau sudah gitu ia bilang “mbak aku gak mudeng he….3x” lalu ia minta mbak aini untuk mengulang dengan bahasa Indonesia pernah suatu ketika Abdullah memilih bahasa yang kurang pas menurut mbak Aini, saat itu mbak Aini agak kecewa dengan ungkapan itu tapi Abdullah bukan niat apa-apa ia yakin itu yang benar karena yang ia tahu hanya itu beruntung mbak aini sadar itu hingga kekecewaan itu tidak berlanjut.
Tanpa disadari komunikasi mereka agak geser kepermasalahan hidup, mereka saling sharing tentang arti kehidupan, tentang status gender, tentang sosial, tentang ideology, hingga kepermasalahan cinta. Abdullah menyampaikan sesuai yang ia pahami selama ini begitu juga mbak Aini anehnya banyak pemikiran yang sama, suatu hari mbak Aini ingin tau pandangan Abdullah tentang perempuan aktif “gimana mas Abdullah pendapatmu tentang perempuan aktif” Abdullah menjawab “menurut aku sah-sah saja jika didukung oleh kemampuan yang memadai karena kemampuan itu adalah anugerah yang diberikan Allah dan itu perlu disalurkan maka perempuan bisa aktif dibidang sosial, pendidikan, agama dan lain-lain dengan catatan perempuan-perempuan itu harus tau sejauh mana ia harus melangkah dan sampai batas mana ia harus kerjakan, meskipun Allah tidak melihat manusia dari aspek gender tapi gender itu benar-benar ada, perempuan punya hak, laki-laki punya hak kadang sama kadang juga berbeda”. Pernah juga mbak Aini Tanya tentang wanita sholihah Abdullah jelaskan “wanita sholihah adalah wanita yang bisa memposisikan diri dimana dan kapan ia berada. Ia mengerti haknya sebagai anak, ia tau haknya sebagai istri, ia tau haknya sebagai tetangga, ia tau haknya sebagai saudara, ia tau haknya sebagai hamba dan ukuran hak itu bukan atas dasar emosi dan rasional semata namun acuan yang paling otentik adalah standar agama. Jadi saat perempuan berstatus sebagai istri tidak serta merta status anaknya hilang ia tetap wajib berbakti kepada orang tua dan ia juga berbakti kepada suami jadi sama-sama punya hak.”
Abdullah balik bertanya tentang laki-laki dan sejauh mana laki-laki yang baik itu mbak aini menegaskan “laki-laki juga manusia punya hati dan perasaan bisa menangis jika disakiti bisa tertawa saat bahagia, yang membedakan ia dengan perempuan adalah tanggung jawab sebagai keluarga yang Allah amanahkan kepadanya dia mesti tau kapan harus melunakkan hati atau harus mengeraskannya siapa yang ia hadapi antara ibu, istri saudara perempuan, rekan dan lawan bisa mengendalikan ego dan emosi meski terkadang dominasi ego agak mengaburkan nurani yang paling penting dia tau kalau semua amanah itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhannya.”. mbak Aini Tanya lagi tentang hidup, Abdullah mengutarakan tentang pendapatnya “hidup itu penuh warna ada siang ada malam ada suka ada duka ada senyuman ada tangisan ada bahagia ada sengsara ada cinta ada murka hidup juga pillihan, antara memilih yang baik meski penuh resiko atau memilih sebaliknya yang terkemas dengan kemasan yang menarik hidup penuh tantangan yang sifatnya hanya sesaat, hidup banyak tipuan bagai fatamorgana hidup juga penuh dengan cobaan, menurut aku dalam menjalani kehidupan ini perlu disikapi dengan santai, enjoy tidak ada yang perlu dirisaukan dan dikhawatirkan karena segalanya telah ditentukan manusia tinggal menjalankan saja.” Abdullah balik bertanya soal wanita, mbak aini mencoba menjelaskan “image masyarakat terkadang salah dalam menginterpretasikan perempuan mereka menganggap perempuan sebagai objek pelampiasan perempuan hanya dilihat dari keindahan fisiknya saja mereka lupa tidak melihat wanita dari aspek kemanusiaannya yang sama-sama punya hak, hak berkarya, berprestasi dan mengekspresikan kemampuan yang ada dalam dirinya. Mereka menganggap perempuan cukup berada disekitar kasur,sumur dan dapur mereka menafikan kemampuan perempuan” sip…. Tapi harus tau batasan-batasan perempuan lho mbak “ kata Abdullah, mbak Aini ingin tahu juga pandangan Abdullah tentang jodoh. Kata Abdullah “jodoh, ajal, rizki, semua sudah dipastikan jadi aku pikir kurang pas jika kita gelisah tentangg urusan itu aku yakin kita hidup dan bernafas ini tidak akan dibiarkan oleh Allah, karena Dia yang menjadikan ini semua dan Dia juga akan mengatur kita, tidak mungkin Allah memberi kehidupan lantas membiarkan begitu saja tanpa diperdulikan, aku yakin kalau sudah menjadi jodoh gak akan kemana dia pasti akan datang pada saat yang tepat tidak perlu sedih mencari kemana-mana justru kalau kita mencari dengan berlebihan ia akan semakin jauh bukankah ada lagu semakin ku kejar semakin kau jauh gitu kan mbak?”. ”Bukan kah kewajiban manusia itu ikhtiyar (berusaha) tidak mungkin kita berpangku tangan, jodoh tiba-tiba datang rizki tiba-tiba datang”sanggahan mbak Aini.”iya…… kita tetap ikhtiyar tapi ikhtiyar manusia itu relatif tergantung apa maqomnya (pangkatnya) apakah dia maqom kasab (wajib bekerja) atau maqom do’a yang hanya bisa berdo’a saja. Entahlah mbak …. Aku gak cemas urusan itu banyak teman aku yang bilang aku ini orang yang tidak punya masa depan dan irasional tapi inilah aku. Aku seperti ini juga dari Allah” jelas Abdullah.
Allah selalu punya cara dan jalan untuk menggerakkan hati hambanya baginya, membolak-balikkan hati manusia amat terasa mudah .
Dari komunikasi itu mulai ada benih cinta, komunikasi jadi lebih inten. Mereka saling mencemaskan, mereka saling peduli, mereka saling berbagi cerita tentang kehidupan yang mereka alami selama ini. Yang aneh banyak kesamaan antara mereka, tentang makanan, tentang warna baju, dan juga tentang kesehatan.
Saat itu Abdullah mulai berpikir, bahwa kalau jodoh itu terdapat kemiripan antara laki-laki dan perempuan, ia pun mulai bertanya dalam hati…”apakah Mbak Aini ini memang jodoh ku…???”.
didalam doa nya ia berkata “ya Allah apakah saat ini aku harus mulai jauh cinta dan apakah mbak aini ini jodoh yang engkau kirimkan untuk hambamu ini. Jika itu benar maka berilah jalan untuk meraihnya dan mudahkan jalan itu yang tidak menimbulkan fitnah bagi diriku, bagi mbak Aini dan bagi orang-orang disekeliling kami. Karena aku yakin cinta tulus untuk yang memberi kedamaian, kebahagiaan, bukan pada pelakunya tapi juga pada sekelilingnya… dan jika dia bukan jodohku aku mohon beri jalan untuk tidak menjadi jodoh” terus Abdullah memanjatkan do’a seperti itu.
Subhanallah, Allah maha suci lagi maha agung, mereka sama-sama memuali menjalin hubungan bukan sekedar teman tetapi lebih dari itu padahal mereka belum pernah melihat secara fisik. Abdullah sama sekali belum tahu bagaimana kondisi fisiknya, kondisi keluarganya, kondisi ia tinggal begitu juga sebaliknya tetapi mengapa mereka berani menjalin hubungan kearah pernikahan…..satu-satunya alasan hanyalah faktor pola pikir tentang hidup yang sama. Abdullah berani melangkah karena melihat kepribadian mbak aini yang menurutnya adalah sosok special. Ia tinggal dalam komunitas yang kurang mendukung untuk mengingat Allah dan ibadah, komunitas yang lebih melihat dunia adalah materi, status social, komunitas yang meyakini bahwa hidup hanya bertahan dengan kerja saja. Komunitas yang lebih mementingkan aspek sosial dari pada aspek syariat, komunitas yang menganggap dosa adalah hal yang sudah biasa.
Tapi mbak Aini tetap bertahan dalam idielogi syariat, secara fisik ia harus bisa adaptasi dan berinteraksi pada lingkunggan, secara batin tetap dalam keyakinan suci yaitu Aqidah Islamiyah, bukankah orang yang berakal adalah “ Al Arifu bizamanihi wa makanihi ” ( orang yang berakal adalah orang yang tahu masa dan dimana ia hidup ) bagaimana ia menyikapi kondisi dan situasi dengan ajaran agama, agama sendiri mengajarkan social bermasyarakat dan bernegara, membangun dunia dengan pendidikan, mengatur karakter manusia dengan ajaran akhlakul karimah, sikap sopan santun berbudi luhur, membangun kesejahteraan umat dengan cara ba’i ( transaksi ) bercocok tanam dll,seperti yang diajarkan Rasullullah. Saling mengenal, mengisi, melengkapi, mengasihi, mencintai dengan ajaran Innama Al mukminuuna ikhwatan ( sesama mukmin hanyalah saudara ) yang jika satu sakit maka semua umat merasakan yang jika satu kurang maka semua merasa prihatin, menanamkan solidaritas umat dengan ajaran Al muslimu lil muslimi kalbunyani al wahid ( sesama muslim seperti bangunan satu ) saling menjunjung, saling memikul, dan tidak boleh iri satu sama lainnya. Tidak boleh saling klaim paling benar karena kebenaran secara mutlak dan absolute adalah milik Allah, manusia hanya berusaha mencari kebenaran melalui berpikir kritis ( ijtihad ) yang sifatnya adalah “Dzon” dan relatif kecuali dalam aqidah tentang ketuhanan dan kenabian maka sifat kebenaranya adalah absolute dan yakin.
Abdullah berfikir, seandainya posisinya sama seperti posisinya mbak Aini apakah bisa mempertahankan aqidah itu dengan tantangan yang berat ,dengan sikap dan keyakinan mbak Aini mempertahankan dasar syariat sebagai tendensi hidup,Abdullah yakin mbak Aini adalah orang hebat.
Bukankah nabi pernah bersabda pada aisyah Ajruki ‘ala qodri nashobik ( pahalamu tergantung kadar kerepotan/kesusahanmu ) sehingga muncul kaidah fiqhiyah Al-ajru biqodri at-ta’abi ( pahala disesuaikan dengan keberatan ) sama-sama baca al-quran nilainya akan berbeda antara yang di lingkungan memungkinkan dan yang sulit dimungkinkan, dua rokaat akan berbeda nilainya ketika situasi dan kondisi berbeda. Coba bayangkan saja muslim di Ameika, Jerman dan Negara non muslim lainnya, tempat ibadah sangat minim, anjuran melakukan syari’at sangat terbatas, jika ada muslim di sana yang bisa tekun ibadah maka nilainya menjadi luar biasa, berarti ia orang hebat. Karena Allah tidak akan menaruh seseorang dalam komunitas yang ia tidak mampu.jika ada seseorang yang ditaruh di situ ia adalah orang pilihan Allah maha besar .
Kehidupan di dunia sangat komplek kehidupan bukan hanya milik orang Indonesia, kehidupan bukan hanya milik lingkungan berpendidikan, orang punya, penguasa tapi kehidupan adalah milik Allah yang diberikan kepada semua makhluk ciptaan-Nya tanpa terkecuali dan siapa yang mengerti arti dan tujuan hidup dialah orang yang benar, ia tahu apa dan bagaimana ia hidup semua umat dihadap Allah adalah sama hanya kadar ketakutan(taqwa) yang membedakan mereka. Dan taqwa itu sesuatu yang abstrak, bukan berarti orang sholatnya tekun, shodaqohnya banyak ia benar-benar orang yang taqwa. Karena taqwa itu sifatnya dalam hati, hati nggak bisa ditebak dengan fisik yang tampak. Banyak wali ( Kekasih Allah ) kelihatannnya seperti tukang kebun, budak yang hitam, pendek, jelek, tukang penggembala, pengemis, kekasih Allah itu sangat dirahasiakan, begitu pula sebaliknya. Pujian orang lain itu cobaan, cemoohan juga ujian semuanya adalah cobaan. Hanya orang yang sadar dan mengerti bahwa hidup ini cobaan. Seseorang dilarang mudah mengklaim orang lain karena sikapnya, karena ucapannya, Kadang mereka lakukan itu tanpa kesengajaan, dan itu tidak salah.
Siapa sih yang pingin salah ?
Siapa sih yang pingin bodoh ?
Siapa sih yang pingin tidak punya apa-apa ?
Kalau manusia normal pasti memilih benar dan dibenarkan pingin pandai dan bermanfaat pingin kaya dan banyak shodaqohnya
Tapi kenapa terkadang keinginan hanya sebatas keinginan, jika ada orang pingin kaya, dia berusaha kesana-kesini namun tetap miskin apakah dia boleh berontak pada Allah
Apakah setelah ia berontak dia menjadi kaya ?
Bila ada orang pingin terbaik dalam segala hal ia berusaha mati-matian untuk meraihnya namun tetap saja ia belum menemukan lalu kemudian dia teriak kuat.
Apakah setelah berteriak keras lantas ia menjadi orang terbaik ,tidak kan ?
Hidup sudah ada yang mengatur, setiap manusia punya bagian tersendiri berapa kadarnya. Maka usaha tetap berusaha.
Kesuksesan itu anugerah yang akan diberikan pada pilihan Allah , jalani kehidupan dengan senyuman…
Seiring berjalanya waktu rasa cinta dalam hati Abdullah semakin tumbuh, Abdullah selalu ingin dekat HP, melihat layar kaca hp, apa ada SMS masuk atau telepon masuk. Ia menanti itu, setiap sms masuk ia yakini itu dari mbak Aini padahal kadang dari temannya ( kecewa deh ). Ia ingin meyapa meski lewat tulisan atau suara karena selama itu ia belum tahu seperti apa mbak Aini itu ? yang ia bayangkan ia seperti bidadari surga seperti permaisuri yang anggun
Abdullah sama sekali belum pernah melihat secara nyata di depan mata
Terasa indah kehidupan Abdullah saat itu, ia cemas, ia gelisah, hidup baginya semakin terasa hidup apalagi kadang mbak Aini keluar sifat manjanya, sifat ingin di akung itu menambah rasa rindu Abdullah. Dalam sholat malamnya Abdullah membisikkan kata
Ya Allah…Engkau begitu agung..
Engkau ciptakan wanita begitu indah
Engkau masukkan cinta dalam hati ini begitu indah
Engkau sisipkan rasa rindu ini begitu cerah
Perasaan ini benar-benar terasa nikmat, aku sebut namaMu sebagai wujud rasa syukur atas anugerah perasaan ini,
Jika cinta ini karena nafsu semoga ia layu dan mati dengan sendirinya
Jika cinta ini atas dasar Engkau,semoga semakin tumbuh subur, berkembang dengan menghasilkan bungan kerinduan yang wangi
Perasaan ini tumbuh dari benih kepercayaan bukan faktor kecantikan fisik
Cinta ini muncul karena kesederhanaan dan kekurangan sebagai manusia.
Mohon jika ini Engkau ridhoi, berilah jalan dan mudahkan untuk menapakinya.
Setiap tengah malam , Abdullah merasa bahagia jika bisa membangunkan mbak Aini di sana, lewat HP lewat sms, ia ingin antara hatinya dan hati mbak Aini sama-sama merasakan hal sama, melakukan hal sama yaitu sholat,membaca al-quran,berdoa sehingga permohonan akan didengar Allah.
Abdullah tidak pernah membayangkan perasaan seperti itu ada dalam dirinya, tapi aneh, perasaan itu semakin tumbuh dan Abdullah terasa lebih dekat Allah, terasa lebih butuh pada kekuatan Allah. Ia selalu ingat Allah saat menikmati rasa rindu.
Begitu luar biasa kekuatan Allah. Allahu Akbar.. Abdullah baru sadar bahwa cinta itu benar-benar ada, bahwa rindu itu benar-benar luar biasa, selama ini ia hanya tahu teorinya,sungguh Aneh……….
Yang jauh terasa dekat
Yang jelek terasa indah
Yang kurang terasa kelebihan
Teguran terasa pujian
Sapaan terasa pujaan
Semua terasa nikmat
Yang biasa tidak dilakukan, terasa nikmat melakukannya
Yang dianggap berat menjadi ringan
refleksi cinta sangat kuat
Makanan terasa bukan makanan
Yang terasa hanya pujian pada Allah
Atas anugerah cinta dan rindu yang dirasakan dalam batin Abdullah
Kenyataan yang tak terduga, pengalaman hidup yang tak terkonsep, terjadi dalam kehidupan Abdullah, bagaikan air mengalir memasuki celah-celah yang mungkin terjangkau meski kadang sedikit kendala karena hambatan batu-batu kecil namun air tetap bisa menerobos di celah-celah yang kecil dan sempit.
Perjalanan cinta yang Abdullah alami mulus semulus air mengalir, cinta itu dapat memadamkan api keangkuhan, membuka mata hati menjadi tahu arti kehidupan,kehidupan laki-laki dan kehidupan perempuan, kehidupan alam sekitar, Abdullah menjadi semakin yakin makhluk ciptaan Allah itu indah, sesuatu yang dilihat mata telanjang pahit, ternyata mengandung madu yang sangat manis dan menyegarkan. Alam benar-benar bersama manusia dengan saling memberi.
Realita yang seakan berat dan membosankan ternyata sangat ringan, begitu mempesona jika dilihat dengan mata cinta, cinta pada Allah, cinta pada ketentuan pilihan Allah, cinta pada mahluk ciptaaan Allah….
Cinta dapat meluluhkan kerasnya hasud. Cinta dapat memadamkan api dendam dan sombong. Cinta dapat menjinakkan kerasnya hati dan kepala….luar biasa…
Abdullah baru sadar bahwa saat itu ia sedang diberi anugerah, anugerah agung, anugerah yang menyinari kalbu yang telah lama layu dan kering, kini kelembutan hati tumbuh subur sesubur bunga melati saat tumbuh di musim hujan.
Abdullah saat itu bukan hanya merasa kagum dan cinta kepada mbak Aini, lebih dari itu Abdullah semakin cinta pada Allah, magnet yang ada dalam diri mbak Aini adalah kekuatan Allah untuk meluluhkan hatinya.
Abdullah dulu menjadi Abdullah sekarang, yang lebih bisa menghormati hak wanita, lebih bisa memahami perasaan orang lain, lebih enjoy dalam menerima realita, lebih sabar dalam ujian lebih mengenal dirinya sendiri bahwa dia amat lemah, nabi pernah bersabda:
“barang siapa mengetahui (kelemahan) dirinya maka ia akan mengenal (keagungan ) Allah”
Abdullah menjadi lebih sadar bahwa ia benar-benar tidak bisa lepas dari Allah…. Abdullah berdoa…….
Ya Allah……. Engkau bersamaku
Engkau melihatku …
Engkau menyaksikanku…
Engkau tuhan yang merawatku…
Perasaan Abdullah sedikit demi sedikit terus berkembang, dari simpati menjadi cinta, dari cinta menjadi akung dan terus tumbuh.
melihat perkembangan perasaan itu Abdullah bicara sendiri.
“apa ini adalah cintaku yang benar-benar cinta tulus bukan karena nafsu ?”!!!
Abdullah merasakan perkembangan itu ia selalu bahagia Abdullah menjadi semangat untuk mekangkah lebih jauh …….
Suatu ketika Abdullah Tanya mbak Aini untuk memastikan perasaan
“ mbak …. nJenengan bener-bener remen kulo tah (mbak kamu benar-benar cinta aku tah)
Masak mas Abdullah belum terasa sich…la mas Abdullah sendirii gimana ? Tanya mbak Aini.
Abdullah menjawab “ dari awal aku sama sekali belum pernah melihat mbak, perasaan itu muncul bukan pengaruh fisik, aku yakin bahwa ini adalah cinta tulus maka ku awali dengan menyebut nama Allah bismillahirrahmanirrahim
Terima cinta fillah aku, aku melakukan ini untuk mencari ridha Allah dan ibadah” mbak aini menangis bahagia, mana sich wanita yang nggak suka jika ada laki-laki mencintai bukan karena fisik tapi niat ibadah.
Dari situlah hubungan mereka semakin lengket, hingga mereka sepakat melanjutkan hubungan pernikahan ..
Ada keganjalan sedikit yang dirasakan Abdullah karena saat itu sekolahnya belum selesai dan ia masih berada di negeri pengabdian Abdullah menawarkan…….
“ mbak gimana kalau kita menikah setelah aku selesai sekolah ?.....
Lalu mbak menjawab:“Bukannya tidak sabar atau tidak mau, namun aku tidak mau kejadian masa laluku terulang kembali, sebagai wanita aku nggak bisa hidup dalam ketidak jelasan, aku ingin kita nikah tidak ditunda-tunda” jawab mbak Aini
Abdullah lama berfikir, ia membayangkan gimana kalau sudah menikah sementara ia masih sekolah, bagaimana nanti tanggung jawabnya sebagai suami, jika punya anak, bagaimana nanti tanggungjawabnya sebagai ayah. Tapi ia juga sadar, perasaan tidak bisa di buat permainan ,akhirnya dengan pertimbangan matang ia menyetujuinya,
“ okey.. Nanti mbak tetep di tempat mbak sekarang. Aku tetap disini kalau ingin ketemu tinggal telpon bilang ingin ketemu, jadi kita seperti orang pacaran yang sah dan halal. Tambah enak ya … nanti aku telpon …mbak..aku mau ketemu…terus mbak jawab ..oh..ya.. tunggu bentar ya…” khayalan Abdullah
Memang dari dulu cita-cita Abdullah, dia berusaha tidak pacaran, ia ingin pacaran setelah menikah. Abdullah tidak ingin berduaan selain sama istrinya esok, Abdullah tidak ingin canda tawa mesra kecuali pada isterinya besok … cita-citanya jika suatu saat nanti sudah mantap pada pilihannya tidak usah lama-lama langsung menikah saja, untuk mengurangi maksiat….. bahkan mereka telah membuat komitmen :
“ mbak, yang sangat sesintif dan rawan menimbulkan konflik untuk mbak itu apa ? ” Tanya Abdullah
Mbak Aini jawab “ aku itu sangat tidak nyaman jika perempuan itu di lihat dari aspek gendernya saja perempuan itu kan juga manusia yang punya hak. Hak berkarya, hak berkreasi, hak menyalurkan bakatnya. Makanya apabila ada laki-laki yang merendahkan perempuan dari aspek gendernya aku sangat tidak terima,” kalau mas Abdullah apa?
“Aku jika sudah menjadi suami nanti, tidak ingin istri aku menuntut, sebagai laki-laki akan terasa terganggu jika istrinya suka nuntut, aku berusaha untuk memahami apa hak istri apa kewajiban aku, aku insya Allah peka terhadap hal semacam itu tapi ya mohon pengertian istri.
tentang kondisiku, siapa sich suami yang tidak ingin membahagiakan istri dan anaknya, siapa sich yang tega istri dan anaknya terlantar.
Yang kedua, istri harus akung dong sama suaminya, jangan dibandingkan dengan laki-laki lain dan istri mohon menerima kekurangan aku sebagai kelebihan aku “ tegas Abdullah.
“ jika suatu saat nanti aku tidak bisa hamil , aku sakit , aku lemah dan tua apa mas Abdullah masih mau menerima aku ” Tanya mbak Aini
“ hubungan yang aku bangun ini atas dasar cinta tulus, aku berusaha menerima istri aku apa adanya , anak itu rizki kalau sudah rizkinya pasti kita punya anak tapi kalau tidak, dikejar sampai manapun dan kapanpun tidak akan menemukan, maka insya Allah dengan izin Allah aku akan terima mbak Aini apa adanya sampai akhir hayat nanti “ jawab Abdullah ”
Komitmen diantara keduanya sudah dibangun tinggal merealisasikan, bahkan mbak aini pernah membayangkan jika mahar (mas kawinnya) nanti Al-Quran dan peralatan sholat yang berwarna hijau, Abdullah pun senang membayangkan itu dan kebetulan hijau juga warna kesukaanya, sebelum melangkah Abdullah minta izin sekaligus restu dari orang tua. Alhamdulillah orang tua, keluarga, sudah merestui mereka bilang “ kami bapak, ibu, kakak-kakak senang jika kamu senang, tapi kami minta satu syarat jika bapak ibu sudah tua sudah tidak bisa apa-apa lagi kami minta kami dirawat dengan ikhlas hanya itu permintaan kami ” begitu juga mbak Aini minta restu keluarganya, Alhamdulillah semua merestui tinggal ayahnya, beliau minta diistikhorokan pada gurunya, jadi jawaban tinggal menunggu ayahnya, ayahnya janji 4-5 hari lagi ada jawaban. Abdullah syahdan saat itu……
Rasa cemas, gelisah menyelimuti benaknya, Abdullah khawatir jika terjadi kemungkinan terburuk ditambah sehabis istikhoroh ia mimpi nggak baik, malam pertama Abdullah mimpi muntah darah kedua dan berikutnya mimpi nggak bagus. Tapi bagi Abdullah mimpi-mimpi itu sebatas mimpi perasaan dan hatinya sudah yakin setiap ditanya mbak Aini “mas…. mas Abdullahkan sudah mantap ?.. sudah aku sudah mantap” jawabnya padahal hatinya ada kecemasan dengan mimpinya, malam berikutnya ia mencoba istikhoroh al-quran sesuai petunjuk gurunya dengan cara buka al-quran baca 5 ayat sesuai yang diinginkan jika banyak ayat yang menerangkan nikmat atau rahmat maka itu tanda baik jika sebaliknya maka tanda tidak baik, Abdullah lakukan itu setiap baca banyak ayat yang tidak baik, ia nggak percaya dan mencoba lagi hasilnya sama, mengulang lagi malah 5 ayat isinya tentang siksa neraka….Allahu akbar…….rasa gelisah bercampur cinta …rasa sedih bercampur rindu… malam berikutnya ia sholat istikhoroh mimpi nggak baik lagi…
Dengan itu semua hati dan perasaan Abdullah sedikit bimbang …..
Lalu ia bilang sama mbak aini “mbak gimana jika aku sowan Kyai aku, aku ingin petunjuk dan petuah dari beliau”.
Mbak Aini menanggapi dengan nada resah “mas…. Kenapa harus begitu, selama ini aku sayang, kenapa gak bilang dari awal. Demikian ini membuat hatiku cemas, dan gelisah…. Kemarin Mas Abdullah bilang sudah yakin tapi kenapa harus begini, sekarang aku seperti berada di persimpangan jalan lagi, perjalanan kita dimulai dari awal lagi….. tapi entahlah terserah Mas Abdullah”. “ya jangan gitu tah mbak…. Aku sekarang benar-benar bimbang, lagian jawaban dari ayah mbak kan belum. Jadi aku juga ingin lakukan hal sama kita yakin dengan panutan masing-masing deh….. aku harap apapun keputusannya nanti kita ikhlas dan ridho agar menjadi hamba yang dicintai Allah bukan hanya mencintai” kata Abdullah

Cinta yang dikorbankan
Sore itu tepat jam 16.00 wib (4 sore) cuaca mendung, Abdullah berangkat menuju kediaman gurunya jaraknya kalau ditempuh jam memakai kendaraan sekitar 7/8 jam. Ditengah perjalanan menuju terminal hujan turun Abdullah lupa membawa mantel, tapi aneh sama sekali gak terasa. Hujan menambah semangat melangkah, hembusan angin menambah kesegaran perasaan, cuaca seakan terasa terang benderang. Memang cinta itu luar biasa efeknya, sampai terminal matahari sudah terbenam, suasana menjadi gelap hanya terlihat warna-warni lampu malam dan pernak-pernik malam keindahan Tuhan….
Abdullah masuk bus terdengar sayu-sayu suara wanita menyanyikan lagunya kangen band terasa begitu indah, Abdullah menikmati itu perasaan cinta dan kangen serta dibumbui lagu itu amat pas, dunia begitu tampak indah, baru itu Abdullah menikmati keindahan alam ciptaan Allah…. Bus segera berangkat terasa dingin didalamnya disamping gerimis diluar AC didalam terus menghembuskan kesejukan yang menambah perasaan didalam hati terasa segar…..
Bus terus melaju, mata Abdullah terasa ngantuk hingga ia terlelap tidur, kira-kira jam 12.00 atau jam 1.00, Abdullah sampai kampung Kyainya. Karena sudah malam Abdullah langsung menuju kamar tamu dan tidur disitu pagi-pagi bangun. Perasaannya dililit kecemasan dan kegundahan hebat. Ia membayangkan kemungkinan terburuk betapa hancur hatinya, kemantapan yang dibangun selama ini begitu kokohnya. Dijauh sana mbak aini merasa kecemasan pula. Mereka sama-sama membayangkan kemungkinan terburuk, mereka sudah sama-sama menyayangi dan siap menerima apa adanya kekurangan masing-masing bagi mereka adalah kelebihan cinta mereka didasari rasa tulus.
Pukul 06.00 Abdullah menghadap Kyai sesampai di dalem, salim lalu Abdullah mengutarakan maksud dan tujuannya. Ia menceritakan apa adanya tidak dikurangi tidak ditambahi. Abdullah yakin sepenuhnya dengan Kyai, ia yakin Kyai ahli mukasyafah (menyingkap tabir) yang lebih tau. Karena beliau yang lebih dekat dengan Allah. Abdullah berharap semoga Kyai merestui dan mendo’akan semoga keluarganya nanti keluarga sakinah, mawaddah warahmah tentrem ayem loh jinawi Toto raharjo. Kyai diam memejamkan mata bathinnya bergerak suasana hening Abdullah semakin cemas dan cemas hingga terdengar suara dari mulut mulyanya “cong kok tibo tolak” (nak… kok jatuh talak artinya kalau diteruskan akan terjadi perceraian).
Bagaikan petir disiang bolong, jawaban yang tidak diharapkan ingin menjerit saat itu ingin tumpahkan air mata sebanyak-banyaknya namun Abdullah berhasil mengontrol emosinya, jadi mencoba tenang dan tenang meski dalam hati terasa gaduh….
“Iku kabeh nek coro aku cong, emboh nek awakmu (itu kalau menurut aku nak, tidak tau kalau menurut kamu)”
Abdullah berada di dua pilihan yang sama-sama berat. Antara mengikuti perasaan hati dan manut dawuhe guru (taat pada pilihan guru) pilihan yang benar-benar berat, perasaan hati bukan hal yang kecil, pengaruhnya sangat hebat pasrah pada pilihan guru juga hal yang perlu, karena guru adalah sosok yang merawat jiwa, menyinari gelapnya hati, menuntun pada jalan yang terang saat perjalanan pulang dari guru hati. Abdullah kacau apa yang harus ia pilih, berat rasanya membohongi perasaan, perasaan itu semakin tumbuh subur Abdullah bisa sadar tentang wanita, tentang karakter karena pengaruh positif perasaan itu Abdullah menjadi bisa mensikapi kenyataan hidup, dalam bathinnya ia menjerit “ya Allah kenapa harus begini kenapa harus aku yang menjalaninya apa yang harus aku pilih aku tidak boleh berpaling dari guruku aku juga tidak bisa membohongi perasaanku tunjukkan jalan padaku ya Allah ……
Meski sampai saat itu Abdullah belum bertemu dengan mbak aini tapi rasanya sudah bertahun-tahun kenal. Abdullah berfikir dan terus berfikir apa yang harus ia ambil sikap harus ada kejelasan agar hidup tidak hampa, hidup ini butuh kepastian bukan ketergantungan, sesuatu yang tidak jelas melalui berbagai pertimbangan abdullah putuskan apa yang di dawuhkan gurunya..
Ia yakin guru lebih tahu, guru adalah perantara (wasilah) pada Allah..
Malamnya Abdullah menulis semua perjalanan selama komunikasi dan menjalin hubungan dengan mbak aini, mulai rasa simpati sampai cinta sampai rasa sayang hingga keputusan yang di ambil melalui gurunya….
Abdullah selalu minta maaf dan berharap semoga ia ikhlas menerima kenyataan, begitu juga mbak aini semoga bisa ikhlas, kebetulan ternyata hasil istikhoroh ayah mbak aini juga kurang baik.
Jadi istikhoroh Abdullah, gurunya, ayah mbak aini hasilnya sama, yaitu cukup di situ perjalanan cintanya.


demikian isi tulisan yang ditulis Abdullah untuk mbak aini
Teruntuk :
Mbak yang sholihah
Assalamualaikum WR WB
To the point..
Mbak Aini…perjalanan yang kita tempuh ini amat singkat, perkenalan kita singkat, komunikasi kita juga singkat, tapi waktu yang singkat itu terasa amat berarti pada kehidupanku pribadi.
Berawal dari pertemanan berubah menjadi persahabatan bergeser pada pengaguman dan akhirnya percintaan semua terasa indah bagiku. Banyak hal yang dapat aku ambil pelajaran, Aku menjadi tahu sosok dan karakter wanita, aku jadi mengerti arti cinta, serta arti kehidupan yang penuh liku namun asyik ini, aku bersyukur kepada Allah dengan dipertemukan pada mbak meski hanya sebatas sahabat…ya…sebatas sahabat. Perasaan yang berkembang dalam hati ini, berawal bukan pengaruh fisik dan status sosial, ini murni perasaan hati yang tulus.
Awalnya aku sangat yakin mbak Aini adalah jodoh aku karena banyak persamaan diantara kita berdua, dan aku bisa kenal mbak dengan ajaib tanpa kenal orangnya langsung tapi aneh bisa muncul perasaan, sungguh realitas kehidupanku yang sulit aku lupakan keindahan saat kita komunikasi terasa indah diingat, tapi juga sakit dihati, ya…inilah hidup penuh warna dan misteri semua tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, hanya Allah yang tahu…
Berat rasanya aku katakana,tapi ini mungkin yang terbaik untuk kita, istikhorohku menghasilkan sesuatu yang tidak aku inginkan..guruku juga sama, mungkin istikhoroh mbak aini sama…
Maka dengan amat sangat berat kita sampai disini saja, kita sebagai sahabat saja, atau saudara fillah,bagaikan kakak beradik…
Aku putuskan ini karena aku percaya guru, meski harus mengorbankan perasaan sendiri yang sangat sayang pada mbak aini, hidupku sekarang terasa lebih indah dalam kegelisahan dan kesedihan, semakin aku cemas dan gelisah disitu aku merasakan betapa indah hidupku ini, aku bisa menikmati cinta, menikmati duka, menikmati sakit, menikmati senyuman, serta menikmati tetesan air mata...
Saat aku harap-harap cemas aku temukan pesona hidup, saat itu aku temukan kesadaranku bahwa aku benar-benar lemah, tidak pernah bisa apa-apa, hati ini terasa lebih dekat pada kuasa Allah….
Ratapan tangisan do’a di malam hari terasa nikmat dan begitu indah. Aku benar-benar telah menemukan kehidupanku yang baru yang penuh makna ini. Terimakasih….itu berkat kehadiran mbak dalam hidupku..kesadaranku mulai terbuka, sadar tentang perasaan, tentang harapan, tentang kecemasan. Semoga percintaan ini ditulis dan ramai dibicarakan di alam malakut sana…dicatat Hubbun Fillah (cinta karena Allah )
Alfaqir yang butuh kasih Allah


( Abdullah )
Sore itu di kamar yang sempit, udara terasa panas, suara ricuh anak-anak kecil di luar membuat hati Abdullah semakin ingin menjerit tidak terima dengan kenyataan yang sedang ia hadapi. Ia duduk menyandar pada tembok berwarna hijau sesekali ia baca YA ALLAh..ASTAGHFIRULLAH…cuaca sedikit mendung matahari mendekati surup, Abdullah berdiri tetap sedih, tidur, duduk, tetap sedih, dunia seperti ruang sempit yang kosong tanpa penghuni. Ia lihat sederet buku dan kitab agama, ingin rasanya memeluk kitab dan membacanya, namun hati terasa gundah konsentrasi mencabang kearah yang tidak jelas, dari arah almari terdengar suara panggilan telpon, saat itu ia berharap telpon dari mbak Aini yang akan mengatakan rasa sayangnya, ia angkat terdengar suara laki-laki yang ia sudah kenali ia menyapa “o kamu Anton..gimana kabarnya dan ada apa?” Anton menjawab ”baik alhamdulillah..gini Abdullah, tadi ibu saya bilang bahwa ibu kamu melakukan kesalahan seperti dulu lagi, dulu kamu sudah bilang katanya mau mengingatkan ibu kamu sekarang saya tagih janjimu, kemarin saya sudah telpon pak kapolsek untuk melaporkan kasus ini”. Informasi yang tidak terbayangkan itu membuat pikiran Abdullah tambah lebih jauh melayang, ia membayangkan dan teringat sang ibu yang ia yakini wanita tangguh dalam hidup, ia tidak bisa membayangkan betapa nanti kalau sang ibu yang sudah tua diseret ke pengadilan ,air mata Abdullah menetes begitu hebat ia semakin sedih dan sedih, ia berkata “nanti aku tak konfirmasi sama rumah dulu ya tentang kebenaranya”
Abdullah menelepon rumah, menceritakan tentang apa yang ia dengar dari Anton. Ia tanya tentang kebenaran berita itu, sang ibu bilang “nak….ibu tidak melakukan apa-apa ibu terus difitnah mereka, hatinya memang agak kotor jadi main menang sendiri, percaya sama ibu ya..ibu nggak salah dan kamu jangan bersedih, semua akan baik-baik saja” “ya bu….”jawab Abdullah, betapa sedihnya hati Abdullah saat itu, masalah yang sedang ia hadapi dengan perasaan hati belum tuntas, masalah besar lain muncul lagi, ia tidak bisa apa-apa hanya minta tolong dan berdoa pada Allah, ia serahkan segala urusan yang menimpanya, sebagai bentuk ikhtiyar ia melakukan lobi-lobi dan meminta pengertian Anton serta ibunya, Abdullah minta maaf, jika sang ibu benar-benar salah, Abdullah lakukan apa yang Abdullah mampu, saat malam Abdullah mohon pada Allah supaya masalah yang ia hadapi terasa mudah dan dapat mengambil hikmahnya,
Abdullah berusaha menikmati semua rasa hidup yang ia alami, baginya hidup terasa lebih indah dalam kesedihan, kecemasan, kehawatiran dan dalam kecintaan, namun Abdullah tetap manusia lemah yang bisa menangis saat tiba rasa sedih, tak jarang ia teteskan air mata kesedihan, ia terkadang meratapi ketentuan hidupnya yang agak terasa berat, efeknya ia jadi kurang tertarik makan makanan, terkadang dalam satu hari tidak makan ia selalu terbayang dua masalah yang sedang ia hadapi, tentang parasaan, tentang ibu yang sangat ia cintai, Berhari-hari Abdullah terasa amat sedih, tidur kurang nyenyak, interaksi terbatas,seakan semua menjadi salah.
Seperti malam-malam biasanya ia bangun untuk meminta pertolongan Allah lewat sholat malam, baca Al-Quran, dzikir dan lain-lain, saat itu ia terasa ingin muntah, ia keluarkan dahak, betapa terkejut dan kagetnya ketika ia melihat sesuatu yang keluar dahak bercampur darah, ia belalakkan mata tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia dahak lagi keluar darah lagi sampai berulang kali, ia semakin cemas seakan usianya tinggal beberapa detik saja, ia menyandar ditembok kamarnya ia keluarkan kata kata ”ya Allah…aku sudah rela jika harus kembali padaMu, semua yang aku miliki adalah milikMu, tapi aku mohon izinkan aku menyesali semua dosa yang pernah aku lakukan dan ampuni hambaMu ini”
Ia paksakan ke kamar mandi dan melakukan ibadah seperti biasanya. Keesokan harinya ia berobat kedokter, ia konsultasikan apa sakitnya, yang ia bayangkan TBCnya kambuh karena ia sudah dua kali masuk rumah sakit karena sakit itu, kasusnya juga sama yaitu muntah darah, kata dokter “diperiksa dulu ya sebelum memastikan jenis penyakitnya” sehabis itu ia beli ramuan tradisional dan ia minum, malamnya kejadian itu terulang kembali ia keluar darah lagi, didorong rasa kehawatiran ia minta tolong sama teman-teman untuk periksa di salah satu rumah sakit, saat itu ia sudah membayangkan ia akan masuk di RS lagi, ia bawa beberapa baju untuk persiapan, saat itu ia sempat memberi tahu pada mbak Aini tentang sakitnya, cemas dan khawatir yang mbak Aini rasakan.
Dengan diantar beberapa teman ia menuju RS. Sekitar pukul 11 malam, sesampai di RS ia ceritakan semuanya pada dokter jaga,
Setelah semuanya diceritakan pada dokter yang berjaga, ia dianjurkan untuk dilihat di ruang Radiologi untuk mengetahui apakah positif dari paru atau ada gejala lain, sekitar 15 menit ia menjalani perawatan di ruang Radiologi ia disuruh keluar ruangan untuk menunggu hasilnya, sambil ditemani 2 orang temanya, Abdullah menunggu di ruang tunggu, dokter keluar dan mengatakan bahwa darah yang keluar bukan dari paru, lalu ia disuruh menuju ruang dokter umum, ia dikasih tahu bahwa sakitnnya bukan TBC, oleh dokter dianjurkan untuk tidak rawat inap cukup rawat jalan saja, Alhamdulillah dan ungkapan terima kasih pada Allah berulang-ulang ia ucapkan, akhirnya ia kembali bersama teman-teman yang mengantar.

Dua hari berikutnya, Abdullah mencoba ke RS lain, ia lakukan itu karena dari hasil dokter pertama tidak menyebutkan kepastian penyakit apa yang ia derita, setelah cek darah, photo dalam, baru diketahui bahwa ia infeksi lambung, syukurlah.
Disaat ia sedang sakit itu Anton telpon lagi, dengan nada marah ia bilang “lo ini gimana dan maumu apa, kamu sms dan bilang kamu ingin melanjutkan kasus ibumu ke pengadilan dan bilang mau mengadu siapa yang paling hebat, nggak apa-apa mari diteruskan ”Abdullah menjawab “ ada apa ini kok marah-marah saya tidak pernah sms seperti itu, ntar tak tanya dulu sama keluarga ”bergegas ia telpon rumah dan semua bilang tidak ada yang sms seperti itu, Abdullah sadar bahwa ia dan keluarga sedang difitnah pihak ke-3 yang sengaja memperkeruh suasana, ia memberi pengertian pada anton dan alhamdulillah si Anton sadar, dengan berbagai rasa yang ia alami saat itu, ia sempatkan tulis surat untuk mbak Aini



surat untuk Mbak Aini
Untuk : Mbak Aini
Yang baik hati
Assalamu’alaikum…
Bismillah, Alhamdulillah, sholawat serta salam teruntuk Rasulullah Muhammad SAW…
Mbak Aini…………….
Kita hidup hanya untuk meraih bahagia..oleh Allah diberi media yaitu mendekat pada Allah (Ibadah).
Ibadah sangat luas maknanya..
Hari-hari yang kita alami meski sangat singkat tiada lagi hanya untuk ibadah..
Melalui perasaan kasih sayang antara kita berdua, aku tidak melihat Mbak Aini dari aspek gender (wanita) aspek lingkungan (komunitas bukan pesantren) aspek sosial (materi, status sosial), tapi aku menyukai mbak Aini karena faktor agama (sikap / akhlak yang baik, pemikiran islami), dan Alhamdulillah, berangkat dari niat yang tulus aku temukan arti kehidupan. Aku mulai sadar, aku tidak boleh lagi menduakan perempuan dan berusaha memposisikan perempuan sebagai pilar agama yang kokoh.
Aku tertarik dengan mbak aini yang sempat memberikan statemen tentang daya intelektual seseorang. Saat itu mbak bilang
“aku menguasai bahasa inggris ini bukan berarti aku orang yang unggul dan hebat. Karena kebetulan aku berada di ranah ini, wajarkan jika konsumsi tiap harinya bahasa sehingga aku bisa, mungkin sama dengan mas Abdullah ..mas bisa faham agama, karena kebetulan mas berada di lingkungan yang sangat mendukung..
Tidak berlebihan jika aku anggap sebenarnya dalam dunia ini nggak ada yang lebih tinggi, aspek kebetulan dan keberuntungan saja yang menyebabkan seseorang kelihatan tinggi. Jujur, aku tertarik dengan itu, karena aku kira jika seseorang mau berpikir yang demikian, ia tidak akan mengagungkan dirinya sendiri dan menganggap orang lain rendah. Aku juga tertarik dengan pandangan mbak tentang rizqi, jodoh, dll. Berangkat dari rasa simpati itu, aku berani mengungkapkan rasa cinta, tapi cinta fillah bukan karena nafsu.
Awalnya aku optimis dengan hubungan yang kita bangun, aku berusaha memupuk perasaan itu, namun rasa demi rasa terkikis oleh faktor eksternal yang kita sendiri sebenarnya juga sadar tentang itu. Yahh..cinta memang tak harus memiliki, semoga perasaan demi perasaan ini tercatat amal sholeh.

Tentang kehidupan mbak aini yang mungkin tidak sama dengan lingkunan hidup aku, aku tidak mempermasalahkan itu, justru aku memberi apresiasi yang tinggi serta dukungan yang besar selama mbak merasa nyaman, tidak menganggu ibadah, justru kualitas ibadah mbak semakin berbobot. Aku pikir dunia penuh warna, ada pedagang, ada petani, santri, mahasiswa, pengamen, pemulung, pengemis, pejabat, dan lain-lain. Jika kita berada di salah satu tempat itu kita tidak diperkenankan menganggap jelek dengan memandang negatif pada yang bukan komunitas kita,jika tidak ada petani siapa yang akan menanam biji-bijian sementara keberadaanya sangat dibutuhkan oleh umat,kalau semua mengaji lantas siapa yang mengurus perekonomian padahal dalam belajar membutuhkan itu,kalau tidak ada pejabat siapa yang menangani dan bertanggung jawab atas keamanan,perekonomian,kesejahteraan umat,hubungan bilateral kepada Negara-negara lain,padahal salah satu tujuan Allah menciptakan bangsa-bangsa adalah untuk mengenal satu sama lain dan untuk perdamaian bukan permusuhan, semuanya adalah ciptaan Allah, tidak untuk dihindari, tapi untuk ditangani sesuai ajaran agama yang suci, teruslah berjuang…Allah selalu bersama mbak Aini, dimapun dan kapanpun pasti ada cobaan yang harus dihadapi untuk menambah kualitas keimanan kita, katakan pada dunia bahwa islam itu rahmata li al alamiina yaitu sebagai agama kedamaian, kasih akung, dan memberi kedamaian, bukan permusuhan dan saling mengklaim saling benar.
O ya…. mbak Aini pernah bilang katanya ada yang agak usil terhadap mbak,ni’mati aja mbak, biasa perempuan cantik dan pintar siapa yang tidak tertarik,jangan lihat aspek menggodanya, belum tentu niatnya jelek, jika mbak hanya melihat jeleknya mbak akan berperasngka jelek terus dan itu akan menimbulkan kebencian dan kebencian akan menimbulkan permusuhan,permusuhan akan menyebabkan kegelisahan dan membatasi langkah hidup,susah lo mbak kalau hidup terasa terbatasi dengan sesuatu yang tidak jelas,ketemu orang yang kita benci aja menghindar-menghidar padahal saat itu ada yang perlu diselesaikan,terus siapa yang rugi,kita sendiri kan,yakin saja jika semua itu progam Allah untuk menguji keimanan mbak,jangan kalah mbak nanti nilai iman mbak “C”lo, kalau bisa “A” jangan benci orang nggeh…termasuk pada aku,
Cukuplah perasaan ini aku simpan dalam lubuk hati yang paling dalam, aku mencoba untuk ikhlas apapun yang terjadi, aku mohon sekali lagi, buka hati mbak untuk menerima sosok yang lebih ideal, lebih alim, lebih sabar dan lebih akung dari aku. Semoga mbak temukan arti kebahagiaan hidup bersama orang yang mencintai dan dicintai, nostalgia ini anggap saja permainan hidup karena kita tidak boleh berlarut untuk menyesali sesuatu, karena hidup tidak untuk satu pilihan, benar kan mbak ? kalau mbak berkenan mengingat aku cukup kenang dalam khayalan (bukan maksud membuat mbak berkhayal), Abdullah yang seperti Abdullah hanya ada satu yaitu Muhammad Abdullah yang lebih baik dan lebih sholeh masih jutaan. Aku yakin mbak akan temukan salah satu dari mereka, selamat ya mbak….
Aku beranikan tulis ini, karena aku pikir peluang kita untuk bersama sangat kecil meski ada celah karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Seperti kata mbak kita tidak boleh berpangku dan menggantungkan hidup dalam celah yang kecil itu. Kita mencoba untuk ikhlas dan ikhlas meski tidak mudah dan butuh proses. Mbak kan juga pernah bilang “Jika cinta tak bisa disatukan, cukup sisipkan sdia dalam do’a dan saling mempelajari kebaikan, jika kepedihan menguasai angan, cukuplah diam dan sisakan ruang untuk harapan keajaiban, andaipun retaknya hati terasa tak terobati, cukup nikmati tangis dan biarkan udara menafsirkan sepi. Jika perih seakan abadi, ingatlah jika semua pasti kembali ke tempat ia semestinya kembali”
Terakhir, yang baik dari aku ambil, dan yang jelek buang jauh, istiqomah baca Al-Qur’an nggeh meski hanya beberapa ayat, dan jangan lupa sholat malam meminta agar menjadi hamba yang sholihah. Akhirnya cukup sampai disini dari aku,tentunya banyak salah dalam bersikap dan bertutur kata,kesempurnaan hanya milik Allah,terlepas dari salah dan hilap hanya milik rosul,tidak akan salah dan lupa jika tidak manusia,aku mohon maaf dan mohon pengertianya serta bantuanya untuk lebih mengenal tuhan aku, karena terkadang jalan menuju itu lewat orang lain yang sebenarnya untuk kita,dan semacam itu sudah menjadi kebiasaan allah,manusia mempunyai akal sebenarnya untuk berfikir tentang rahasia-rahasia alam terlebih pada Sirrullah,terima kasih tak terhinggga.
Hamba yang hina


Abdullah












Hati tetaplah hati yang sulit diartikan,perasaan yang ada di dalamnya dapat mengubah segalanya dengan begitu mudah,komitmen yang dibangun sebelumya terasa ringan untuk dilanggar.Abdullah merasakan hal itu, semakin berjalanya waktu justru rasa rindu semakin kuat, begitu juga yang dirasakan mbak Aini, keduanya justru semakin inten dalam berkomunikasi,mereka saling rindu juga menghawatirkan dan mencemaskan mereka terbayangkan lagi saat-saat indah yang barusan berlalu,Abdullah merasa berada di dalam dua pilihan yang sama-sama berat,hatinya ingin melangkah lagi sementara di satu sisi dawuh yai selalu membayangi batinya,ia tidak mungkin melanggar guru,di samping itu ayah mbak Aini kurang merestui karena hasil istikhoroh yang kurang baik,ia benar-benar dalam situasi yang sangat sulit,bayangan mbak Aini datang sewaktu-waktu,ia berharap akan datangnya keajaiban,hari-hari penuh dengan kecemasan,seakan ia berada dalam penantian yang tidak pasti.
Dalam keadaan yang sulit itu Abdullah menemukan solusi meski terasa amat berat dan terpaksa,ia bilang pada mbak Aini untuk memperkenalkan teman yang diyakini Abdullah orang sholih harapanya mbak bersedia membuka hatinya untuk menerima hati lain,Abdullah terpaksa lakukan itu karena ia tidak lagi tahan berlarut dalam satu harapan yang tidak pasti,berbagai upaya ia lakukan untuk menemukan keduanya,oleh mbak Aini ia bersedia menjalin komunikasi lewat dunia maya dulu melalui face book,Email.Abdullah mengirim alamat face book mbak Aini pada tamanya,serta alamat face book teman pada mbak Aini.
Suatu malam mbak Aini telpon Abdullah
” mas Abdullah aku kayaknya kok nggak sreg sama teman kamu itu,kemarin saya buka face booknya,dari tulisan-tulisanya aku kok tidak tertarik,maaf menurutku itu agak arogan,intinya aku ragu untuk melangkah”Abdullah menanggapi”itu kan perasaan mbak,kenyataan itu nggak sejelek yang dirisaukan lo mbak...jangan negatif thingkink dulu geh..dia itu baik lo aku udah kenal dia”nggak tau, aku menangkap dia itu laki-laki yang agak egois dan keras,dia lebih memandang perempuan dari aspek gender saja tidak melihatnya sebagai manusia utuh”imbuh mbak Aini”coba dulu lah mbak,mbak kan belum tau setuhune dia”
Kebimbangan mbak Aini untuk menjalin hubungan dengan teman Abdullah semakin kuat saat salah satu ustadz mbak aini bilang”mbak sebenarnya kalau mau berusaha dengan mas Abdullah masih ada jalan,keputusan-keputusan kemarin itukan yang membuat manusia belum tentu benar” berangkat dari situ mbak Aini minta pendapat Abdullah untuk mencoba satu kali lagi,Abdullah sebenarnya senang dengan usaha itu siapa tahu ada jalan,namun Abdullah jauh berpikir,ia membayangkan dan selalu teringat kata guru yang tidak merestui hubungan itu,Abdullah sedih saat harus menjawab apa,dengan penuh pertimbangan ia memutuskan untuk tidak berani melangkah meski bertentangan dengan perasaanya sendiri,ia yakin ridzo guru adalah jalan menuju ridzo allah begitu juga murka guru akan dibarengi dengan murka Allah,disamping itu saat ia dan ayah mbak Aini istikhoroh minta pilihan Allah,Allah memilihkan dengan pilihan yang diberikan lewat kurangnya kemantapan untuk terus melangkah,
Inilah surat mbak Aini yang ia kirim untuk Abdullah






For mas Abdullah
Assalamu’alaikum

Banyak hal tak terkatakan dan tak terjangkau akal terjadi di sekitar kita. Tapi dari sekian keajaiban yang Allah turunkan di dunia adalah cinta. Bahkan banyak orang hebat di dunia ini yang jatuh atau hampir hancur karena cinta. Napoleon yang gagah berani itu hancur dan jadi pecundang karena cinta pada istrinya yang tertolak, Rosullullah pernah begitu marah hingga Allah sendiri yang harus meredakan amarahnya saat sang paman yang sangat dia cintai Hamzah dibunuh dengan keji, cinta juga yang mampu menguatkan Rosul saat beliau ditekan dan dianiaya kaum quraisy. Cinta dari istrinya yang setia siti Khodijah yang mendukung tanpa batas dan keraguan, serta cinta Rosul pada Tuhannya. Cinta itu satu kekuatan yang sangat dahsyat jika kita mampu memahaminya, dia bisa menimbulkan kebaikan yang sangat besar tapi juga bisa menjadi malapetaka yang hebat jika tidak mampu mengendalikan atau salah mengekspesikannya.

Ketika Mas Abdullah katakan Cinta Mas Abdullah Fillah, aku sangat terharu sekaligus cemas. Ketika seseorang sudah berani berkata seperti itu berarti segala hal yang dia lakukan harus fillah dan rela dengan apapun ketentuan dari Allah sang pemilik Cinta sejati. Dan kerelaan akan berakhirnya kisah ini juga menjadi salah satu pembuktian cinta Fillah milik mas Abdullah.
Mas Abdullah yang sholeh..
Mungkin sudah sering aku dengar ungkapan cinta dari laki-laki, tapi setiap kali kata itu muncul selalu ada keraguan yang kuat di hati. Mungkin saja mereka tertarik padaku karena kesilauan sesaat. Silau melihat atribut dunia yang kebetulan menempel padaku.Apapun itu termasuk prestasi, atau hal-hal yang kebetulan Allah titipkan padaku sehingga orang memandangnya sebagai kelebihan. Padahal jauh dilubuk hatiku aku meyakini jika nilai seseorang tidak dari situ, aku hanyalah perempuan dan manusia biasa yang tidak ingin kesepian dan menangis jika terluka serta tertawa saat bahagia, aku cuma kebetulan diberi kesempatan melewati peristiwa hebat dalam hidup.

Sangat berbeda dengan yang terjadi di kisah ini, kita mulai saling mengagumi dan mendefinisikan ini sebagai cinta meski kita tidak pernah tahu apa yang tampak dan perjalanan lengkap hidup masing-masing. Kita Cuma saling mengagumi apa yang ada di hati masing-masing. Subhanallah,inilah salah satu bentuk keajaiban itu. Mudah sekali bagi Allah menyisipkan sesuatu di hati kita.

Aku seperti terlempar ke ruang hampa saat mengetahui hasil Istikharoh orang tuaku, seperti ada yang dicabut paksa dari dadaku hingga terasa nyeri dan perih. Karena itu sebenarnya aku sudah siap dengan kemungkinan terburuk saat mas Abdullah ikhtiar dan meminta pendapat dari guru Mas Abdullah. Dan memang ternyata hasilnya sama.KITA TERLARANG!
Saat itu tak terkira air mata yang tumpah, sesaat muncul rasa marah dan tidak terima pada kenyataan. Meski hal ini tidak terjadi satu kali dalam hidupku, tapi kali ini sungguh memberiku hantaman telak hingga aku limbung dan punya pikiran untuk berhenti berdo’a. Astaghfirullah, ampuni hambamu ya Allah.
Pada saat limbung itu, seorang guru menasehatiku dan memberi perumpamaan. Beliau bilang, “Kalian berdua sama-sama baik, cuma mungkin Allah menghendaki kalian berdua berjuang dan berada pada situasi dan tempat yang berbeda. Ketika dipaksakan bersama takut malah tidak membawa kebaikan. Seumpama sabun dan gula, sabun bagus karena wangi dan membersihkan dan gula juga bagus karena memberi rasa manis. Tapi bayangkan jika 2 hal tersebut di campur?”.
Kalimat itu menyentakku.
Astaghfirullah ... betapa bodohnya aku sempat meragukan hikmah skenario tuhanku.
” God is a DJ, LIFE IS A DANCE FLOOR, LOVE IS THE RYTHEM, YOU ARE THE MUSIC...”(God is a DJ by PINK)


Mas Abdullah yang baik
Perjalananku selama ini sungguh penuh liku dan kehilangan, aku sudah belajar merelakan begitu banyak hal hingga aku merasa tak menginginkan apa-apa lagi selain khusnul khotimah. Karena itu saat tiba-tiba kita dipertemukan dalam skenario ini, aku sudah merasa ge-er dan berfikir jika mungkin Mas Abdullah adalah hadiah yang Allah kirimkan setelah sekian luka yang harus kulalui. Tapi ternyata aku salah, Mas Abdullah ternyata adalah salah satu episode untukku belajar lagi mengenai arti kehilangan dan keikhlasan.






Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu..

Cinta yang akarnya begitu kuat menancap dan tumbuh dengan cepat hingga mencengkram hati dan akalku. Selama ini aku adalah orang yang rasional, tapi masalah ini membuatku tak bisa berfikir dan menemukan jawaban atas kegundahan yang merajai waktuku.
Mengenai pilihan hidup yang aku buat, aku sadar jika itu akan penuh resiko. Ketika aku berkata dan berdo’a jika aku ingin menjadi manusia yang berguna, yang bisa memberi manfaat buat siapa saja, aku tidak berfikir jika ternyata hal itu butuh banyak pengorbanan termasuk keinginan pribadi.
Tapi aku bahagia, sebagai aktivis yang memang selalu berhadapan dengan masalah di masyarakat dan menghabiskan banyak waktu di luar, tidak jarang pandangan miring dan halangan datang dari orang-orang di sekitarku. Aku tidak peduli, karena semua ini bukan untuk menyenangkan manusia tapi ini adalah salah satu usaha untukku meraih ridhoNya. Aku percaya, tuhan tidak hanya ada di masjid-masjid dan tempat suci yang bersih menurut pandangan manusia.

Tuhan juga ada di tempat-tempat kumuh dan tangis anak-anak jalan yang terlantar dan ingin mengenal tuhannya. Disitulah aku memilih tempatku. Mencoba mengenalkan kebesaran Allah kepada mereka yang terlahir di tengah-tengah lingkungan yang penuh kejahatan dan sering dilihat sebagai sampah masyarakat. Lingkungan dimana mulai lahir mereka diajarkan untuk mencuri, mengemis, diajar dengan pukulan, bentakan, dan tendangan, dan hukum rimba dimana yang kuat yang menang serta prostitusi ibu mereka sendiri.
Mereka tidak pernah meminta dilahirkan dari rahim pelacur atau memiliki ayah seorang preman atau pengemis, lalu siapa kita yang berani menghakimi jika mereka bersalah?.Aku dan teman-teman seperjuangan ini percaya, jika mereka punya hak untuk mendapat kesempatan yang sama dengan anak-anak yang lain. Mereka berhak mendapat pendidikan, bermain, menyalurkan bakat dan kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik dari orang tua mereka. Mungkin kehadiran mereka di dunia adalah media untuk beribadah dan contoh agar kita selalu merasa bersyukur tidak diciptakan seperti mereka. Sungguh Allah maha memberi hikmah jika kita mau berfikir.

Banyak orang bilang mereka peduli dan kasihan, tapi tidak banyak yang benar-benar berani meluangkan sedikit waktu dalam hidup dan sedikit kebaikan yang Allah berikan pada mereka untuk dibagikan pada sesama. Aku tidak ingin menjadi yang seperti itu.
Mas Abdullah yang tercinta..

Cinta yang sesungguhnya bukanlah saat kita begitu ingin memiliki orang yang kita cintai, tapi cinta yang sesunggguhnya adalah kebahagiaan yang kita rasakan, jika orang yang kita cintai itu mendapat kebaikan dan kebahagiaan. Dan mungkin kebahagiaan dan kebaikaan untuk Mas Abdullah dari Allah adalah tidak bersamaku. (kalimat ini begitu ringan saat kuucapkan tapi sangat menguras air mata dan emosi saat harus dilaksanakan)

Menyesal dan kecewa....itulah yang aku rasakan saat teringat kata-kata Mas Abdullah sendiri padaku. Mas Abdullah pernah bilang, jika bukan jodoh pasti ada saja hal yang menghalangi. Tapi jika jodoh pasti ada saja jalan meski itu kecil dan sulit. Kalimat itu tiba-tiba terngiang saat ustadz yang aku mintai nasehat mengatakan jika masih ada jalan jika kita mau berikhtiar lagi. Sesaat mencuat lagi harapan dan kebimbangan yang mengusik rasa ikhlas dan kerelaan yang kubangun di hati. Rasa kecewa itu muncul saat aku ungkapkan kemungkinan itu ke Mas Abdullah, ternyata tanggapan Mas Abdullah sama sekali berbeda dengan yang aku pikirkan. Kupikir karena Mas Abdullah pernah berkata seperti itu, maka Mas Abdullah pun akan sama seperti aku akan mencoba ini sebagai ikhtiar terakhir. Tapi ternyata tidak...tekad kuat dan keinginanku untuk memperjuangkan kisah ini sampai titik terakhir ternyata tidak Mas Abdullah miliki.


Mas Abdullah bilang jika saat ini hati Mas Abdullah sudah mantap ingin lebih fokus pada masa depan, dengan kuliah dan hafalan Al Qur’an serta sejuta cita-cita Mas Abdullah. Aku sedih, padahal kan meski kita bersama akupun akan mendukung semua itu. Ataukah memang bagi Mas Abdullah kehadiran kisah ini dan aku dalam hidup Mas Abdullah akan menghambat Mas Abdullah dalam meraih cita-cita tersebut?
Maaf jika kata-kata ini terkesan egois dan emosional, masalah ini benar-benar mengacaukan pikiran dan hatiku.Mohon pengertiannya.
Tapi semua itu memang hak Mas Abdullah, Mas Abdullah memang punya masa depan yang lebih cerah dan mudah jika belum terikat dengan pernikahan. Aku akan mengerti dan berusaha rela meski agak kecewa. Karena aku cinta, maka kebahagiaan Mas Abdullah adalah kebahagiaanku juga. Tidak apa-apa sesaat aku meneteskan air mata, aku cuma sedikit tergores karena merasa jika inilah saatnya Mas Abdullah benar-benar melepasku sebelum akhirnya benar-benar melupakanku.

Mas Abdullahku tersayang ..(ijinkan aku memanggil seperti ini untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar melepaskanmu)
Saat aku mendapat kabar Mas Abdullah sakit, aku sangat cemas dan bingung, malam itu aku gelisah dan tidak bisa tidur. Aku sangat khawatir tapi tidak mampu berbuat apapun, sampai saat itu aku kepikiran untuk pergi ke RS tempat Mas Abdullah periksa.Tapi aku tahu itu malah akan memperumit keadaan, maka aku Cuma bisa berdo’a.

Meski secara status Mas Abdullah bukan lagi kekasihku, tapi dihatiku yang terdalam Mas Abdullah tetaplah kekasih hatiku. Aku sangat lega saat mendapat kabar jika ternyata Mas Abdullah baik-baik saja. Saat Mas Abdullah mengutarakan jika mungkin sakit ini muncul akibat terlalu banyak pikiran dan termasuk karena masalah kita, aku makin sedih. Aku tidak ingin Mas Abdullah sakit karena aku, aku tidak ingin menjadi sebab orang yang aku cintai mendapat sakit dan beban. Aku selalu ingin jika keberadaanku menjadi kebahagiaan bagi Mas Abdullah.
Jika tidak bisa, ya aku akan berusaha rela jika Mas Abdullah berada di manapun dan bersama dengan siapapun asal Mas Abdullah bahagia.

Intinya aku rela melewati semua rasa sakit, kecewa, rindu, akung, khawatir, dan cinta ini jika ini adalah jalan menuju ridhoNya.
Maafkan jika mungkin kekecewaan yang ku rasakan terkesan egois, tapi tolong pahami perasaan aku sebagai perempuan biasa yang terlanjur percaya dan berharap.

Sepotong Pelangi

Untuk laki-laki yang kucintai….

Jika makna semakin tak menemukan muara
Tak akan lagi ku ikat hatiku pada udara senja
Meski dingin dan senyap menunggu
dalam kepekatan malam
Kesedihan ini takkan membuatku tenggelam
Jika yang kau nanti adalah hidup berarti
Maka kebahagiaan hakiki
hanya saat kita mampu memberi
Menyisipkan do’a dan setitik cahaya
ditempat kau berdiri
Memperkenalkan anggun do’a pada dia yang belum memahami
Disini dihati
Tempat cinta bersenyawa dengan benci
meski kadang emosi memudarkan keindahan diri
tapi itukah saat kita menjadi sangat manusiawi

Tak ada yang sejati
Tak ada yang abadi
Tak juga cinta atau benci
Atau cerita tentang sepotong pelangi...

By Aini






mas Abdullah
Terima kasih, karena dalam perjalanan singkat kita mas Abdullah telah membantuku untuk lebih mencintai dan bagaimana berprasangka pada Tuhanku serta mengingatkan akan tujuan hakiki kita berada di sini. Aku juga mohon maaf dan kerelaannya jika selama kita berkomunikasi banyak hal dari diriku yang menyakiti atau membuat ketidak nyamanan di hati mas Abdullah
Aku sungguh berharap kisah ini membawa kebaikan bagi semua. Semoga keikhlasan ini ternilai ibadah dan terjaga dari segala prasangka yang meracuni makna sucinya.

With love
Hurul Aini
Selang beberapa hari kemudian, Abdullah membalas surat yang Mbak Aini sempat kirimkan. Abdullah menyadari bagaimana perasaanya dan perasaan mbak Aini yang hatinya mungkin sedang gundah.
Inilah surat yang Abdullah kirimkan ke Mbak Aini










Assalamualaikum Wr. Wb

Mbak Aini yang sosoknya saya idolakan
terima kasih yang terdalam buat mbak Aini yang telah berkenan mengutarakan cerahan hatinya yang mbak rasakan selama ini.
tak ada yang abadi…
tak ada yang abadi…
ya…tak ada yang abadi di alam fana’ ini.
Hidup akan selalu ada episode yang terus berkelanjutan, Aku merasa tersanjung saat mbak katakana bahwa mbak cinta dan sayang sama saya, apalagi dengan sederet ungkapan mbak yang memberi kesejukan dalam hati dan pikiran.
Aku memutuskan pada pilihanku untuk lebih fokus untuk menatap masa depan. Bukan karena apa, aku putuskan itu karena peluang kita untuk bersama amat kecil, aku tidak boleh berada dalam harapan yang tidak pasti, itu hanya akan menambah dan menumpuk kesedihan.
Aku tidak bisa emungkiri perasaanku bahwa sampai saat ini mbak Aini masih berada disinggasana hati nuraniku. Aku sebenarnya selalu ingin menyapa mbak aini lewat SMS, telpon. Tapi kupikir itu akan memupuk rasa kesedihan dan ketidakrelaan, karena setiap kali kubaca nama atau sms atau mendengar suara mbak, saya teringat dan membayangkan mbak (bukan membayangkan hal-hal fisik) tapi soal perasaan.
Kemarin malam teman yang kukenalkan pada mbak memberi tahuku, dia bilang “mas Abdullah makasaih ya sudah dikenalkan pada seseorang gadis yang cantik dan baik semoga dia jodohku” ucap tuturnya”. Hati saya sedih mendengar itu, air mata mengalir dengan sendirinya. Siapa sih yang tidak sedih jika orang yang disayanginya akan dimiliki orang lain, ingin rasanya aku menjerit dan berteriak, apalagi mbak juga bilang “o ya mas Abdullah saya sudah mulai kontak dengan teman mas”. Ucapan itu sungguh tidak ingin kudengar, luka hati ini seakan tersayat kembali, dan sebenarnya perasaan tidak rela itu kurasakan saat pertama kali mbak ingin kenalan dengan temanku untuk mencoba menjalin komunikasi, siapa tahu dia jodoh mbak, lisan ini mudah mengucapkan, tapi hati menangis mbak….”
Sebagai manusia aku harus tetap tegar, biarlah semua perasaan dalam hati ini menjadi anugerah terindah dalam hidupku. Hidupku terasa dalam kecemasan dan kesedihan, teruslah mbak dalam menjalin komunikasi pada temanku, siapa tahu dia yang terbaik untuk mbak, laki-laki yang penyabar, penyayang dan pelindung mbak. Tapi satu permohonanku, jika suatu saat nanti dia benar-benar jodoh mbak jangan kabari aku, biarlah aku sendiri di sini menanti keajaiban Allah mengirim hadiah untuk hati yang luka ini. Aku berusaha bahagia jika mbak merasa bahagia, meski itu bukan sesuatu yang mudah, tapi saya akan berusaha ikhlas dan rela dalam semua takdir garis hidupku.
Bukankah Allah sudah berfirman “kalian tidak akan pernah memperoleh suatu kebaikan hingga kalian menafkahkan sebagian dari apa yang kalian cintai”…
Aku hanya berharap jika semua keputusan yang aku ambil diridhoi Allah termasuk merelakan mbak untuk menjalin hubungan dengan temanku. Aku insya Allah akan terus mendukung untuk proses itu…
Ya Allah…
Berikan ketabahan dalam diri mbak Aini
Sisipkan rasa cinta dan bahagia dalam hidupnya
Ridhoi setiap langkah yang ia pilih serta mudahkan jalannya…
Ampuni segala dosa dan khilafnya
Semoga dia bahagia bersama kekasih pujaan hatinya…
Bahagia dunia akhirat..

Tentang masa depan, aku pernah berjanji pada mbak untuk berusaha meraih prestasi yang lebih baik dari sekarang, doakan semoga saya tidak mudah puas terhadap apa yang kuraih selama ini, selagi itu hal positif dan syar’I semoga mbak Aini menjadi spirit serta motivator dalam hidupku. Mengenai perasaan, aku serahkan semua pada yang menciptakanNya. Dia lebih tahu dan lebih mengerti apa dan siapa yang terbaik untukku, untuk mbak Aini juga. Sekarang saatnya aku lepas dari semua urusanku, hanya satu tekadku, tidak boleh berpangku tangan menunggu datangnya takdir, aku harus berusaha menjadi hamba yang baik disayang oleh Tuhan.
Bismillah, tawakkaltu ‘alallah.

(Abdullah)

Waktu terus berputar bagai roda berjalan tanpa henti, dan menelusuri berbagai jalan tanpa pedulikan jalan terjal, seperti itulah perasaan Abdullah, rasa rindu, gelisah, semangat menatap masa depan bercampur sulit dibedakan, ia ingin konsentrasi menatap masa depan dengan penuh semangat berjuang namun selalu terbawa oleh perasaan rindu, saat hati gaduh itu, ia dapat kado dari seorang gadis yang sudah lama ia kenal, setelah ia buka di dalamnya terdapat baju warna putih, snack, dan secarik surat, isi surat itu.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb
Langsung aja!!
Mas bagaimana keadaan mas Abdullah ?? mudah-mudahan dalam keadaan baik dan selalu dalam lindunganNya Amin ya Robbal Alamin.
Mas sebelumnya saya minta maaf kalau semua ini membuat mas kaget dan bertanya. Mas sebenarnya saya ga’ ada niat apa-apa, saya Cuma melaksanakan / nekani salah satu nadzar saya. “kalau saya lulus ujian UAN saya akan memberi baju untuk mas”. Saya berharap, mas menerima semua ini dengan ikhlas. O ya, mas saya minta maaf kalau bajunya kebesaran atau kekecilan, maklum saya kan ga’ tahu ukuran baju mas !!. Dan maaf kalau bajunya ala kadarnya (sederhana). Sekali lagi saya minta maaf.
Mas kalau selama ini saya punya salah ma mas, baik yang disengaja / yang tidak disengaja, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mas mungkin cukup sampai disini, kalu dari awal hingga akhir ada kata-kataku yang kurang berkenan dihati mas atau menyinggung hati mas saya sebagai seorang insan yang tak pernah luput dari salah dan lupa saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
NB :
Mas kalau suatu saat nanti saya ada masalah / butuh bantuan boleh ga’ saya curhat / cerita ma mas, karena saya sangat butuh tempat curhat yang bisa membawa saya dan mengarahkan saya kearah positif (lebih mendekatkan diri pada Allah SWT), dan kalau misalnya saya ada sesuatu yang tidak tahu bolehkah saya bertanya pada bapak ??? Terutama tentang agama.
Thank you very much to all
And I’m sorry to all my wrong
Good luck for you.
“Kita hidup di duni ini bukan untuk mencintai seseorang yang sempurna, melainkan mencintai orang yang tidak sempurna dengan sempurna. Maka… jangan pernah membuat orang yang kita cintai menangis…”

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb


Yang menanti kedatanganmu




Pada suatu hari, perempuan tadi datang dan mengutarakan maksud dan tujuannya, perempuan itu bilang “mas Abdullah boleh tidak aku bicara sama mas?” “boleh, boleh, ada apa ya, “oh ya maksih bajunya yang kemarin semoga menjadi amal jariyah” jawabnya, “jangan marah ya mas, saya dengar-dengar mas sudah tunangan ta, saya hanya ingin tahu saja” ,”kalau sudah kenapa ?” kata Abdullah, ”aduh terlambat deh aku,o…sory-sory mas” imbuh perempuan itu ”lo emangnya ada apa ? “subhanallah, beruntung bagi seorang wanita yang mendapatkan mas, seorang agama dan imannya kuat, kokoh luar biasa. Saya kagum sama mas Abdullah, saya ingin seperti mas, saya ingin seperti mas Abdullah” !!. “maksudnya mau yang seperti apa, saya tidak bisa apa-apa" ?. ujar Abdullah. “mas, mungkin sudah saatnya jujur sama mas Abdullah tentang perasaanku selama ini… jujur dari awal hingga detik ini saya kagum banget sama mas Abdullah, saya gak pernah melihat orang seperti mas Abdullah sebelumnya,. Jujur saya takut kehilangan mas, saya takut mas Abdullah pergi jauh, karena sesungguhnya saya suka sama mas Abdullah, saya sayang sama mas Abdullah. Saya gak tahu apa dan mengapa saya bisa suka sama mas !. tapi itulah kenyataannya, saya gak bisa pungkiri takdir Illahi. Tapi… sekarang terserah mas Abdullah. Mas mau nganggap saya apa, yang penting saya udah jujur sama mas Abdullah tentang perasaan saya yang selama ini saya pendam… dan saya dah tau kalau mas Abdullah dah tunangan, tapi saya tak peduli yang penting saya sayang ma mas Abdullah.” Jawab perempuan. “maafkan saya, kamu sebagai temanku yang baik, disana sudah ada yang menunggu, maafkan saya”. Perempuan itu menjawab, “saya tau dan saya sadar, saya bukan wanita yang sempurna buat mas, saya gak pantas buat mas. Saya gak ada apa-apanya dihadapan mas Abdullah, dan saya tahu banyak perempuan yang jauh lebih sempurna dari saya…Ya Allah… apa saya salah jika saya suka ma mas Abdullah, sayang ma mas Abdullah ? mas kita hidup di dunia ini bukan untuk mencintai orang yang sempurna, tapi mencintai orang yang tidak sempurna dengan sempurna.” Abdullah menanggapi perempuan tadi,” tidak ada dalam perasaan cinta dan sayang, yang salah adalah cinta itu karena hawa nafsu, hidup tidak hanya satu pilihan, laki-laki tidak hanya saya, dan yang baik tidak hanya saya.” Perempuan itu menjawab “tapi saya ingin mas menjadi ayah dari anak-anak saya. Saya ingin mas menjadi pemimpin dikeluarga saya, saya ingin mas menjadi guru pribadi saya dan anak saya, saya ingin mas menjadi pemimpin keluarga saya, (…) (…) saya ingin mas menjadi imam disetiap langkah saya, terutama hati saya. Tapi apakah semua keinginan itu hanya sebatas khyalan belaka ? hanya mimpi indah yang tak kan pernah menjadi nyata ???! sampai kapan semua kan terjawab ???” “yang tahu hanya Allah. Yakinlah masih banyak yang lebih baik dari saya” ujar Abdullah. “maafkan saya mas ! saya gak bermaksud apa-apa, saya Cuma shock aja mendengar semua itu langsung dari mas, saya gak pernah percaya dengan ucapan yang lain tentang itu. Dan sekarang saya dah lega karena perasaan-perasaan yang selama ini saya pendam udah terungkap. Saya bersyukur banget karena Allah telah memberikan dan membuka hati saya untuk mengungkapkan semuanya. Saya ucapkan terima kasih mas udah mau dengerin curahan hati saya yang selama ini menjerit kesakitan. Sekali lagi terima kasih atas semuanya dan maafkan saya.”
Setelah pembicaraan ini, Abdullah baru mengerti bahwa perempuan tadi menyimpan hasrat yang terpendam untuk mencintai Abdullah. Sebenarnya Abdullah sejak dulu sudah curiga Ketika itu perempuan tersebut selalu memberikan perhatian lebih kepadanya,ia berguman”maafkan saya ya,hati saya sudah ada di hatinya dan di hatiku sudah ada orang lain,semoga kamu dapatkan pendamping yang mengerti dan perhatian serta imam yang bijaksana,maafkan saya”

Arti hidup

sulit untuk mengartikan makna hidup sebenarnya, sesuatu yang dianggap tabu (tidak jelas) bisa saja berubah dengan cepat, sesuatu yang dibenci, sesaat berubah menjadi hal yang , yang dianggap baik dan benar bisa berubah menjadi sesuatu yang membosankan dengan sekejap, Abdullah menyadari hidupnya ia tidak larut dalam kegelisahan, kecemasan hidup hanya mengisahkan kepedihan dan membuat hidup seaka-akan berakhir sampai disitu, dunia sekan terlalu sempit. Padahal Allah maha kaya, apapun bisa dilakukan.
Dari kenyataan hidup yang barusan ia alami sementara dapat ia ambil hikmahnya yaitu:
1. Abdullah sadar mungkin inilah cara Allah memberi tahu betapa cinta itu ada, cinta itu perasaan yang dapat berubah sesuatu menjadi indah, apapun bisa terjadi, selama ini Abdullah kurang yakin keberadaan cinta, tak jarang ia bertanya-tanya cinta…cinta…itu apa…..
2. Kondisi alam, realitas hidup dapat berubah sewaktu-waktu, maka jangan terlalu senang saat dapat nikmat, jangan terlau susah saat tertimpa bencana, karena semua badai akan berlalu… berat memang saat pertama kali menerima sesuatu, tapi semua itu adalah cobaan dan akan berakhir.
3. Terkadang Sesuatu yang dicintai tidak harus dimiliki ,cukup hanya dirasakan dan dihirup aroma wanginya saja. Pewangi molto misalnya bukan untuk diminum meski tercium aroma segar. Ia cukup dihirup wanginya saja. Sabun harmoni rasa apel terasa menggoda, justru ketika dimakan menyebabkan kematian … maka sesuatu yang baik dan indah kadang cukup dihirup aromanya saja.
4. Nikmat Allah sangat banyak dan akan selalu berkembang seiring rasa syukur manusia.
5. Kenyataan tidak seberat yang dicemaskan juga tidak seindah yang dibayangkan, maka tidak perlu terlalu merisaukan serta mencemasakan sesuatu yang belum jelas.
6. Realitas yang dilihat kasat mata telihat pahit, sebenarnya mengandung madu yang sangat manis dan menyegarkan. Bukankah didalam jamu yang pahit terdapat kesembuhan, bukankah di dalam tajamnya duri buah durian terdapat kenikmatan yang luar biasa, bukankah di dalam rasa sakit terdapat kenikmatan, mengingat Allah dan saat sembuh… sungguh nikmat hidup ini..
7. orang baik ukurannya bukan tempat dimana ia berada. Ia dianggap baik jika taqwanya kuat, sedangkan taqwa itu abstrak. Orang lain tidak dapat diperkenankan untuk mudah mengklaim jelek atau baik pada orang lain sebelum tahu semestinya..
Komunitas dan lingkungan sekeliling memang sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang, namun itu tidak lantas semuanya seperti itu. Kita tahu siapa yang membuat dunia seperti itu…?
Isi alam bukan hanya lingkungan pesantren, kampus, sekolah, ladang, desa, kota, tapi sangat komplek..
Siapa yang menciptakan semua ini…?
Lantas apakah seseorang yang kebetulan ditaruh Allah di lingkungan yang dianggap lingkungan lain jelek apakah dia berarti jelek…? Apakah agama hanya milik lingkungan sekolah …lingkungan pesantren, tidak kan ?ukuran kebenaran bukan personal tapi secara kolektif,
Semua makhluk berhak menjalankan agama Islam dimanapun mereka berada, mereka juga berhak menjadi orang baik. Semua bumi adalah milik Allah ( Inna al-ardha kullaha lillah ) semuanya sama hanya kadar ketaqwaaan. Jadi seseorang diharapkan melihat obyek jangan hanya dhohirnya/visualnya saja, karena visual kadang menipu.
8. Semua kondisi yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah semuanya perlu disikapi secara obyektif bukan sebjektif sesuai ketentuan hukum Allah.
9. Seseorang akan menjadi dewasa jika dibantu oleh banyaknya mengalami hal dan cobaan hidup, ia akan mudah mengatasi masalah-masalah yang melilit.
10. Hidup sangatlah indah dan mudah bukan sulit sebagaimana yang didiskripsikan kebanyakan orang. Saat sakit, saat sedih, saat senang, saat cinta, saat sendiri, saat tersenyum, saat menangis, semuanya akan terasa indah jika seseorang mau meresapinya karena hidup penuh warna.
Abdullah kini lebih tenang menjalani sisa hidupnya, ia benar-benar menikmati apa yang ia rasakan, hidup baginya lebih bermakna dan lebih terasa indah. Ia sudah lagi tidak terlalu cemas dengan semua apa yang ia hadapi, baginya warna-warni hidup adalah anugerah yang perlu dinikmati dan disyukuri, ada saatnya sendiri ada saatnya bersama, ada saatnya senang ada saatnya gelisah, semua itu tidak terlalu ia cemaskan ia mencoba selalu bersyukur atas semua ketetentuan Allah, setiap tarikan nafas adalah nikmat, setiap langkah kaki, gerak tangan, ungkapan hati, ucapan lisan, semua adalah nikmat sungguh hidup baginya indah.
Perbedaan karakter setiap manusia dan macam-macam latar belakang serta perbedaan komunitas lingkungan hidup, status sosial yang tidak sama adalah pernak-pernik alam yang harus dihadapi dan disyukuri tidak untuk dijauhi dan diingkari, semua itu adalah pilihan Allah. Menurut Abdullah yang terbaik adalah ketika seseorang mampu memposisikan diri dimana ia berada. Allah telah berfirman bahwa termasuk tanda kebesaran Allah adalah Allah menciptakan makhluk dengan berbagai macam perbedaan. Perbedaan fisik, bahasa, suku, kultur dan budaya dan itu semua perlu disikapi tidak dengan pandangan yang sempit.
Suatu ketika Ahmad bincang-bincang pada Abdullah ia menanyakan tentang arti keindahan Abdullah menanggapi “dunia ini tipuan, bagai fatamorgana, menara dan gedung-gedung pencakar langit tampak begitu indah dan megah jika dilihat dari jarak jauh. Saat malam tiba alam terlihat indah dengan pernak-pernik yang ada di dalamnya, namun keindahan itu sirna saat menjelang siang hari. Pegunungan tampak begitu indah dengan pohon-pohon,bunga-bunga,tampak terasa sejuk dengan semilirna angin,tapi siapa tahu di dalamnya terdapat kawah panas yang suatu saat akan meletus,buah kedondong tampak begitu menyegarkan tapi di dalamnya terdapat durian yang berbahaya,Seseorang tampak begitu indah dan sangat baik jika dilihat dari jauh apalagi jika sebelumnya telah didasari rasa simpati, toh padahal kenyataannya tidak seindah yang dibayangkan, semakin orang mengenal yang lain ia akan menemukan siapa sejatinya orang lain itu yang perlu dengan kekurangan. Jika ia hanya membayangkan baiknya saja, maka sangat dikhawatirkan. Saat ia benar-benar mengetahui orang itu ia akan merasa kecewa, kecuali jika orang tersebut berpikir panjang menyadari diri bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna dibalik kelebihannya ada kekurangannya, semakin ia melihat kekurangannya meskipun hanya kecil ia akan menutup semua kebaikan orang itu, yang tampak hanyalah kejelekan begitupun sebaliknya, maka di dalam melihat sesuatu perlu menyikapinya sari berbagai faktor”
Sudah sekitar tiga bulan lingkungan Abdullah tinggal dilanda musibah, banyak teman-temannya terkena penyakit kulit, gatal-gatal, Abdullah terkadang ingin tertawa saat mereka garuk-garuk seperti sedang mengikuti perlombaan termasuk salah satu temannya itu adalah ahmad, ahmad bilang “Abdullah …gimana ini kok gatal semuanya ? aku nggak tahan ini” Abdullah menerangkannya “jangan kamu lihat gatalnya saja yang terkesan negatif, tapi lihatlah rasa enak saat kamu menggaruk, itu benar-benar terasa nikmat coba kalau kamu nggak terkena gatal, kamu nggak akan merasakan itu. Lihatlah semua yang ada di keliling kamu dengan berperasangka baik, saat kamu lihat orang makan dari kaca kamu akan melihat orang itu ia sedang makan dengan memakai tangan kiri, toh padahal kenyataannya tidak, maka pandangan itu terkadang menipu”.
Abdullah memulai harinya dengan mencoba menikmati semua yang ia hadapi. Ia percaya cinta dan rindu setiap tangisan akan disertai dengan senyuman, berlarut dalam kesedihan bukan solusi yang baik, justru hidup akan sempit. Abdullah ingat kata gurunya “Abdullah, manusia tidak perlu susah dan gelisah dalam memikirkan hal yang bukan wilayahnya, rizki dan jodoh adalah wilayah Allah, jadi, manusia tidak berhak memasuki wilayah itu, ikhtiar tetap perlu, tapi bentuk ikhtiar manusia itu relatif dan bersifat subyektif, manusia punya maqom ( derajat ) yang berbeda-beda ada maqom yang hanya berdoa maka bentuk ikhtiarnya hanyalah berdoa dan jika maqomnya adalah kasbun ( bekerja ) maka bentuk ikhtiarnya adalah kerja nyata dunia tidak perlu disikapi dengan gelisah dan yang perlu dipikirkan adalah akhirat.
Kini ia lepas, ia pasrahkan semua apa yang akan terjadi pada dirinya kepada Allah yang maha mengetahui apa yang akan terjadi. Ia yakin Allah akan memberi yang terbaik bagi hambanya yang beriman. Suatu saat nanti Allah akan mengirim jodoh untuknya, jodoh yang dapat menenangkan batin, menyejukkan mata, menambah semangat ibadah yaitu jodoh dunia akhirat.
Ia mencoba lebih giat lagi berdoa di malam hari,giat membaca dan memahami Al-Qur’an, memahami alam dengan mengambil hikmah setiap kejadian, menyebut nama Allah dalam hembusan nafas hidupnya…
Untuk mendapatkan kebahagian, rasa aman, dan ketenangan, kini Abdullah mencoba untuk melakukan hal-hal positif, dan mengambil tindakan yang lebih baik yang mempunyai keutamaan dalam kehidupan. Sekarang Abdullah berusaha untuk menjadi yang lebih utama dengan melakukan apa yang terbaik untuk dirinya, dengan memohon pertolongan kepada Allah dengan cara memperbanyak sujud kepada Allah, berdzikir untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah dalam lautan asmara.
Inilah kisah perjalanan hidup seorang hamba manusia dalam meraih sesuatu yang ia inginkan,tidak mudah untuk meraihya butuh pengorbanan besar yang dihadapkan diantara dua pilihan yang sama-sama berat,jodoh ada di tangan allah,terkadang harus sabar menunggu lama bahkan terkadang harus rela melepas setelah sesaat meraihnya,hidup memang ada dalam sekenario Allah yang maha segalanya manusia hanya mampu berjalan diatas ketentuan takdir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar