Tentang Hidup Saya

Tentang Rizqi, Saya harus berusaha supaya bisa menyantuni anak yatim, dhu'afa', shodaqoh, wakaf, jariyah dengan sebanyak-banyaknya
Tentang ajal, kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan saya, maka saya harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya.
Tentang jodoh, dia pasti yang terbaik untuk saya dan saya juga yang terbaik untuk dia, harapannya saya dan dia sama-sama ikhlas, ridho, syukur, qona'ah, sabar, dan saling pengertian.
Tentang masa depan, saya tidak tahu, saya hanya bisa belajar dari masa lalu dan berusaha menjadi yang lebih baik.
Tentang harapan, saya kurang sabar saya hanya minta kepada Allah tergolong mina al-Shobirin, Al-Mukhlishin, Al-Mahbubin, Al-Mardliyyin, Al-Sholihin.
Tentang orang lain, mereka sebagai obyek pendidikan, jika saya tidak mau dilukai saya harus tidak boleh melukai, saya harus menghargai, tidak merendahkan karena belum tentu saya lebih baik dari mereka.
ALLAHU MA'II, ALLAHU NAADHIRII, ALLAHU SYAAHIDII.

Kamis, 10 Juni 2010

salaf vs kholaf

MUQODDIMAH
Bismillah, Alhamdulillah, Allahumma sholli ala Muhammad. Amma ba’du
Seiring dengan kemajuan manusia dalam berfikir dewasa ini ilmu pengetahuan berkembang secara luar biasa, sains memasuki tahapan yang super baru dan memasuki hampir di seluruh aspek kehidupan masyarakat modern. Sehingga dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu memunculkan berbagai alat teknologi yang canggih yang mengiformasikan banyak realita secara online. Masyarakat dihidangkan pada kenyataan-kenyataan yang dikemas sedemikian rupa dengan gaya dan penyajian yang terbaru serta menarik perhatian.
Tidak terasa para filosof kini telah memasuki ranah yang paling esensial serta krusial. Realita yang dulu terkubur dalam-dalam kini dikuak secara mendalam dan nyaris tidak ditemukan sektor yang tidak tersentuh oleh ilmu pengetahuan ala sekarang. Ideologi yang konon telah baku kini terusik oleh kajian filsafat proses penciptaan alam dan yang terjadi didalamnya menjadi kajian yang santer dibicarakan. Rumus-rumus baru bermunculan seiring adanya penelitian, konsekuensinya menusia yang berfikir berlomba untuk menciptakan model baru. Berbagai dampak dari teknologi baru sngat terasa baik sisi positif maupun negatifnya, saat ini tinggal konsumen apakah mengambil manfaat ataukah mafsadahnya.
Karena pada dasarnya baik dan buruk selalu ada dengan bersamaan, saat Rosulullah mi’roj misalnya beliau disodorkan pada tiga minuman dari arak, susu, dan air putih beliau disuruh untuk memilih salah satu diantara ketiganya, nabi musa pada saat masih kecil beliau di coba oleh fir’aun atas tragedi yang dilakukan musa padanya fir’aun menyodorkan bara dan roti begitu juga fenomena dan realita yang terjadi, hidup adalah pilihan penulis kira semua akan memilih yang baik dan yang menyenangkan siapasih yang ingin sengsara ? yang sulit mungkin adalah bagaimana memilih yang baik itu ? masalahnya adalah semuanya dikemas dengan kemasan yang baik dan menggiurkan dan justru yang baik itu biasanya dikemas dengan kemasan yang tidak baik dan tidak menarik sama sekali nabi pernah bersabda yang artinya kira-kira “ sesungguhnya syurga itu dikelilingi oleh hal yang tidak menyenangkan sedangkan neraka selalu dikelilingi oleh hal yang sangat menarik”.
Sepertinya dampak dari kemajuan teknologi dan industri yang disebabkan oleh nya begitu mengerikan, karena itu islam yang sarat dengan nilai-nilai etis sesuai dengan penegasan dan janjinya sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam sudah saatnya dipadukan dengan kondisi dan lapangan guna merespon realita yang terjadi dimasa ini diharapkan islam mampu menjembatani para konsumen dalam menikmati hidangan yang disajikan oleh teknologi modern, demikian ini bukan berarti islam alergi dengan kemajuan teknologi karena kemajuan teknologi itu semua bersumber dari Allah tuhannya orang muslim namun setidak-tidaknya islam mencoba untuk mengarahkan agar teknologi itu pas dan sesuai dengan kebutuhan positif setiap konsumen.
Demikianlah realita alam, zaman berubah dengan pesat dan ini tidak bisa diingkari dan dipungkiri siapa yang membencinya berarti benci pada Allah karena Dialah yang menciptakan dan merubah alam menjadi seperti ini manusia hanya disuruh untuk memilah dan memilih semuanya digantungkan pada pilihan manusia itu sendiri.
Islam tidak berhenti pada satu waktu saja namun islam akan selalu berada pada setiap waktu.

الا سلام صالح لكل زمان ومكان
Yaitu islam sangat layak pada setiap waktu dan tempat doktrin islam yaitu agama yang sesuai diterapkan dimanapun dan kapanpun karena islam itu sangat unifersal dan fleksibel islam tidak bisa dikatakan agama yang radikal dan asal-asalan, namun demikian islam mempunyai batasan-batasan tertentu sehingga diluar wilayah itu tidak diperbolehkan untuk memasuki ranah itu, benar …..! islam menjadi berkembang dengan pemikiran yang kompeten, namun begitu apapun kapasitas pemikiran manusia sangatlah terbatas sehingga manusia harus saling mengetahui mana yang berada pada wilayah akal dan mana yang berada di wilayah tuhan (revelation) tidak berhak dipaksakan akal untuk memasuki wilayah tuhan karena dipastikan akal tidak akan mampu menjangkaunya dan apabila dipaksakan sudah barang tentu akan menyebabkan hal yang kotra diksi yang sangat eroni akal akan menyimpulkan bahwa relita yang tidak sesuai dengan akal maka diakui tidak ada keberadaannya itulah yan dialami oleh para filosuf rasionalisme seperti deskartes (1596-1650 M), spinoza (1632-1677 M), Leibniz (1646-1716 M) mereka memakai acuan rasio dalam filsafat menurutnya kepastian itu tidak tergantung obyek yang dipelajari karena hal yang didalami bisa berubah sewaktu-waktu jadi menurutnya kebenaran itu belum final dan bersifat subjektif bukan objektif jika ini di ikuti maka sangat fatal akibatnya misalnya jika masing-masing mengklaim benar menurut kapasitas masing-masing maka diastikan tidak akan ada norma yang berlaku. Wacana para kaum rasionalisme kini berubah wajah baru dengan mengatasnamakan liberal yang dalam perjalannya sangat mendewakan kemampuan akal serta menduakan wahyu tuhan, islam bukan berarti menafikan akal karena akal merupakan obyek dari doktrin agama (ak-khitobu at-taklifi hua al-aqlu) sehingga yang tidak mempunyai potensi akal seperti shoby (anak kecil) majnun (orang gila) mughma alaihi (orang yang mabuk ) yang tidak disengaja tidak terkena tuntutan agama. Dan islam juga bukan agama yang ortodok tidak menerima hal dan metode baru karena slogan dalam islam yang diusung oleh kadernya adalah.
Yaitu melestarikan yang klasik yang layak serta memakai metode baru yang lebih layak, jadi tidak benar islam dinyatakan alergi dengan teknologi dan metode modern karena islam meyakini apapun bentuk perubahan itu pada dasarnya bukan disebabkan oleh alam itu sendiri namun telah diskenariokan oleh allah.
Buku kecil ini membicarakan dua pemikiran antara penemuan yang diusung oleh ulama; salaf (klasik) dengan metode yang diusung oleh pemikir sekarang (modern) keduanya melalui pola pikir dan pandangan yang berbeda sehingga memunculkan rumusan yang berbeda pula dan inilah realita alam yang sudah diatur Allah mengenai siapa yang benar hanya Allah yang paling maha benar.
Tulisan ini penulis persembahkan teruntuk kedua orang tua terlebih ibu yang sangat penulis ta’dzimi sayangi penulis banyak terinspirasi dan lebih bergairah untuk terus berprestasi oleh dorongan moril dari beliau penulis kagum dengan perjuangannya yang tampa mangenal waktu dan usia semoga semua bentuk perjuangannya diterima oleh allah dan dijadikan sebagai wasilah untuk menikmati sajian surgaNya








Malang, 29 Mei 2009
Penulis


Nur Aziz












DAFTAR ISI
Kapasitas Akal
A. Devinisi Akal
Sebelum berbicara mengenai kapasitas akal maka perlu menengok lebih awal tentang devinisi akal itu sendiriserta keberadaannya. Syekh ahmad yasin bin asmuni dalam karyanya yang berjudul “al-aqlu wal hawa” beliau menjelaskan secara rinci mengenai pengetian akal, berikut terjemahan dari teksnya “manusia berbeda-beda pendapa ttentang hakikat akal sebagian mengatakan akal adlah satu meacam dari beberapa pegetahuan yang bersifat pasti sebagian lagi berpendapat akal adalah instink, watak atau karakter yang dengannya dapat menangkap berbagai pengetahuan menurut alharits al-mahasiby akal adlah nur atau cahaya ini senada dengan yang dikatakan abu hasan at-tamini”.
Makna yang dapat disimpulkan dari berbagai argument diatas bahwa akal adalah instink dimana instink itu bagaikan cahaya yang ditaruh dalam hati maka cahaya itu telah siap untuk memahami dan menangkap berbagai informasi yang masuk sehingga dapat mengetahui hal-hal yang boleh dari perkara yang jaizdan mengetahui hal-hal yang tak mungkin dari perkara yang muhal serta mampu melihat akibat dari suatu reaksi dari adanya aksi dan cahaya itu sifatnya tidak baku artinya berubah sesuai stimulus (rangsangannya) jika tali cahaya itu menjadi kuat yanga dipengaruhi oleh hal yang positif maka cahaya itu aka mampu mengendalikan dari keinginan nafsu.
B. Keberadaaan Akal
akal merupakan potensi kejiwaan manusia berupa system psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan dan memproduksi item-item informasi dan pengetahuan (ramah kognitif). Jadi sifat akal itu adalah abstrak tidak bisa di indra (sensor). yang menjadi perselisihan dari berbagai pihak adalah tentang keberadaannya, Apakah akal iu berada diotak atau dihati atau ditempat lain. Golongan syafi’iyah (pengikut imam syafi’I ) atas rekomendasi dari imam syafi’I bahwa keberadaan akal itu berada dalam hati (al-qolbu) mereka mengambil hujjah atau dalil al-q1ur’an yang dibuat referensinya yatiu
Surat Al-A’rof Ayat 179
  •                               
Artinya : “Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka
Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.
Berbeda dengan pendapat syekh al-fadl bin ziyad dari Imam Ahmad R.A bahwa akal keberadaannya didalam otak (ad-dimagh) ini senada dengan apa yang disampaikan pengikut imam hanafi. Dalam masalah ini Penulis lebih condong kepada argument yang pertama, untuk lebih jelasnya coba lihat dalam surat al-baqoroh ayat 97 yang berbunyi :

      •            
Artinya : “Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu Telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Ayat ini secara teks (dhohirul ayat) jelas menyebutkan al-qur’an atau wahyu itu ditempatkan dihati yang sebagai tempat berfikir (akal) dimana pengungkaoan semacam ini secara disiplin ilmu ushul disebut majas mursal yang dari من اطلاق المحل واريد به الحا ل yaitu yang diucapkan tempatnya (hati) namun yang dikehendaki adalah barangnya (akal)
Lihat juga surat Muhammad ayat 24
       
Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”.
Dalam Surat An-Nahl Ayat 79 Allah Berfirman ;
             •      
Artiinya : “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.”
Seorang pakar tafsir syekh ibnu katsir mengartikan afidoh yatiu akal yang tempatnya berada didalam hati
فمن يردالله ان يهديه يشرح صدره لاالاسلام

Setelah ayat ini turun nabi ditanya tentang ma’na يشرح صدره
Lalu nabi menjawab :’yaitu cahaya allah yang ditempatkan didalam hati orang mu’min lalu hati itu menjadi lapang dan terbuka" lalu shahabat bertanya lagi :”apakah itu ada tanda-tandanya? “ nabi menjawab :” tandanya yaitu kembali pada Negara yang kekal serta abadi (ibadah untuk akhirat) menjauh dari Negara tipuan (dunia) serta siap-siap mengahadapi kaematian sebelum datangnya ajal (selalu beribadah)”


dan sering kita baca ayat
والله عليم بذا ت الصدور
Artinya : "sesungguhnya allah maha mengetahui pada yang mempunyai beberapa dada (akal)".
Berbagai ayat diatas secara dhohirnya memberi pengertian bahwa akal berada dihati
Harun nasution mengatakan kata aqal dizaman jahiliyah mempunyai arti kecerdasan praktis (practical intellegent) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan maslah (problem solving capacity) seiring berjalannya waktu kata akal masuk dalam dunia filsafat islam, sehingga kata akal menarik untuk dibi carakan mengingat keberadaannya sangat erat kaitannya dengan pencernaan terhadap suatu pemahaman teks agama.
Harun nasution mengutip pendapatnya abu huzail akal adalah “ daya untuk memperoleh pengetahuan dan juga daya yang membuat seseorang dapat membedakan antara dirinya dan benda lain dan diantara benda yang satu dengan yang lainnya.” Menurutnya keberadaan akal bukan lagi didada atau dihati namun dikepala demikian karena fungsi dari akal adalah berfikir sementara berfikir itu berada diotak sedang otak itu berada dikepala
Atau kalau kita mau mengambil jalan tengah kedua-duanya pendapat diatas kalau melalui ijtihad yang sesuai aturan mainnya itu dibenarkan kalau toh ada salahnya tetap saja dapat pahala sebagai mana yang telah di sabdakan beliau Rosulullah, jalan tengahnya adalah kalau berfikir yang kaitannya dengan proses pengetahuan (know lodge) maka fikiran atau akal(mind) itu berada diotak kalau perasaan maka tempatnya ada dihati.



C. PERAN AKAL.
Islam merupakan agama Samawi yang amat peka terhadap kebutuhan umatnya, sehingga apapun itu bentuk kebutuhanya, islam telah memberikan solusi baik secara kontekstual atau tekstual yang berisi dalam bentuk peratuan-peraturan yang terbaik di mana tujuan utama dari adanya peraturan yang ada dalam islam yaitu
درء المفاسد وجلب المصالح
yaitu mecegah kerusakan dan menarik pada kemaslahatan (kebaikan), untuk menunjang itu islam mencoba untuk bersikap lentur dan flexibel, hal itu terbukti dengan adanya kebebasan berpandapat dan berfikir bagi manusia demi menghidupkan dan mengembangkan fasilitas yang telah di anugerahkan Allah Swt kepada manusia yang berupa “Akal” (mind) yang digunakan untuk berfikir (thought). karena dengan Akal itulah yang ternyata manusia menjadi satu-satunya makhluk yang dipercaya untuk menjadi kholifah di Bumi dengan harapan kesejahteraan dan kelestrian alam bumi yang menjadi tempat teduh dapat terjaga.
Kebebasan untuk mengoperasikan dan mengoptimalkan Akal itu telah mendapatkan rekomendasi serta jaminan dari Allah sendiri dengan bukti sindiran-sindiran Allah dalam firmanya افلا تعقلون apakah kalian tidak ber akal? افلا تتفكرون apakah kalian tidak berfikir? افلا تتدبرون apakah kalian tidak mempertimbangkan? dan yang lain seperti yang di sebutkan dalam surat Al-Ghosyiah ayat 17-20 yang artinya ”maka apakah mereka tidak memperhatikan Unta bagaimana dia di ciptakan? dan Gunung-Gunung bagaimana ia di tegakan? dan Bumi bagaimana ia dihamparkan?”
Namun begitu, manusia tetaplah manusia yang asli fitrahnya (asal terciptanya) adalah makhluk lemah mereka tidak punya daya apapun kecuali daya dari Allah Swt, tidak punya kekuatan apapun kecuali kekuatan dari Allah Swt, Allah maha tahu seberapa kapasitas akal yang telah di anugerahkan pada manusia, oleh karena itu Allah memberi batasan-batasan hal yang perlu di nalar dan hal yang tidak boleh di nalar karena itu bukan kapasitas akal, dalam hadis nabi di sebutkan
الله فتهلكوا تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات
"berfikirlah kalian semua tentang makhluq ciptaan Allah dan jangan kalian semua memikirkan tentang Allah (dzat) maka (jika kalian memikirkan dzatnya allah) kalian akan rusak (binasa) "dengan demikian peran akal pada diri manusia yaitu sebagai daya penyerap terhadap berbagai stimulus serta informasi yang masuk lalu mendefinisikannya serta memilah mana yan gperlu dilakukan dan mana yng harus ditinggalkan.
Pada dasarnya luang lingkup yang ada dalam peraturan islam itu di kelompokan menjadi 5 kriteria:
1. Hifdhu Ad-din
2. Hifdhu An-nafsi
3. fdhu Al-mal
4. Hifdhu An-nasli
5. fdhu Al-‘irdzi

Hifdhu Ad-din secara bahasa adalah menjaga atau mempertahankan agama, artinya islam sangat menjunjung tinggi terhadap nilai keutuhan umat dengan menumbuhkan rasa nasionalisme tinggi terhadap agama dan bangsa, sehigga hal-hal yang dapat mempengaruhi terhadap keutuhan islam sangat di perhatikan, demi menumbuhkan rasa nasionalisme itu islam membuat peraturan Jihadperang) bagi siapa saja yang mencoba untuk memperkeruh keutuhan ummat, karena islam sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan kesatuan dan islam juga merupakan agama yang mulya dan tidak ada yang lebih mulya dari islam الاسلام يعلو ولا يعلى عليه
Hifdhu An-nafsi artinya menjaga dan mempertahankan jiwa, Setiap manusia di beri kebebasan dan di beri hak untuk melindungi diri dari berbagai macam bentuk uaha-usaha yang dapat melukai dirinya maupun orang yang menjadi tanggunganya (istri, anak, budak dan yang menjadi tanggunganya) untuk itu dalam islam dibuat aturan seperti Ash-shiyal (melindungi diri dari ancaman orang yang akan melukai atau membunuh meskipun dengan cara membunuh orang itu)
Hifdhu Al-mal artinya melindungi dan menjaga harta kekayaan dari ulah jahil pihak lain. Begitu pedulinya islam terhadap keutuhan umat, islam memberikan hak pada masing-masing untuk mempertahankan segala apa yang ada dalam genggamanya sehingga diharapkan akan terwujud situasi yang kondusif aman terkandali karena masing-masing merasa punya hak dan kewajiban, untuk mewujudkan itu di berlakukan hukum sanksi bagi yang melanggar diantaranya:
Had Sariqoh (sanksi bagi pencuri) dengan cara potong tangan atau kaki
Had Ikhtilas (sanksi bagi pencopet)
Had Qothi’utthoriq (sanksi bagi penodong)
Ta’zir bagi pelaku Ghoshob dll.
Tentang cara dan bentuk sanksi yang diberikan bagi para pelaku tindak kriminal diatas itu ada beberapa perincian yang telah di sebutkan dalam beberapa kitab fiqih, tidak cukup hanya peraturan tentang sanksi, islam juga telah menerapkan beberapa trik dan cara untuk menjadikan harta menjadi harta yang baik halal dengan cara di buat aturan-aturan infestasi yang baik dan menguntungkan hal itu terbukti dengan adanya aturan-aturan dalam Bai’ (transaksi jual beli), Syirkah (modal bersama atau koperasi), Ijaroh (sewa), Rohn (gadai), Qirodh(tanam modal) dan yang lain-lain.
4 Hifdhu An nasli artinya menjaga keturunan, demi menjaga kelestarian umat di perlukan adanya aturan-aturan yang berkaitan dengan keberlangsungan atau eksistensi hidup, sebagai makhluq yang di percaya oleh Allah menjadi kholifah di alam Bumi ini perlu kiranya manusia menyadari bahwa populasi sangat di perlukan hal itu semata hanyalah sebagai upaya menjaga amanah dari Allah Swt, untuk mewujudkan itu semua di perlukan adanya peraturan yang menangani masalah itu, dalam islam di berlakukan hukum Nikah lengkap dengan syarat rukun dan yang berkaitan denganya semisal Tholaq (cerai), Ruju’ (kembali pada istri setelah menjatuhkan talaq), Khulu’ (gugatan dari istri minta di cerai suami) Dll seprti larangan Zina, kawin mut’ah (kawin kontrak).
5 fdhu Al-‘irdhi secara bahasa berarti manjaga dan mempertahankan harga diri, artinya setiap orang berhak menjaga dan melindungi harga dirinya dari hal-hal yang tidak menguntungkan terhadap kewibawaan dan harga diri atau yang di istilahkan sebagai Muru’ah karna manusia adalah makhluq yang di beri nilai lebih oleh Allah dan di utamakan sebagaimana yang telah di singgung Allah ولقد كرمنا بني ادم dan Aku (Allah) benar-benar telah memulyakan anak Adam(tidak di hukumi najis setelah mereka meninggal) untuk menjaga Muru’ah ini disamping menjauhi segala bentuk larangan dari Allah juga menghindari dari hal-hal yang sekiranya dapat merusak harga diri meskipun itu bukan hal yang di haramkan seperti jalan tidak pakai baju (sudah menutupi batas aurat) memakai pakaian yang bersifat norak dll,kebebasan untuk mempertahankan harga diri ini diperbolehkan selagi tidak melanggar batas-batas syari’at yang telah ditentukan.
D. Wilayah Akal
Dalam disiplin ilmu Ushul fiqih ditetapkan bahwa penentuan sebuah hukum yang disyariatkan itu terkelompok menjadi dua :
Ta’abbudy (irasional)
Ta’aqquly (rasional)
Ta’abbudy ialah doktrin Allah Swt dalam memutuskan suatu permasalahan tanpa bisa di ganggu gugat oleh siapapun, hal semacam itu sangatlah wajar karena Allah swt adalah Dzat yang menciptakan segalanya dan yang memiliki dan menguasai segalanya dan Allah berhak menerapkan apa-apa yang Allah kehendaki tanpa ada campur tangan pihak lain (Qiyamuhu bi Nafsihi) Allah berhak menghalalkan dan mengharamkan segala sesuatu yang dikehendaki (irodah) karena itu merupakan hak preogratif Allah Swt yang tidak bisa diganggu gugatoleh siapapun,
Namun begitu Allah punya sifat الحكيم artinya “yang bijaksana”, sehingga Allah sangatlah maha tahu tentang kemampuan makhluq ciptaannya dan Allah tidak akan memberatkan jika hal itu diluar kemampuan makhluq sebagaimana yang disinggung Allah dalam surat Al-Baqaoroh ayat 286 yang artinya ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakanya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang di kerjakanya"
Hukum–hukum yang dari unsur Ta’abbudy ini meliputi :
Kewajiban untuk mentauhidkan Allah (dijelaskan dalam usuluddin)
Dasar–dasar islam seperti kewajiban sholat, zakat, puasa, haji, dan tata cara (kaifiyah ibadah-ibadah tersebut)dan batasan–batasannya
Al-hudud (batasan–batasan dalam islam) seperti Had atau sanksi bagi pencuri, pezina, pembunuh, perampok, pemberontak (bughot) murtad (keluar dari islam) peminum khomer Dll
batasan–batasan haram dan halalnya binatang dan makanan,
hukum jual beli(bai') yang dihukumi halal dan dihukumi haram,
ketentuan-ketentuan dan hukum nikah
keharaman riba(melipat gandakan uang dengan cara salah) Dll.
Kesemuanya peraturan di atas itu murni dari Allah. Dan akal manusia tidak mampu untuk menjangkaunya. Seandainya bisa itu mungkin sisi kecilnya saja. dan manusia tidak berhak merevisi hukum tersebut. Hal ini sebagai bentuk ujian dari Allah kepada manusia mau menerima atau tidak dan untuk mengetahui siapa yang taat dan patuh dan siapa yang ingkar dan durhaka.
Sedangkan Ta’aquliy ialah peraturan dalam islam yang tumbuh dari Ijma’ Ulama’ (kesepakatan para intelektual islam yang telah di akui dan tidak di ragukan keilmuannya oleh seluruh alam) serta acuannya lebih memfokuskan pada kemampuan nalar atau akal. Peraturan–peraturan yang dari produk Ta’aquliy ini berkisar tentang furu’iddin (cabang cabang agama) seperti: Qiyas (penyamaan hukum dari yang far'i pada yang asli di sebabkan adanya tasybbuh(keserupaan)di antara keduanya) tentang ke halalan dan ke haraman hewan yang yang tidak di jelaskan dalam Al–qur’an dan hadits, batasan–batasan haidz, nifas, wiladah. Khilafiyah dalam kaifiyah ibadah (perbedaan tentang tata cara ibadah) yang kaifiyah itu belum dijelaskan dalam Al–qur’an dan Al–hadits
Hukum–hukum yang dihasilkan dari Ta’aquly ini sifatnya tidak tetap dan tidak baku serta tidak sama dengan yang dari Ta’abudy, artinya hukum ini bisa berubah–rubah sesuai dengan tuntutan / kondisi karena hukum itu berdasarkan علة atau alasan yang logis, dan jika علة itu tidak ada maka hukumpun menjadi tidak ada seperti contoh :
Jum’ah dalam satu kampung mestinya harus satu (Syafi’iyah) boleh menjadi dua tiga atau berapa itu jika situasi maupun kondisinya tidak memungkinkan untuk menjadi satu seperti : adanya pertikaian diantara kelompok (‘adawah) atau penduduknya terlalu banyak sehingga kapasitas masjid tidak memadahi. (dhiqul maqom) Dan nanti jika kondisi menjadi normal seperti sudah adanya ishlah (damai) maka jama’ah jum’ah harus di satukan sebagai mana yang dikatakan Umar bin Khottob “sholatlah kalian semua di masjid masing – masing dengan jama’ah, namun jika hari jum’at maka sholatlah kalian semua di belakang imam yang satu”. Artinya jika jum’ah harus kumpul jadi satu. dalam disiplin ilmu Qowa’idul fiqhiyah di ikutkan kaidah
الحكم يدور مع علته وجودا كان اوعدما
“hukum itu berputar sesuai dengan illat(alasan)nya, jika ada illat berarti ada hukum(ma’lul) jika tidak ada illat berarti tidak ada hukum(ma’lul)”

dan juga kaidah lain :
اذا زالت العلة زال المعلول
"jika علة hilang maka yang di illati (dialasi) juga hilang"
Dari kedua faktor diatas kiranya perlu disadari bahwa jika adanya hukum itu bisa dijangkau oleh akal maka ketentuan itu boleh di telusuri dan jika itu di luar dari kemampuan akal maka harus diterima dangan lapang dada sebagai bukti pengabdian hamba terhadap Allah dan manusia tidak berhak menentang dan mengabaikan ketentuan-ketentuan Allah dan memasuki wilayah Allah. Wallahu A’lam Subhanallah Walillahi Al-Hamdu

Islam merupakan agama Samawi yang amat peka terhadap kebutuhan umatnya, sehingga apapun itu bentuk kebutuhanya, islam telah memberikan solusi dalam bentuk peratuan-peraturan yang terbaik di mana tujuan utama dari adanya peraturan yang ada dalam islam yaitu ”Dar’ul mafasid wa Jalbul masholih” yaitu mecegah kerusakan dan menarik pada kemaslahatan (kebaikan), untuk menunjang itu islam mencoba untuk bersikap lentur dan flexibel, hal itu terbukti dengan adanya kebebasan berpandapat dan berfikir demi menghidupkan dan mengembangkan fasilitas yang telah di anugerahkan Allah Swt kepada manusia yang berupa “Akal”.
Penciptaan Bumi
Berkaitan dengan penciptaan bumi, Al-qur'an tidak begitu rinci dalam mengunngkap proses penciptaanya,proses penciptaan itu sengaja dirahasiakan oleh Allah / tidak diinformasikan pada public, hal demikian kalau boleh penulis katakan merupakan sebuah realita yang memberi kesempatan manusia untuk berfikir tentang ciptaan Allah agarmanusia mau mensyukuri anugerah akal yang telah diberikan.



Dalam surat al-kahfi ayat 51 Allah berfirman :
 •             
Artinya : “ Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”
Cendekiawan islam yang namanya telah menginternasional syekh Nawawi bin Umar lahir diBanten dalam tafsir Murohu-labibnya menafsirkan ayat diatas bahwa "iblis diciptakan lebih akhir dari penciptaan langit dan bumi sehingga iblis tidak dapat melihat proses pembuatan bumi itu dan juga penciptaan pada dirinya sendiri".


E.Waktu Penciptaan Bumi.
Dalam kalam Atsar (pendapat shahabat) disebutkan bahwa Allah telah menciptakan bumi pada hari ahad dan senin lalu menciptakan isi bumi serta yang di atasnya pada hari selasa dan rabu. Lalu Allah menciptakan Langit pada hari kamis sampai sorenya hari jum'at.
Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan surat al-fushilat ayat 9-12
                                           •                  •          

Artinya : “ 9. Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari(masa) dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam".
10. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari(masa). (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
11. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".
12. Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam duahari( masa). dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.
Dalam surat al-furqon ayat 59 Allah berfirman :
                  
Artinya : “ Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas Arsy[1071], (Dialah) yang Maha pemurah, Maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia”.
Kata اdalam ayat tersebut merupakan contoh dari sekian ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang secara teksnya terdapat makna yang ada keserupaan antrara sifat Allah dengan sifat makhluknya) oleh golongan Qodariyah (kelompok yang mengingkari adanya takdir dan mereka lebih meyakini pada bentuk usaha tanpa penyadaran diri pada Allah) bahwa pada dasarnya tidak ada ayat yang mutasyabihat karena akan membawa pada penyerupaan Allah pada makhluknya, sehingga mereka mengingkari bahw seorang mukmin dapat melihat (ru'yah) dzat Allah disurga .
Allah berfirman dalam surat al-qiyamah ayat 22-23:
       
Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.Kepada Tuhannyalah mereka Melihat”


Surat Al-A’rof ayat 54 allah juga berfirman :
                •                  
Artinya : “ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.



Demikian juga pada surat As-sajadah ayat 4 allah berfirman :
                          
Artinya : “ Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.
Drs. H.m Hadi masruri dan h. Imron Rosyidi mengemukakan "para teolog muslim berpendapat bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dari ketidak adaan (al-kholqu minal adam)
sebelumnya mari kita cermati bahwa realitas itu dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
1. Realitas yang adanya tidak dari ketidak adaan dan tidak disebabkan oleh apapun atau tidak didahului oleh adanya ruang dan waktu realitas tersebut dinamakan realitas Azaly yang merupakan sebab dari adanya alam ( الموجد لكل موجود ) yaitu Allah swt.
2. Realitas yang adanya dari ketiadaan yang didahului oleh ruang dan waktu dan realitas ini sebagai sebab adanya realitas lain realitas ini adalah alam (Bumi).
3. Realitas yang adanya dari sesuatu (materi : misalnya) karena sebab tertentu dan didahului oleh raung dan waktu. Realitas ini seperti benda-benda yang berada di alam (Bumi) baik benda hidup ataupun benda mati.
Kesimpulan diatas kalau terus dicermati maka akan senada dengan isi hadis
لولاك لماخلقت الافلاك
"Andai bukan karena kamu (Muhammad) niscaya aku tidak akan menciptakan makhluk semuanya".

Kalau diurutkan maka :
1. Allah menciptakan Muhammad .
2. Muhammad sebagai perantara terciptanya makhluk
3. Makhluk ada Karena Muhammad diciptakan
bahasa yang sering kita dengar dari kaum muslimin saat melagukan puji –pujian dan menjadi ideologi adalah :
من العدم و الى الموجود ثم العدم بعد الموجود
" dari tidak ada menuju ada kemudian menjadi tidak ada setelah ada".
Alam (semua selain Allah) berasal dari ketidakadaan dan setelah ada maka pada akhirnya akan menjadi tidak ada.
Coba kita bandingkan dengan bahasa al-qur'an dibawah ini.
Surat Ar-Rum Ayat 40
             •          
Surat Al-Baqoroh Ayat 164
      •     
Surat Al-An'am Ayat 90
 •    •         

Surat al-baqoroh ayat 72
       
Sesuai dengan topik pembahasan awal apakah bumi merupakan realita yang tercipta melalui materi atau keberadaanyatanpa didahului oleh ruang dan waktu ? Ibnu Rusydi seorang filosofi muslim yang terkenal mengambil kesimpulan dari data-data yang dirumuskan, bahwa bumi terbentuk dari beberapa elemen yaitu tanah, air, api dan udara yang dikenal dengan sebutan empat elemen (al-ustuqshod al-arba'ah) sebenarnya jauh sebelum ibnu Rusydi banyak filosuf yang telah juga mengambil bagian ini termasuknya adalah Thales (624-548 Sm ada yang menyebutkan 631-550 Sm) ia dikenal sebagai bapak filosofi yunani yang mengambil kesimpulan bahwa, asal muasal sesuatu itu dari air ( arche is water ) berikutnya ada Anaximandros (610-540 Sm) mengatakan antara lain :
Anaximandros berpendapat arche (sesuatu yang ada atau maujud) itu berasal dari udara menurutnya hakikat kehidupan adalah bernafas , Phitaghoras (580-500 Sm) mengemukakan pendapatnya bahwa asal muasal sesutau itu adalah bilangan, sedangkan Demokritos(460-370 Sm) mengatakan asal sesuatu adalah atom (suatu benda terkecil yang tidak dapat terbagi lagi) sebagian filosofis yang lain berpendapat asal sesuatu itu dari api
Untuk membuktikan apakah benar atau tidak pemikiran mereka.


Mari keita cermati dan baca kembali Surat Al-Anbiya' Ayat 30 :
    •          •      
Artinya : “ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? ”.

Secara teks ayat ini disamping menerangkan air sebagai sumber kehidupan dalam artian asal muasal sesuatu, juga menyebutkan antara langit dan bumi dulu sebelum dipisah adalah satu padu. Namun syekh nawawi menafsirkan berbeda dengan penafsiran lainya beliau berkata bahwa "dulu langit itu berupa materi atau benda yang melekat tidak bisa menurunkan satu tetes airpun untuk disiramkan kebumi, begitu juga bumi dulunya juga berupa materi yang melekat tidak mampu menumbuhkan beberapa tumbuh-tumbuhan. Lalu dengan kemurahan allah keduanya dijadikan tidak saling melekat diantara materinya dan bisa menurunkan hujan dan bumi bisa menurunkan berbagai tumbuh-tumbuhan"
Begitu juga dalam Surat An-Nur Ayat 45 Allah Berfirman :
  •   •   •     •     •          •      
Artinya : “ Dan Allah Telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Surat Al-Furqon Ayat 54 Allah Juga Berfirman :
             
Artinya : “ Dan dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa”.



Rosulullah pernah bersabda :

عن عبد الرحمن عبد الله بن مسعود حدثنارسول الله وهوالصادق المصدوق ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذالك ثم يرسل اليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤ مر باءربع كلمات بكتب رزقه واجله وعمله وشقي اوسعيد

Meskipun ayat-ayat ataupun hadits diatas menerangkan mengenai proses manusia, maka setidak-tidaknya itu sebagai acuan serta pendekatan untuk merumuskan proses penciptaan alam (bumi)
Kalau kita mau berfikir sedikit lebik jauh, diatas telah disebutan dalam surat al-anbiya' ayat 30. bahwa Allah menciptakan semuanya dari air dan dari air pula Allah menghidupkan semuanya. Kalau kita tarik benang kesimpulan maka semuanya terbentuk dari elemen air tak terkecuali realita bumi. tentang tanah udara dan api sebagaimana kesimpulan ibnu Rusydi juga para fiosof itupun bisa juga terbentuknya dari air (arche is water)
Mari kita renungkan dibawah ini
1. Kalau kita menaruh air dalam bak air di kamar mandi lalu kita biarkan beberapa tahun tidak dipakai maka air itu akan mengendap menjadi tanah yang menumpuk dan semakin lama semakin bartambah kadar tanahnya.
2. Kompor yang kita buat memasak apinya itu berasal dari minyak tanah yang notabenenya adalah jenis air juga.
3. Kalau kita duduk dipinggir pantai maka hembusan angin laut akan semakain kencang
4. Manusia (bukan adam) terbentuknya dari air sperma laki-laki dan sel telur wanita.
kalau kita berbicara tentang sperma. sperma adalah sari dari makanan baik yang berupa protein hewani ataupun nabati. hewani misalnya, ia hidup dari nabati (tumbuh-tumbuhan) sedangkan nabati tumbuh hidup dari tanah dan tanah tidak bisa menghidupkan apapun keculai dari air
5. Ketika kita berada disamping air terjun maka kita akan melihat batu-batuan yang menonjol yang dilewati air tersebut dengan membentuk berbagai bentuk lalu darimana batu-batu itu maka jawabnya adalah dari air yang mengeras.
Dan pendekatan-pendekatan yang lain yang.

BUMI BULAT ATAU DATAR ?

Kebenaran secara mutlak hanya milik Allah sedangkan manusia hanya diberi akal yang berfungsi untuk merasio terhadap semua realitas yang telah diciptakan olehNYA, dalam perjalanannya sering terjadi kontradiksi antar pemikir,pada dasarnya semua dapat dimaklumi karena kapasitas akal setiap manusia (every one) berbeda-beda dan itu tidak perlu dipermasalahkan toh agama telah merekomendasikan tentang masalah realitas khilafiyah (perbedaan pendapat), termasuk didalamnya adalah khilafiayah tentang bentuk bumi. apakah bumi tercipta bulat atau datar.?
Berikut kutipan dari beberapa ayat al-qur'an diantaranya surat Al-Ghosiyah ayat 17-20 tentang masalah bumi
                     
Artinya : "Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
Begitujuga dalam surat An-Nazi'ah ayat 30 :
    
Artinya : “ Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”.

Dalam surat Qof ayat 7 allah berfirman :
           
Artinya : “ Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata”.
Dan juga surat Al-hijr ayat 19

Surat Arro'du ayat 3 Allah berfirman :
           •        •  •      
Artinya : “ Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan[765], Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.

Begitu juga dalam surat Nuh ayat 20 Allah berfirman :
    
Artinya : “ Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu".
Surat Al-Dzariyat ayat 48 :
    
Artinya : “ Dan bumi itu kami hamparkan, Maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)”.
Senada dengan surat surat al-dzariyat adalah surat Al-Baqoroh ayat 22 :
              •          
Artinya : “ Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu Mengetahui”.
Ibnu Abbas berkata :
"sesungguhnya bumi itu dihamparkan diatas air maka keberadaannya menjadi bergoyang beserta apa yang ada didalamnya seperti goyangnya perahu (bahtera) kemudian allah meletakkan gunung-gunung yang kokoh (supaya bumi tidak lagi bergoyang)
Berbagai kalangan menginterpretasikan atau menafsirkan ayat-ayat diatas dengan berbagai pandangan. Sejarah mencatat pelaut-pelaut abad 15-16 seperti Marcopolo, Columbus dan Vasco Dagama telah berlayar menjelajahi sepanjang samudra. dialam dunia merekapun tidak pernah tergelincir keujung bumi hal itu dijadikan fakta bahwa bumi itu bulat .
Magelkan dan Sirfrancis drake berusaha membuktikan bahwa bumi itu bulat dengan ekpedisinya melakukan pelayaran mengitari bumi. Surat An-Nadzi'ah ayat 30 menurut sebagian ulama' yang telah tercantum diatas itu dipakai sebagai acuan bahwa bumi benar-benar bulat kebanaran itu bisa ditinjau melalui pendekatan lughowi (bahasa) yang terdapat pada kata (dahaa) dalam kamus arab-indonesia almunawwir lafadz daha diartikan besar dan melongsor kebawah sedangkan menurut penterjemah lain mengartikan bundar seperti telor burung onta yaitu bulat dan sedikit lonjong fakta yang diambil oleh para peneliti melalui ukuran satelit didapatkan keliling bumi digaris ekuator adalah 40.075 km dan keliling melintasi kutub sepanjang 40.008 km yaitu ada selisih 67 km.
Syekh jalaluddin dalam tafsir jalaleinnya menanggapi firman allah dalam surat al-ghosyiyah ayat 17-20.bahwa bumi itu menurut ulama' salaf datar bukan bulat sebagaimana pendapatnya ahli filsafat "
Al-showi sebagai mufassir berkomentar " ulama' syar'y berpendapat bahwa bumi itu datar dan membentang sementara ulama' kontemporer (didalamnya mengikut sertakan) ahli filsafat serta para geografis menyatakn bahwa bumi itu bulat dan perbedaan ini tidak perlu dirisaukan karena perbedaan ini tidak berpengaruh pada tauhid dan akidah(ideology) "
Dibawah ini adalah pendekatan –pendekatan rasional yang dipakai untuk mengatakan bahwa bumi itu bulat :
1. Berlayarlah kearah barat atau kearah timur secara terus-menerus maka suatu saat nanti kamu akan sampai ditempat semula disaat berangkat.
2. Saat kamu berada ditepi laut lihatlah kapal yang pergi berlayar meninggalkan tepi pelabuhan maka akan kamu melihat kapal itu semakin lama semakin turun dan akhirnya hanya sebagian atasnya saja yang tampak lalu beberapa saat kemudian kapal tersebut akan hilang.
3. Jika kamu sekarang berada diIndonesia tepat pada jam 4 dini hari maka teleponlah saudaramu yang berada di arab Saudi dan tanyakan jam berapa disana maka dia akan menjawab sekarang baru jam 12 malam dan telepon juga saudaramu yang berada diamerika serikat lalu tanyakan jam berapa sekarang disana, maka dia akan menjawab sekarang baru jam 4 sore
kesimpulan inilah yang terang dan jelas dipakai sebagai acuan kalangan yang mengatakan bumi itu bulat.
Semua peneliti membenarkan pada apa yang telah dikatakan Marcopolo dan Columbus bahwa ia telah mengelilingi samudra dan kembali keasalnya lagi. Mereka tidak pernah membanyangkan bagaimana perjalanan itu bisa ditempuh. dan benarkah bahwa mereka berdua telah benar-benar mengelilingi samudara di jagat raya ini dengan sempurna, atau hanya mengelilingi sebagian kecil saja, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah manusia mampu menempuh perjalanan mengelilingi bumi dengan sempurna? Berikut surat al-isro' ayat 37-38
 •   •  •                
Artinya :. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi Ini dengan sombong, Karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanm".
Dan juga surat al-rohman ayat 33 :
                 
Artinya : “ Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”.
Syekh Jalaluddin menafsirkan " kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kakuatan sementara kalian itu diciptakan dalam kondisi yang lemah dan tidak punya kekuatan". menurutnya manusia dan jin tidak mampu menembus langit dan bumi
Meskipun ke 2 ayat diatas adalah ayat yang komplek sehingga terkadang perlu penafsiran yang dalam, perjalanannya memakai penafsiran bi-ar-ro'-yi (rasio) namun dalam pemahaman suatu ayat langkah pertama adalah memahami teks secara utuh andaikan memahami secara utuh tidak dimungkinkan baru bisa memahami dengan bergagai pendekatan-pendekatan yang lain dan ayat diatas kemungkinan juga bisa dipahami melalui pendekatan bahasa (lughowi) secara utuh (dhohir) bukan melalui ta'wil atau tafsir
Maka kesimpulan dari berbagai kalangan ulama' salaf bumi itu bukan bulat tapi datar , jin ataupun manusia tidak bisa menembus langit dan bumi.
Mari kita menelusuri pandangan dari rata-rata ulama' salaf atau klasik yang menyatakan bahwa bumi itu datar bukan bulat, lafad seperti سطحت , مددنا , فرشنا Atau دحا ها itu diartikan bumi dibentangkan atau dihamparkan diatas air. Sehingga dengan demikian fungsi gunung-gunung kokoh diatas bumi berfungsi sebagai paku bumi agar tidak goyang karena pada umumnya benda yang berada diatas air itu mudah bergoyang sebagaimana kandungan surat al-anbiya' ayat 31, begitu juga dalam surat al-mulk ayat 3 disitu dijelaskan bahwa Allah menciptakan tujuh langit ber sap-sap. oleh imam Showi menjelaskan ayat ini mengisyaratkan bahwa bumi itu datar berada di bawah langit dan langit. berada diatas bumi dengan shof-shof sampai tujuh.
Lain halnya dengan yang disimpulkan oleh para geografis mereka mengatakan bahwa bumi itu bulat sementara langit itu mengelilingi bumi seperti mengelilingi kulit telur yaitu mencakup pada seluruh sisi.














NUR : CAHAYA
……………………………………………………………......

Yaqut merah @ Saturnus
Emas @ Yupiter
Perak @ Mars
Tembaga Kuning @ Matahari
Besi @ Vesper,Luciver
Marmer Putih @ Mercury
Ombak كواكب @ Rembulan
Berbagai Bintang











…………………………………………………………………..
…………………………………………………………………..

Diatas adalah sketsa bumi yang menurut pandangan ulama' salaf, mereka berpendapat bahwa bumi itu datar dan terhampar yang dibawahnya terdapat air. masa proses penciptaan itu selama 2 hari yang dimulai dari ahad sampai senin sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surat al-fushilat ayat 4 bumi tercipta dari tanah


Data bumi
Garis tengah : pada kutub 12.714 km
Pada katulistiwa 12.757 km
Jari-jari bumi 6.378 km
Keliling katulistiwa : 40.000 km

Jarak dari matahari : terjauh 152 juta km
Terdekat 147 juta km
Kecepatan berputar mengelilingi matahari 106.200 km/jam
Kecepatan melepaskan diri dati gravitasi bumi 40.500 km/jam
Massa : 6.600 juta ton
Masa dalam 1 tahun : 365 hari 5 jam 48 detik
Masa dalam 1 hari : 23 jam 56 menit
Sudut inklinasi/kemiriingan : 23,5˚
Bert jenis : 5,41 (dibandingkan air)
Jarak bumi-bulan : 384.550 km
Umur bumi : 4.700 juta tahun



LANGIT
merupakan tanda kekuasaan Allah adalah adanya langit yang membentang tegak serta gagah meskipun tanpa tiang, ini sering disebut oleh Allah dalam beberapa firmannya yang termasuk dalam al-qur'an diantaranya adalah surat Ar-ro'du ayat 2
                              
Artinya : "Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu"

Langit sesuai yang telah diceritakan dalam alqur'an berjumlah 7 lapis dengan ber shaf-shaf, ini diceritakan Allah dalam surat Al-Mulk ayat 3
      •              
Artinya : “ Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? “.
Keberadaan langit itu diatas bumi sebagaimana ayat-ayat dalam al-qur'an diantaranya adalah dalam surat Qof ayat 6
       •     
Artinya : “ Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? “
Sering kata langit dalam al-qur'ann memakai lafad السموات yaitu berbentuk jamak yang artinya adalah beberapa langit, dalam hal ini langit dibatasi ada 7 sebagaimana banyak disebutkan dalam surat Al-Baqoroh ayat 29
Sementara penyebutan bumi tidak memakai jamak yaitu memakai kata الارض
Coba kita baca ayat-ayat dibawah ini
Surat yusuf ayat 10
  
Surat al-anbiya'ayat 56
            
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan hal yang sama, maka jawabnya mari kita pakai pendekatan melalui lughowi (bahasa)lafadz السموات berarti jamak (jamak mu'annas salim) yang bermakna banyak, itu dikarena langit itu memang 7 lapis dan berbeda-beda materi, syekh Showi menjelaskan bahwa:
1. Langit pertama diciptakan dari ombak/asap.
2. Langit kedua diciptakan dari marmer putih
3. Langit ketiga diciptakan dari besi
4. Langit keempat diciptakan dari tembaga kuning
5. Langit kelima diciptakan dari perak
6. Langit keenam diciptakan dari emas
7. Langit ketujuh diciptakan dari yaqut yang merah.
Sementara itu kenapa bumi menggunakan lafad الارض (singular/mufrod)? ini mengindikasikan bahwa bumi juga berjumlah tujuh lapis, namun bahan dasarnya adalah sama yaitu dari tanah. Para ilmuwan geografis menyimpulkan bahwa langit itu mengelilingi bumi seperti kulitnya telur. Para mufassir salaf mengatakan bahwa langit pertama yang berbentuk ombak itu diisi berbagai bintang sebagai tanda kekuasaan allah dan sebagai penghias langit sekaligus sebagai benteng akan adanya pihak-pihak yang akan merusak.
Kesimpulan ini diambil dari surat al-mulk ayat 5
 •            
Artinya : "Sesungguhnya kami Telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
Diceritakan bahwa syetan dulu bebas memasuki langit dan mengutip ketentuan-ketentuan yang telah ditulis dilauhil mahfud, lalu syetn itu menyampaikan berita pada para dukun dan para normal, sewaktu nabi isa diutus allah, syetan dilarang memasuki langit ketujuh. Dan setelah allah mengutus rosulullah Muhammad syetan dilarang total memasuki kawasan langit oleh allah, syetan itu dilempar dan dihanguskan dengan meteor. yang dibuat melempar bukan meteornya namaun dengan sinaran api yang keluar dari meteor tersebut
Surat al-shoffat ayat 6 allah berfirman :
 •     
Artinya : “ Sesungguhnya kami Telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang”.

LANGIT DAN HUJAN
Yang beredar dimasyarakat umum adalah hujan merupakan proses alam yang disebabkan oleh penguapan dari air laut yang ditarik keatas lalu dibawah oleh awan dan pada akhirnya diturunkan kebumi. yang menjadi pertanyaan adalah benarkah demikian proses terjadinya hujan ….?
Sebelum menentukan itu mari kita baca surat al-baqoroh ayat 22 :
              •          
Artinya : “ Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.”
Ayat ini oleh mufassir salaf (klasik) diartikan bahwa hujan itu berasal dari air surga yang diturunkan dan didiamkan beberapa saat di atas awan dimana awan itu bagaikan saringannya lalu air itu dibawa oleh angin dan diturunkan dibumi sesuai kehendak Allah.
Sementara kaum Mu'tazilah (kelompok yang mengasingkan diri jauh dari kelompk Ahlussunnah) menafsirkan bahwa : "awan itu mempunyai pipa yang lentur bagaikan onta turun dan meminium air laut yang asin dalam beberapa saat lalu awan yang seperti itu naik keangkasa dan diterpa oleh angin sehinggga air laut yang asalnya asin menjadi tawar kemudian air itu diturunkan kebumi". Oleh para ilmuwan pengetahuan alam, logika ini dirumuskan menjadi istilah penguapan.
Jadi mana yang benar antara mufassir salaf atau Mu'tazilah yang didukung oleh para ilmuwan …..?
Untuk lebih meyakinkan mari kita renungkan
Fakta telah membuktikan sewaktu Rosulullah masih hidup terjadi musim kemarau para shahabat memohon nabi untuk berdo'a meminta kepada Allah agar diturunkan hujan oleh Allah permintaan nabi dikabulkan sehingga turunlah hujan. Begitu juga pada zaman Umar terjadi kemarau beliau berwsilah kepada Abbas tidak pada nabi dan pada saat itu Abbas masih hidup (hal ini bukan berarti tawassul pada yang sudah mati tidak boleh demikian ini untuk memberikan pengertian bahwa wasilah pada orang yang sudah mati itu boleh) lalu terlihat awan gelap dan turunlah hujan. Saat pada zaman Aisyah terjadi kemarau sahabat mendatangi Aisyah dan meminta agar berdo'a pada Allah,kemudia oleh Aisyah shahabat disuruh berdo'a dimakam Rosulullah dan berwasilah kepada beliau maka sekatika itu turunlah hujan. dan juga bukti-bukti lain yang ada pada zaman shahabat dan ulama' sampai sekarang, sehingga Rosulullah menganjurkan untuk solat istisqo' (solat minta hujan) bila terjadi kekeringan.
Maka kalau terjadinya hujan disebabkan oleh penguapan, benarkah demikian …? Mengingat ritual istisqo' itu ada nuansa religi dan mistisnya yaitu memohon langsung pada Allah.

Surat ar-rum ayat 48-49 Allah berfirman :
                                   •     
Artinya :
48. Allah, dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.
49. Dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar Telah berputus asa.
Ayat ini lebih menampakkan fungsi udara, dijelaskan udara itu yang membawa awan dan memebentangkan serta menyebarkannya diatas angakasa luas, ada yang tebal, tipis, diam dan ada yang berjalan kemudian dari awan itu keluar air hujan yang turun kebumi sehingga menyebabkan kehidupan dialam bumi.
Benang yang bisa ditarik kesimpulan adalah pada dasarnya dalam diri awan itu terdapat air kemudian air itu diturunkan sesuai arah angin dimana angin membawanya yang jelas itu semua atas instruksi dari Allah. Yang menjadi pertanyaan lagi adalah air yang terkandung dalam awan itu berasal dari mana ? ini yang menjadi adanya beberapa penafsiran yang telah dijelaskan diatas, itu semuanya tidak perlu direspon dengan fanatik yang berlebihan masalahnya Al-qur'an sendiri tidak secara jelas menjelaskan tentang proses terjadinya hujan.

Sudah disepakati bahwa hujan itu turun dari langit lalu langit yang keberapa? mengingat langit itu berjumlah 7 lapis. sebagaimana surat Al-mulk ayat 3 kalau melihat surat Ar-rum ayat 48, air hujan itu terdapat dalam awan sementara awan itu ada dilangit bumi maka hujan berasal dari langit yang pertama. disamping itu untuk pembuktian bahwa hujan dari langit pertama ke 7 langit itu berasal dari materi yang berbeda-beda misalnya langit ke dua terbuat dari marmer, langit ke tiga berasal dari besi dan seterusnya jikalau hujan turun bukan dari langit pertama seakan tidak mungkin. Untuk lebih jelasnya mari kita memakai pendekaatan melalui corak lughowi (bahasa)
Surat al- hadid ayat 4
                                       
Artinya : “ Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ดarsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
Surat al-an’am ayat 99 :
                 
artinya."Dan dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya kami Telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada orang-orang yang Mengetahu".
Pemakaian langit dengan menggunakan bentuk السماء yang berbentuk mufrod (singular) dengan dimasuki ال dalam satu kesempatan fungsi ال untuk ta’rif (mema’rifatkan) ال yang berfungsi untuk ta’rif itu dibagi menjadi 3 yaitu :
a. Al ta’rif lil ahdi adzdzikri
b. Al ta’rif lil ahdi aldhihni
c. Al li ta’rifi al-mahiyyah
Al ta’rif lil ahdi adzdzikri itu berfungsi mema’rifatkan ( ma’na khusus artinya menentukan pada suatu benda / bentuk ) serta penyebutannya mengulang pada lafadz yang sama yang tidak ada ال nya
كما ارسلنا الى فرعون رسولا فعصى فرعون الرسول
Kata rosul diulang dengan الرسول di tambah Al ini isinya adalah satu orang yaitu yang di maksud adalah nabi Musa.
untuk Al ta’rif lil ahdi aldhihni adalah al yang berfungsi mengkhususkan ma’na yang mana ma’na khusus itu telah diketahui dalam hati para pembaca bukan melalui penyebutan sebelumnya seperti al ta’rif lil ahdi adzdzikri
contoh :
اذ همافي الغار
Terdapat ال yang berfungsi menghususkan ma’nanya gua, lalu gua yang mana ? jawabannya adalah yaitu gua yang dibuat untuk bersembunyi oleh Rosulullah dan Abu bakar saat dikejar-kejar oleh orang kafir, untuk mengetahui ma’na gua itu telah diketahui oleh masing-masing pembaca. demikian itu sama dengan kejadian turunnya hujan dengan memakai lafadz السماء
penggunaan langit dengan memakai kata as-sama’ dengan bentuk mufrod (singular) yang dimasuki ال maka penulis lebih condong jika ال nya berfungsi lil-ahdi adzdzihni yaitu ma’nanya telah diketahui dalam diri masing-masing pembaca bahwa yang dimaksud adalah langit yang pertama.wallahu a'lam


MATAHARI MENGITARI BUMI ATAU SEBALIKNYA
Diantara sekian keagungan Allah yang tampak oleh panca indra (bahiroh) adalah keberadaan matahari (as-syamsu).
Matahari selalu berputar pada poros yang telah ditentukan dan tidak pernah melalui jalan yang bukan jalurnya. Ia selalu tunduk serta patuh terhadap apa yang telah menjadi tugasnya yaitu menyinari alam semesta terbit dari arah timur dan tebenam diarah barat
Berikut data matahari :
Garis tengah : 1.392.000 km (kurang lebih 109˚ garis tengah bumi)
Massa : 331.950 massa bumi
Tenperatur : permukaan : 6.000˚ Kelvin
Inti : 15.000.000˚ Kelvin
Bintik-bintik : 4.000˚ Kelvin
Tekanan : 400 miliar atm. Bumi
Untuk lebih jelasnya baca data-data matahari sesuai ilmu alam.
Semua sepakat bahwa matahari adalah satu benda diantara sekian ayat-ayat Allah yang menarik untuk dibicarakan adalah apakah matahari yang mengelilingi bumi ataukah sebaliknya bumi yang mengelilingi matahari.
Rata-rata ilmu pengetahuan alam bahwa bumilah yang berputar mengelilingi matahari, pada saat ini pandangan manusia di buat kelabu karena parasaan yang ada dalam fikiran adalah matahari yang berjalan saat menyaksikan matahari, faktanya demikian. Atau sebaliknya
Coba bayangkan….!
Jika kita naik kereta dengan kecepatan tinggi maka tengoklah keluar dan lihatlah rumah penduduk dan pohon-pohon yang disamping rel kereta api, kita akan melihat seakan-akan benda-benda itulah yang telah berjalan padahal sebenarnya keretalah yang berjalan


Untuk menambah wawasan serta sebagai perbandingan apakah realitanya seperti demikian mari kita baca dan kita resapi ayat-ayat dibawah ini :

Surat ar-ro'du ayat 2
        
Surat az-zumar ayat 5
    •  •           
Surat al-anbiya' ayat 22
    •       
Surat yasin ayat 38
        
Artinya"dan Matahari itu berjalan dalam tempat penetapanya(poros)nya,demikian itu ketetapan Allah yang maha mulya lagi maha mengetahui"
Dari sekian ayat diatas secara dhohir teks ayat menjelaskan bahwa matahari dan bulan itu berjalan dalam porosnya masing-masing, oleh kalangan mufassir salaf bahwa porosnya matahari itu ada dilangit keempat sedangkan porosnya bulan itu berada dilangit pertama keduanya akan selalu menempati porosnya dan tidak akan pernah pindah keporos planet lain, lama perputaran matahari dalam perjalanannya menyinari bumi itu ditempuh selama satu tahun sedangkan lama bulan menyinari bumi ditempuh selama satu bulan.
Kesimpulan dari pengamatan dan penafsiran kalangan mufassir salaf yang berjalan mengelilingi itu bukan bumi melainkan yang berjalan menyinari bumi itu matahari begitu juga dengan rembulan semetara bumi itu tidak mengalami rotasi karena bumi adalah hamparan luas yang didalam dan diatasnya dipenuhi oleh berjuta-juta makhluk hidup yang berbeda-beda.
Kalau boleh menanggapi tentang acuan rasional yang dipakai oleh kalangan para ilmuwan alam dimana mereka sepakat bahwa bumi yang mengalami rotasi sebagaimana dicontohkan saat kita berada di kereta api dengan kecepatan tinggi maka yang kelihatan berjalan bukan kereta apinya melainkan benda-benda yang berada diluar kereta, penumpang tidak merasakan bahwa kereta yang ia naikilah yang berjalan karena begitu cepatnya sehingga ia itu tidak terasa.
Tanggapan sebagian kalangan adalah secepat apapun kereta berjalan maka penumpang akan merasakan bahwa ia dan kereta yang dinaiki sebenarnya yang berjalan kalau boleh bertanya secara gatoloco "manusia diciptakan berbeda-beda ada yang tahan saat naik kereta ada yang tidak tahan sehingga mudah merasakan pusing kalau memang bumi yang mengalami rotasi maka kenapa manusia tidak ada yang pernah merasakan apapun yang disebabkan oleh rotasi bumi, dan andaikan benar bumi mengalami rotasi kenapa terjadi gempa dan kenapa yang terkena hanya sebagian daerah bukan keseluruhan atau setidak-tidaknya kalau sebaian kena maka sebagian yang lain terpengaruh bagaikan kereta saat bagian depan tertabrak maka bagian lainpun akan menjadi rancu (tidak bisa bergerak) samakah demikian dengan bumi ? ".
Mungkin tidak perlu dijawab karena pertanyaan yang tidak logis namun setidak-tidaknya itulah yang dirasakan sebagian kalangan saat membaca bumi itu yang mengalami rotasi dan mengelilingi matahari.
Berbagai kalangan ulama' meyakini bahwa Matahari yang berjalan menyinari bumi, lalu yang menjadi pertanyaan apa respon para ulama' menanggapi adanya siang dan malam ……..?
Mereka Menjawab saat matahari berjalan melalui porosnya (dilangit keempat) dari arah timur menuju arah barat maka yang terjadi adalah siang karma pancaran sinarnya menyinari alam bumi dan sewaktu telah sampai dibarat serta tenggelam maka sebagian dari mufassir klasik berpendapat saat itu matahari sedang melakukan sujud pada Allah (bukan berbarti Allah menetap diluar bumi ini hanya bahasa majas karena Allah selalu ada dimana mana tidak dibatasi oleh ruang dan waktu) atau sebagian mufassir yang lain berpendapat bahwa matahari pada saat itu baru menyinari alam lain selain alam manusia yang dimungkinkan arahnya kembali ketimur pada saat itulah terjadi malam karena bumi tidak tersinari matahari dan pada saat siang hari matahari kembali lagi menyinari manusia sehingga terjadilah siang.
Alasan para ulama' mufassir dirasa juga tidak rasional karma mungkin tidak ada bukti kongrit dan seakan-akan hanya asal-asalan namun sebagian diantara mereka ada yang berpatokan pada hadits Rosulullah saat beliau bertanya pada Abu Dzar
Artinya : " matahari telah terbenam apakah kamu (abu dzar) tahu dimana matahari pergi ?". abu dzar menjawab :"allah dan rosulnya yang lebih tahu " nabi bersabda : " sesungguhnya matahari pergi dan akan sujud pada allah dibawah 'arsy matahari minta izin untuk sujud pada allah iapun diizini olehNya dan matahari minta untuk terus sujud tapi allah tidak menerima. matahari minta izin lagi tetapi matahari tidak diizini" lalu allah berfirman : "kembalilah kamu dari arahmu datang ".
Maka matahari terbit dari arah barat, saat itulah dimulainya hari kiamat.Wallahu a'lam bisshowab

Kisah Penciptaan Adam
Diatas telah disebutkan bahwa proses pembuatan bumi itu memakan waktu selama dua hari toh jikalau Allah berkehendak Allah mampu menciptakannya dengan seketika demikian ini memberikan sinyal dan pelajaran bagi seluruh ummat bahwa kesuksesan itu tidak luput dari adanya proses, karena keberhasilan datangnya bukan tiba-tiba. Kesuksesn dan keberhasilan akan semakin berma’na bila mana melalui proses yang mungkin banyak melewati rintangan yang tidak sedikit. Semakin manusia merasakan kepedihan dalam melakukan suatu proses maka peluang untuk sukses akan semakin terbuka makna demikian tidak mungkin ada pada dzat Allah karma Dia maha kuasa atas segalanya.
Setelah Allah menciptakan bumi dengan berbagai macam makhluk hidup maupun benda mati dimana sebelum terciptanya nabi Adam, bumi talah diisi bangsa jin dan makhluk yang bernama Al-bun( makhluk yang sejenis dengan bangsa jin namun menjadi musuhnya) keduanya saling memusuhi dan saling membunuh
Lebih jelasnya baca surat al-baqoroh ayat-ayat awal tentang penciptaan adam,singkatnya Allah menciptakan Adam dari bahan dasar tanah yang dicamur dengan Air. Nabi bersabda yang diriwayatkan at-tirmidzi."sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari berbagai macam tanah yang diambil dari berbagai penjuru bumi sehingga anak keturunan adampun bermacam-macam" diantara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan adapula yang sawo matang seperti kita orang Indonesia pada umumnya, begitu juga dengan sifat-sifatnya yang bercorak ragamnya mulai dari berwatak keras, lembut sampai ada yang ramah tamah.
Anton prasetyo dan N. Avisena dalam buku "lempung menguak rahasia keagungan Allah" memetakan fase proses penciptaan adam.kepada empat tahapan
1. tahap pertama yaitu pengumpulan bahan dasar dari tanahkering(turob).
2. tahap tanah liat turob dicampur dengan air sehingga menjadi tanah liat (at-thin)
3. tahap pembentukan
4. tanah terakhir yaitu peniupan ruh
Berikut ayat-ayat yang terkait dengan penciptaan nabi adam
Surat ar-rum :20
          
Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak."
Surat al-rohman ayat 14
     
Artinya : "Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar"
Surat al-insan ayat 2
         • 
Artinya : "Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat."
Surat al-hijr ayat 29
         
Artinya : "Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud"

PROSES PENCIPTAAN NABI ADAM

Sesuai dengan yang telah Allah swt firmankan pada Malaikat, bahwa Allah swt akan menciptakan makhluk yang akan ditempatkan di bumi. Yang tujuan awal dari terciptanya mahluk itu adalah sebagai kholifah fi-Al Ardli. Yaitu sebagai pemimpin untuk melestarikan hukum-hukum Allah swt. di bumi. Allah swt. menciptakan makhluk itu pada hari jum’at. Sebagaimana seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas ra. Makhluk itu oleh Allah swt diciptakan dari tanah, yang kemudian dicampur dengan air. Diriwayatkan bahwa TUROB (tanah kering) yang dibuat sebagai bahan dasar terbuatnya makhluk itu, diambil dari berbagai macam bentuk tanah dan berbagai macam bentuk pula sifat dan rasanya. Ada yang berwarna merah muda, kuning, cokelat, sampai yang berwarna hitam. Kesemuanya itu oleh Allah swt. dicampur dan diaduk dengan air dari berbagai macam nama air dan sifatnya. Sehingga TUROB menjadi AT-THIN (tanah basah). Setelah proses pencampuran antara tanah dan air selesai, dilanjutkan degan proses pembentukan makhluk yang diberi bermacam–macam anggota tubuh. Seperti tangan, kaki, kepala dan lain sebagainya. Sampai akhirnya pada proses yang terakhir yaitu peniupan Ruh pada tubuh makhluk itu. Sehingga akhirnya jadilah makhluk_yang awalnya berupa benda padat itu menjadi benda yang bisa bergerak, bisa bicara serta kemampuan-kemampuan lainnya. Oleh Allah swt. makhkuk itu diberi nama Adam as.
Dengan terbentuknya Nabi Adam as. dari kedua unsur itu (tanah dan air), ternyata membawa pengaruh pada kejiwaan dan kepribadian anak cucunya. Seperti perbedaan warna kulit, ada yang berkulit putih, hitam dan kulit sawo matang dan juga perbedaan budaya, akhlak, adat istiadat. Itu semua ada kaitannya dengan bahan dasar yang dipakai untuk penciptaan Nabi Adam as. Perbedaan kulit misalnya, itu disebabkan oleh terbentuknya Nabi Adam as. dari berbagai macam warna dan sifat bumi. Sedangkan perbedaan tentang budaya dan akhlak manusia, itu karena dipengaruhi oleh terciptanya Nabi Adam as. dari berbagai macam air. Ada yang dari air tawar, air asin dan yang lain.
Namun perlu diingat, bahwa perbedaan yang ada dalam diri anak cucu Nabi Adam as. itu hakikatnya sudah menjadi takdir bagi mereka. Mengenai tanah dan air itu hanya sebatas pengaruh saja, bukan dasar. Konon sewaktu Allah swt. berkehendak untuk menciptakan Nabi Adam as
Allah swt. berfirman pada bumi
اني خالق منك خلقا من اطاعني ادخلته الجنة ومن عصاني ادخلته النار
Artinya: “Sesungguhnya Aku (Allah swt.) adalah Dzat yang akan menciptakan makhluk yang berasal dari kamu (Bumi). Barang siapa taat kepadaKu, maka akan Aku masukkan dia di syurga. Dan barang siapa durhaka kepadaKu, maka akan Aku masukkan dia ke dalam neraka”.
Kemudian bumi bertanya :
فقالت يا ربنا اتخلق مني خلقا يدخل النار ؟ فقال نعم, فبكت فنبعت العيون من بكائها فهي تجري الى يوم القيامة
Artinya: “Wahai Tuhan kami. Apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang berasal dari kami dan Engkau masukkan ke dalam neraka ? Allah swt. menjawab: Benar. Lalu bumi menangis hingga dari tangisnya itu, keluar beberapa mata air yang kemudian mata air itu akan terus mengalir hingga hari kiamat.
Ibnu Abbas ra. berkata: Allah swt. menciptakan Adam as. itu dari tanah. Kepala nabi Adam as. diambilkan dari tanah Baitul Maqdis, wajahnya dari tanah syurga, kedua telinganya dari tanah Thurisina’, dahinya dari tanah Iraq, giginya dari tanah Kautsar, tangan kanan sampai jari-jarinya dari tanah Ka’bah, tangan kiri sampai jari-jarinya dari tanah Paris, kedua kaki sampai mata kakinya dari tanah Hindia, tulangnya dari tanah perbukitan, auratnya dari tanah Babil, Punggungnya dari tanah Iraq, Perutnya dari tanah Khurasan, hatinya dari tanah Syurga Firdaus, lisannya dari tanah Thaif dan kedua mata Adam as. dari tanah telaga.
Imam Abdur Rohim bin Ahmad Al-Qadi ra. menyebutkan bahwa, Sewaktu Allah swt. akan meniupkan ruh ke jasad Nabi Adam as; Allah swt. memerintahkan kepada ruh untuk masuk pertama kali dimulai dari otak. Disana ruh berputar-putar sekitar 200 tahun lamanya. Kemudian ruh itu turun sampai di kedua mata Nabi Adam as. Sehingga Nabi Adam as. bisa melihat jasadnya sendiri yang masih berupa tanah basah. Setelah ruh sampai di telinganya, Nabi Adam as. mendengar suara tasbih para Malaikat. Sesudah itu ruh turun sampai di hidung Nabi Adam as. Sehingga ia bersin-bersin. Selesai bersin-bersin, ruh itu turun sampai ke mulut dan lidah Nabi Adam as. Oleh Allah swt; Nabi Adam as. diajari membaca tahmid yaitu membaca الحمد لله (segala puji bagi Allah swt.) lalu Allah swt. menjawab يرحمك ربك يا ادم (Tuhanmu mengasihimu wahai Adam). Dari mulut, ruh turun sampai ke dada Nabi Adam as. Pada saat itu Nabi Adam as. bergegas untuk berdiri. Lantaran keadaan Nabi Adam as. yang belum sempurna, Nabi Adam as. tidak bisa berdiri. Hal yang demikian ini persis seperti firman Allah swt.
وكان الانسان عجولا
Artinya “Dan manusia itu adalah mahluk yang tergesa-gesa”
Ada satu ka’idah yang artinya “tergesa-gesa itu merupakan perbuatan Syaitan”. Sangatlah masuk akal adanya ka’idah tersebut. Karena dengan tergesa-gesa manusia akan lupa dan tidak mau memikirkan sesuatu yang akan dilaksanakannya dengan matang. Sehingga hasilnya akan banyak merugikan pada diri mereka sendiri. Dan itu merupakan harapan Syaitan
Sewaktu ruh sampai pada lambung Nabi Adam as. Ia berhasrat untuk memakan makanan. Kemudian akhirnya ruh itu menyebar ke seluruh jasad. Sehingga Nabi Adam as. _yang asalnya berupa benda padat_ menjadi benda yang bisa bergerak.
Dalam kandungan surat Al A’rof juga disebutkan, bahwa Iblis tidak akan bisa mati sebelum adanya tiupan terompet Malaikat Isrofil as. yang pertama kali. Ia meminta untuk terus hidup dan terus untuk menjerumuskan anak cucu Nabi Adam as. ke jalan yang sesat.
Dalam tafsiran ayat di atas itu, juga disebutkan tentang proses pembuatan Nabi Adam as. yaitu :
Pertama : Nabi Adam as. asalnya berupa تراب (tanah yang masih kering)
Kedua : Diadon dengan beberapa air menjadi طين (tanah yang basah karena tercampur air)
Ketiga : Dibiarkan, sehingga berbau tidak sedap dan menjadi hitam (حماء مسنون)
Keempat : Dicetak dengan berbentuk manusia, kemudian Nabi Adam as. dikeringkan
Kelima : Setelah kering, jasad Nabi Adam as. ditiupkanlah ruh ke dalamnya. Selesainya proses penciptaan Nabi Adam as. selama 120 tahun. Yaitu 40 tahun berupa طين, 40 tahun berupa حماء مسنون, 40 tahun berupa مصور صلصل (tanah yang dibentuk seperti manusia).
Oleh sebab itu, anak cucu Nabi Adam as. sewaktu dalam proses pembuatannya dalam rahim seorang Ibu selama 40 hari berupa نطفه (segumpal mani) 40 hari علقه(segumpal darah), 40 hari lagi berupa مضغه (segumpal daging). Baru kemudian ditiupkan ruh ke dalam daging itu sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Nabi saw ;
عن عبد الرحمن عبد الله بن مسعود حدثنارسول الله وهوالصادق المصدوق ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذالك ثم يرسل اليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤ مر باءربع كلمات بكتب رزقه واجله وعمله وشقي اوسعيد
Itulah seputar sejarah terciptanya Nabi Adam as. Tentang kebenarannya, hanya Allah swt. sendiri yang tahu. Manusia hanya bisa mengambil ibroh dari kejadian-kejadian yang sudah ada.



PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Dari sekian makhluk Allah swt ternyata manusialah yang paling indah dan paling bagus penciptaanya,Manusia di berinilai lebih dengan di beri aqal yang dengan aqal itu manusia mampu memilih dan memilah mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus di tinggalkan.
Di antara yang menyebabkan manusia menjadi makhluq unggulan adalah mereka di beri nafsu yang jika manusia mampu menggiring nafsunya dan mengarahkanya pada jalan yang benar mereka akan selamat baik di Dunia maupun Akhirat yang akan memperoleh hakikatnya kebahagiaan yang abadi,sebagaimana Rosulullah Saw yang mana beliau adalah makhluq yang dari golongan Manusia,keutamaan beliau melebihi atas segala makhluq ciptaan Allah Swt, Beliau adalah manusia biasa butuh makan,minum,tidur dan lain-lain,namun beliau mampu megalahkan nafsunya dan menjadikanya sebagai budak untuk aqolnya dan Beliau mampu mengarahkan nafsunya pada jalan yang di ridloi Allah Swt.
Jika para Malaikat selalu bertasbih mensucikan Allah Swt selalu patuh dan tak pernah durhaka pada Allah Swt itu adalah hal yang wajar karna mereka di ciptakan oleh Allah Swt tanpa di beri nafsu,malaikat makan bukan berupa makanan Malaikaaat minum bukan berupa minuman. Dan itu lain dengan manusia, mereka punya nafsu yang dengan keberadaan nafsu itu sebagi pendorong untuk melakukan suatu tindakan yang di bilang melanggar syari’at, tindakan yang bisa membawa manusia kedalam kesesatan, namun jika manusia mampu mengontrol dan mengarahkan nafsunya dialih fungsikan sebagai pendorong psda ketaatn pada alloh itu akan brnilalai plus, satu ibadah yang dilakukan manusia akan lebih utama dibanding satu ibadah yang dilakukan para malaikat
Rosululloh SAW dalam satu ketika pernah bersabda sepulang dari peperangan yang besar melawan orang kafir beliau bersabda ”kita semua baru saja pulang dari peperangan yang kecil, dan kita akan menghadapi peperangan yang besar “ para sahabat bertanya kepada nabi “perang apa itu wahai utusan Alloh?”
Rosululloh bersabda “ yaitu perang melawan hawa nafsu “
Itulah perang yang besar dimana nafsu akan selalu menyerang manusia pada setiap saat, jika kalah ia akan menyerang, dan jika menang ia juga akan menyerang.
Kaitannya dengan proses penciptaan manusia Alloh berfirman dalam surat al-rum ayat:20
ومن ا ياته ان خلقكم من تراب ثم انتم بشر تنتشرون
Artinya “ dan diantara bukti-bukti alloh bahwa alloh telah menciptakan kalian semua dari debu yang kering kemudian kalian menjadi manusia yang menyebar kemana-mana “.
Alloh SWT pertama kali menciptakan manusia adalah Adam yang bahan dasar dalam proses pembentukan adam adalah dari debu, kemudian dari adam itulah akhirnya menurunkan anak cucu manusia yang menyebar keseluruh penjuru dunia,
Alloh berfirman dalam surat al-fathir aya :11
                                •     
Artinya “ dan Alloh telah menciptakan kalian semua dari debu yang kering kemudian dari segumpal mani kemudian Alloh menjadikan kalian semua berpasang-pasang(laki-laki dan perempuan)dan tidak ada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula)melahirkan melainkan dengan sepengetahuanNYA dan sekali-kali tidak di panjangkan umurnya melainkan(sudah di tetapkan)dalam kitab(laukhil makhfudz)sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah Swt adalah mudah"Alloh berfirman lagi dalam surat al-mu’minun ayat:12-13
             •
Artinya “ dan sungguh kami (alloh) telah menciptakan manusia dari sari pati dari debu yang basah, kemudian kami jadikan dari sari pati itu air mani ( yang disimpan ) dalam tempat yang kokoh ( rahim ) kemudian air mani itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging kemudian kami jadikan dia mahluk yang ( berbentuk ) lain maka maha suci alloh pencipta yang sebaik-baiknya “
Itulah kebesaran dan keagungan alloh SWT , Alloh mampu menciptakan dari barang yang hina menjadi mahluk yang sempurna dan mulia, Alloh begitumaha bijaksana dalam proses pembuatan manusia mulai dari yang berasal mani kemudian disimpan dalam tempat yang paling aman yaitu dalam rahim seorang ibu sampai ahirnya menjadi wujud manusia, nabi bersabda : عن عبد الرحمن عبد الله بن مسعود حدثنارسول الله وهوالصادق المصدوق ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذالك ثم يرسل اليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤ مر باءربع كلمات بكتب رزقه واجله وعمله وشقي اوسعيد
Artinya” dari abdur-Rohman abdullah bin mas’ud bahwa Rosululah Saw bercerita pada saya dan beliu adalah orang yang selalu membenarkan pada sesutu yang di benarkan, sesungguhnya satu-satuny kalian semua itu awal awal penciptaanya berada dalam perut seoranag ibu selama 40 hari berupa air mani,40 hari kemudian (berubah)menjadi segumpal darah,40 hari kemudian manjadi segumpal daging,kemudian di suruhlah malaikat untuk meniupka ruh kedalam daging itu dan malaikat di suruh untuk menulis (menetapkan) empat kalimat yaitu:
1 tentang rizqinya:
2 tentang ajalnya
3 tentang amal perbuatanya
4 tentang celaka atau bahagianya
Dalam surat As sajadah ayat 7-9 Allah berfirman
الذي احسن كل شيئ خلقه وبدأ خلق الانسان من طين ثم جعل نسله من سلالةمن ماء مهين ثم سواه ونفخ فيه من روحه وجعل لكم السمع والأبصر والأفئدة قليلا ماتشكرون
Artinya : Dia yang membuat segala sesuatu yang ciptakan dengan sebaik baiknya, dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina ( air mani) kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam ( tubuh) nya, ruh ( ciptaan) nya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati ( tetapi) kalian sedikit bersyukur”
Manusia begitu banyak yang melupakan tentang asal kejadiannya bahwa ternyata mereka adalah dari barang yang hina, sehingga dengan mereka tidak memperdulikan tentang asal kejadiannya mereka hidup didunia deengan kehidupan yang tidak selayaknya dilakukan seperti sombong, membanggakan dir, dan lain sebagainya. Bahkan diantara mereka ada yang berani mengaku menjadi tuhan sebagaimana Fir’aun pada zaman Nabi Musa as, dalam surat At thoriq ayat 5-7 Allah berfirman:
فلينظرالانسان مم خلق خلق من ماء دافق يخرج من بين الصلب والترائب
Artinya : Maka hendaklah memperhatikan dari apakah mereka diciptakan ? dia diciptakan dari air yang terpancar ( mani) yang keluar dari tualang shulbi dan tulang dada”
Maha suci Alloh yang maha sempurna menciptakan manusia dengan bentuk yang indah, Alloh yang maha segalanya dan maha kuasa untuk menciptakan segala bentuk apapun,
sebagamana firmanNYA
ان الله على كل شيئ قدير
“ Sesungguhnya Alloh maha kuasa atas segala sesuatu “

Sudah sering Allah swt menyinggung tentang prilaku-prilaku manusia yang di anggap sudah keluar dari rel kewajaran manusia atau suatu kebiasaan yang semestinya tidak dilakukan, bagaimana tidak mereka dengan seenaknya merusak tatanan yang sudah di tata rapi oleh Alloh SWT, mereka hidup di muka bumi dengan sifat kesombongan dan keangkuhan, mereka tidak melihat dari apa asal kejadian mereka, sering Alloh mengingatkan manusia ” janganlah kalian semua berjalan ( hidup ) dimuka bumi dengan kesombongan” karena dengan kesombongan akan menghancurkan diri manusia.
Syekh ibrohim bin isma’il mengatakan “ tidak tahukah kalian bahwa kekufuran itu bukan disebabkan dengan adanya kemaksiatan, akan tetapi kekufuran itu di sebabkan oleh kesombongan dengan meninggalkan rasa hormat “ segbaimana yang di lakukan oleh iblis la’natulloh ‘alaihi, dia menjadi kafir karena tidak mau hormat pada nabi adam AS.
Dengan melihat tentang asal kejadian manusai di harapkan bisa membawa kebiasaan seseorang untuk muhaasabatun nafsi atau introspeksi diri, karena dengan muhaasabatun nafsi itu merka akan lebih tahu jati dirinya dan apa yang harus mereka kerjakan dan mereka tinggalkan.sehingga mereka tidak mudah berbuat perkara yang dilarang oleh Alloh, Alloh berfirman “ introspeksilah diri kalian semua sebelum kalian di introspeksi ( di hisab oleh Alloh SWT )
SALAF DAN KHOLAF
A. terjadi perbedaan pendapat.
Agaknya akan semakin seru apabila kajian islam antara salaf dan kholaf sipersoalkan keduanya adalah wacana terhadap metode pemahaman islam sebagai agama yang kaaffah dengan model pendekatan dan interpretasi yang berlainan arah meskipun tidak keseluruhan, islam sebagai agama samawi dengan membawa aturan-aturan yang menyangkut dalam berbagai permasalahan, semua realita dari berbagai aspek kehidupan telah diatur oleh islam yang iakui oleh pengikutnya sebagai firman ilahi atau wahyu sebagai firman yang qodim (pemahaman ini ditentang oleh kelompok mu’tazilah yang mengklaim bahwa firman allah yang ditulis diberbagai mushaf itu tidak qodim dan akan menghukum siapa saja yang mengakui al-qur’an sebagai firman qodim termasuk yang dialami imam Ahmad ibnu Hambali oleh kholifah Al-Mu’tashim yang menjadikan mu’tazilah sebagai ideologi negara) teks yang berisikan aturan ajaran agama pada akhirnya disebut sebagai al-qur’an sekaligus sebagai kitab suci ummat islam.
Pastor bernama joseph d.fessio yang dikutip oleh pipes dalam bukunya “the pope and the koran “ (paus dan al-qur’an) mengatakan dari pernyataan seorang paus dalam pandangan tradisional islam "tuhan telah menurunkan kata-katanya kepada muhammad yang merupakan kata-kata abadi, al-qur’an sama sekali bukan kata-kata muhammad karena itu bersifat abadi sehingga tidak ada peluang untuk menyesuaikannya dengan kondisi dan situasi atau menafsirkannya kembali (there’s no possibillity otadapting or interpreting it)" menurut paus sifat al-qur’an yang semacam itu memiliki perbedaan utama dengan konsep dalam yahudi dan kristen. Pada kedua agama ini kata paus tuhan bekerja melalui makhluknya maka kata-kata dalam bible, bukan hanya kata-kata tuhan tetapi juga kata-kata isa, kata-kata markus.
Demikian ini adalah pernyataan seorang non muslim yang mengakui al-qur’an sebagai firman tuhan yang abadi, ada benarnya pernyataan seperti itu al-qur’an sebagai firman Allah yang sudah pasti benar bukan lagi dhanniyu al-wurud (datangnya masih diragukan) tapi sudah qoth’iyah al-wurud (datangya firman sudah pasti darinYa) namun yang kurang setuju adalah ungkapan sang paus bahwa tidak ada peluang untuk menafsirkan kembali. Perlu diketahui kata-kata atau lafad dalam al-qur’an itu ada dua
1. dhonniyu ad-dilalah
2. qoth’iyu ad-dilalah.
qoth’iyah ad-dilalah itu sebagaimana yang telah dikatakan oleh as-syekh abdul wahab, kholaf adalah “nash (teks) al-qur’an yang lafadnya menunjukkan makna pada satu ketentuan kefahaman tanpa mengandung unsur ta’wil (pengalihan makna lain) dan tidak ada ruang untuk mengartikan selain pada satu makna contoh
ولكم نصف ما ترك ازواجكم ان لم يكن لهن الولد
ayat ini memberikan makna bahwa bagian suami dari harta warisan sebesar setengah dari total keseluruhan ini bile tidak punya anak laki-laki
.begitu juga ayat
الزانية والزان فاجلدوا كل واحدمنهما ماءة جلدة
Ayat ini memberikan arti secara pasti dan tidak ada keraguan lagi bahwa pelaku zina dihukum dengan seratus kali cambukan. Adapun nash yang dhonniyah ad-dilalah yaitu teks ayat al-qu’an menunjukkan pada satu makna dan masih dimungkinkan untuk diartikan pada selain makna itu contoh :
حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الحنزير
secara globalnya ayat ini mengandung arti diharamkan atas kalian semua yaitu bangkai dan darah dan daging babi
Lafad الميتة disini masih umum bisa memasukkan bangkai hewan darat (البر )atau hewan laut (البحر )namun dalam konteks ini tidak bisa diartikan dengan mencakup dua hal tersebut, karena bangkainya hewan dilautan itu hukumnya halal hokum demikian diterangkan oleh hadis nabi
البحر هو الطهور ماءه الحل ميتته

begitu juga ayat-ayat yang berkaitan dengan alam, umumnya menggunakan kata yang masih mujmal (global) musytarok (sama dalam makna beda dalam kata)maka bermula dari inilah sehingga muncul beberapa mufassir, para intelektual dengan berbeda-beda pemaknaan menurut istilah salaf dan kholaf disamping juga pengaruh era globalisasi direformasi dalam kondisi masyarakat selain salaf dalam suatu riwayat disebut golongan para Shahabat nabi (orang yang semasa Rolullah mempercayainya)
kata salaf diindentikkan dengan kaum sarungan yang alergi terhadap perkembangan zaman
tidak mau dengan teknologi dan cenderung menutup diri dan jauh dari interaksi dengan dunia luar yang hidup dengan nuansa liberal, fulgar, glamour, funky, sehingga diluar banyak yang menklaim bahwa salaf itu kamso (kampungan tur deso) kolot, kuper (kurang pergaulan) tidak rasional dan setumpuk klaim-klaim yang lain.
Memang sebagian yang berwatak salaf mereka lebih memilih hidup jauh dari keramaian mereka umumnya hidup di daerah-daerah terpencil dan mengasingkan diri (uzlah) tidak mau menyentuh teknologi dengan alas an teknologi itu berpotensi sebagai media adanya kemaksiatan mereka sangat berhati-hati dalam segala bentuk tindakan (ikhtiyath) laki-laki sama perempuan yang bukan mahram sangat tidak diperbolehkan untuk campur dalam satu majlis (ikhtilath).
Ideology orang salaf mengikuti alur pemikiran ulama'ulama' klasik (salaf) yang lebih mengedepankan tasawwuf (sufistik).
Demikiankah salaf ? sebelum menentukan jawaban maka pada dasarnya salaf adalah sebutan atas ideology oleh sekelompok orang yang dalam akidahnya mengikuti pemikiran para shahabat yang notabenenya adalah sekelompok orang yang masih jernih dalam berfikir dalammenafsirkan sebuah ayat hal demikian disebabkan oloeh pola piker mereka yang belum terkontaminasi oleh pemikiran luar yang lebih moderat, referensi yang dibuat sebagai acuan adalah doktrin al-qur'an dan al-hadits, akal dinomer duakan dalam perananya sebagai alat berfikir hanya kasus-kasus tertentu mereka mengoptimalkan akalnya.
Namun itu tidak semua karena salaf itu lebih kepada ideology pemahaman agama. yang kaitannya dengan materi atau yang berhubungan dengan financial orang salaf sebenarnya tidak antipati dengan perkembangan teknologi justru itu semua dibuat sebagai pelantara (wasilah) dalam rangka pengabdian diri sebagai seorang hamba.teknologi merupakan kebutuhan yang pokok (primer) yang sulit untuk dihindari jadi orang salaf bukan berarti orang yang menjauh dari perkembangan zaman terebih pada perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Dibawah ini adalah yang pernah Dinukil dari kitab "Adwa'un 'ala Kutubis Salafi fil-Aqidati" Oleh Syaikh Muhammad bin Rabi' bin Hadi Al Madkhali Judul Indonesia "Berkenalan Dengan Salaf"
Penerbit Maktabah Salafy Press

SALAF DAN SALAFIYAH

A. Makna Salaf
Kata Salaf sering diucapkan. Maksudnya adalah generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi'in (generasi pasca sahabat) yang berada di atas fitrah (dien/agama) yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah. Mereka menyandarkan aqidah kepada Alqur'an dan Assunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai dengan pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat tersebut merusak kaum muslimin. Untuk mengetahui batasan Salaf, maka kita harus mengetahui batasan jaman dan manhaj mereka.

B. BATASAN JAMAN
Adapun batasan jaman mereka adalah 3 generasi yang pertama yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassallam. Untuk keutamaan mereka Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassallam bersabda,
"Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku (para Sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi'in) kemudian orang-orang setelah mereka (tabi'ut tabi'in)" (Hadits Riwayat Imam Bukhary dalam Shahihnya)
Demikian itu dikarenakan segala kebaikan yang ada pada diri mereka, dan di masa mereka kelompok-kelompok sesat belum menampakkan permusuhan dan belum menguasai kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sesudah mereka tiada. Berarti yang dimaksud Salaf menurut tinjauan sejarah adalah para sahabat Nabi, kemudian tabi'in, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka secara kebaikan (tabi'ut tabi'in).



C. BATASAN MANHAJI
Adapun batasan manhaji adalah orang-orang yang konsisten memegang prinsip-prinsip Alqur'an dan Assunnah, mengutamakan prinsip tersebut di atas prinsip-prinsip akal manusia dan mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada keduanya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wata'ala,
"Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur'an) dan Rasulullah (Assunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya"(An Nisa:59)
Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh mereka (Ahlus Sunnah). Karena kelompok-kelompok yang menyelisihi mereka dengan berbagai macam bentuknya adalah tidak konsisten di atas manhaj (jalan) ini. Kelompok yang lain menolak sebagian hadits-hadits, walaupun hadits tersebut shahih dan mentakwilkan ayat-ayat yang sudah jelas dengan menyangka bahwa semuanya bertentangan dengan akal sebagaimana terjadi pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Sebab tidak ada yang menetapkan secara lahiriyah dan menafikan tasybih (penyerupaan kepada makhluknya) kecuali ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka.
"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar"(At taubah:100)
Orang-orang yang telah dijelaskan dalam ayat tersebut dengan sifat-sifatnya adalah Salafus Shalih. Adapun orang-orang (generasi) setelahnya dan menempuh jalan yang ditempuh mereka maka dinisbahkan kepada mereka dengan huruf "ya", nisbahnya menjadi Salafy (baca: SALAFI -red). Adapun orang-orang yang datang setelahnya dan tidak mengikuti jalan mereka, mereka adalah khalaf dan mereka bangga dengan keadaan yang demikian itu. Mereka memisahkan jalan mereka sendiri dari jalan Salaf, khususnya dalam hal menetapkan Sifat-sifat Allah. Bukti nyatanya yang demikian itu ada dalam makalah-makalah mereka yang menyatakan jalan Salaf adalah selamat dan jalan khalaf adalah lebih berilmu dan lebih lurus. Makalah ini serta kebatilannya sangat mahsyur (terkenal). Dan juga dibawakannya makalah ini sebagai bukti pengakuan orang-orag khalaf bahwa mereka bukan di atas jalan Salaf, dan bahwasanya jalannya Khalaf lebih berilmu dan lebih lurus.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membatalkan ungkapan ini dan menetapkan bahwa jalan Salaf adalah menghimpun segala sifat-sifat yang baik. Maka dari itu, JALAN MEREKA (SALAFUS SHALIH) adalah LEBIH SELAMAT, ILMIYAH, DAN LURUS.

KHOLAF

Ma’na Kholaf
khoaf adalah generasi setelah periode Rosulullah (berakhir tahun 11 hijriyah) shahabat (berakhir pada tahun 100 hijriyah) tabi’in (masanya berakhir tahun 150 hijriyah) tabi’ut tabi’in (berakhir 220 hijriyah) kecuali generasi setelah tabi’ut tabi’in namun masih komitme dengan manhaj salaf secara kompleks maupun personal maka mereka disebut salafiyah. Priode kholaf merupakan periode akhir dimana model pemikirannya adalah pemikiran baru yang cenderung memakai rasio dalam menginterpretasikan satu teks dengan menyesuaikan terhadap kontekstualnya yang dihadapi sekarang.
Mereka tidak lagi “sendiko dawuh” pada isi teks baik al-qur’an maupun al-hadits tafsiran klasik (salaf) yang dianggap tidak sesuai zaman serta tidak relefan mereka simpan rapat-rapat bahkan memendamnya dan menggantikan dengan penafsiran baru yang secara dhohirnya lebih sesuai dengan ketentuan zaman terlepas apakah memang demikian itu yang paling pas atau sebaliknya.
Shahabat-shahabat nabi yang paling akhir :
1. abu ath-thufaili amir bin wasilah (wafat di makkah tahun 100 hijriyah)
2. anas bin malik (wafat di bashroh, irak tahun 93 hijriyah)
3. Abdullah bin abi aufa (wafat dikufah,irak tahun 86 hijriyah)
4. Abdullah bin busri al-mazani (wafat di syam tahun 88 hijriyah)
5. Abdullah bin al-harits bin juz'I az-zubaidy (wafat di mesir tahun 86 hijriyah)
6. saib bin yazid (wafat di madinah tahun 91 hijriyah)

MANHAJ KHOLAF
Dalam menuntaskan berbagai polemik generasi kholaf memakai al-qur’an dan al-hadits sama seperti periode salaf. Bedanya kalau kholaf selalu berfikir yang masuk akal (rasio) meskipun terkadang juga mempercayai yang irrasional (ta’abbudy) itu dilakukan hanya sub-sub tertentu yang porsinya tidak begitu banyak Untuklebih jelasnya berikut makalah Nafiisah M. Ridlwan mengenai yang ada kaitanya dengan kholaf
TINJAUAN MENDASAR DALAM SEMANGAT PEMBARUAN
Ide pembaruan Islam yang tercetus sejak awal abad XIII H (19 M), semakin mendapatkan tempatnya di era ini. Era pasca modernisme sebagai lanjutan dari fase modern banyak memberikan peluang bagi setiap pemikiran untuk berkembang. Termasuk diantaranya adalah ide pembaruan Islam, yang menyuarakan gagasan-gagasan yang cukup memberikan suasana baru di dunia Islam. Berbagai fenomena pasca modernisme terus melaju mengisi setiap sisi kehidupan. Warna relatifisme dan pluralisme menciptakan ruang-ruang yang lebar bagi berkembangnya ide-ide pembaruan. Ide yang cukup relevan karena dianggap bersifat kritis dan korektif terhadap konsep apapun termasuk teks-teks keagamaan yang telah mapan Di dunia Islam, sebagian kalangan menganggap ide tersebut perlu mendapat dukungan kuat. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai bahaya besar bagi perjuangan kebangkitan umat Islam. Para orientalis dengan penuh optimistis menggantungkan harapan besar pada gerakan-gerakan pembaruan ini. Bahkan mereka menyusun langkah-langkah khusus untuk mendorong kaum muslimin agar berinisiatif dan aktif dalam upaya pembaruan tersebut. Tidak dipungkiri bahwa semangat pembaruan banyak ditangkap oleh sebagian kaum muslimin sebagai sebuah perjuangan untuk mengembalikan kebangkitan Islam. Dalam hal ini penting bagi kita untuk mengkritisi, apakah gagasan-gagasan pembaruan di era ini memiliki relevansi dengan perjuangan Islam?
Mengapa Muncul Ide Pembaruan?
Kemunculan ide pembaruan dilatarbelakangi oleh suatu proses yang panjang. Sejak awal abad ke-2 H (8M). Islam dalam perkembangan dakwahnya yang makin meluas mengharuskan Islam berinteraksi dengan peradaban dan agama lain. Sehingga timbul pergolakan pemikiran antara Islam dengan pemikiran asing. Hal ini mendorong para pemikir Islam untuk membahas aqidah Islam dari berbagai segi. Termasuk mengemukakan argumentasi untuk mempertahankan aqidah Islam ketika menghadapi aqidah lain (terutama Nashrani dengan menggunakan cara berfikir filsafat Yunani). Akhirnya untuk menghadapi orang-orang Nashrani, umat Islam pun mempelajari filsafat untuk membantah tuduhan-tuduhan terhadap aqidah Islam, yang pada perkembangannya disebut dengan ilmu kalam.
Ilmu kalam ini dikembangkan oleh generasi setelah shahabat (khalaf) yang berbeda dengan generasi shahabat (salaf). Kalangan khalaf telah membahas lebih jauh tentang dzat Allah dengan menggunakan metode pembahasan filosof Yunani. Metode ini menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal tentang iman Para pemikir Islam berusaha mempertemukan Islam dengan pemikiran filsafat ini. Cara berfikir ini memunculkan interpretasi dan penafsiran yang menjauhkan sebagian arti dan hakekat Islam yang sebenarnya. Hal ini ditambahkan dengan masuknya orang-orang munafik ke tubuh umat Islam. Mereka merekayasa pemikiran dan pemahaman yang bukan berasal dari Islam dan justru menimbulkan saling pertentangan. Terlebih lagi kelalaian kaum muslimin terhadap penguasaan bahasa Arab dan pengembangan Islam yang terjadi sejak abad ke-7 H, mengakibatkan Islam semakin mengalami kemerosotan.Terkikisnya pemahaman Islam yang hakiki terus berlanjut sampai awal abad ke-13 H. Saat itu umat Islam mulai mengupayakan pembaruan untuk memahami syariat Islam yang akan diterapkan dalam masyarakat. Islam ditafsirkan tidak semata-mata selaras dengan isi kandungan nash-nash.
Disaat kaum muslimin mengalami kemerosotan berfikir, cara pandang mereka mulai teracuni oleh cara pandang asing. Tsaqofah Islam kian melemah. Upaya-upaya pembaruan semakin merebak. Para pembaru memandang perlunya mengatasi masalah dengan melakukan interpretasi hukum-hukum Islam agar sesuai dengan kondisi yang ada. Mereka mengeluarkan kaidah-kaidah umum dan hukum-hukum terperinci sesuai dengan pandangan tersebut. Bahkan mereka membuat kaedah umum yang tidak berdasarkan perspektif wahyu (Al-Quran dan Hadits).
Diantara kaedah dasar yang sering digunakan adalah : ‘Tidak ditolak perubahan hukum karena perubahan zaman’. ‘Adat istiadat dapat dijadikan patokan hukum’.

Menelusuri Semangat Para Tokoh Pembaruan
1. Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M)
Sebagai langkah untuk membangkitkan kembali umat Islam, Sayyid Khan mengemukakan tiga langkah yang harus ditempuh : (1) bekerjasama dalam bidang politik; (2) mengambil ilmu-ilmu kebudayaan Barat; (3) menafsir ulang Islam dalam bidang pemikiran. Gagasan untuk menjalin hubungan dengan negara Inggris dan menyingkirkan penolakan kaum muslimin terhadap kemajuan Barat mulai ia perjuangkan.
Sayyid khan berpendapat bahwa Al-Quran merupakan satu-satunya asas untuk memahami Islam. Hal ini ia dasarkan pada perkataan Umar Ibnu Khathab, "Cukuplah bagi kita kitabullah". Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka untuk memahami Al-Quran tidak mungkin bersandar pada Al-Quran menggunakan penafsiran kontemporer. Ia berpendapat bahwa ayat-ayat muhkamat bersifat asasi atau mengandung dasar-dasar aqidah, sedangkan ayat-ayat mutasyabbihat menerima lebih dari satu penafsiran yakni mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Perubahan terjadi setiap saat, ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia bertambah. Oleh karena itu untuk menghadapi perubahan tersebut harus terjadi perubahan pemahaman manusia terhadap ayat-ayat mutasyabbihat. Karena boleh jadi akan ada penafsiran lain yang lebih sesuai dengan ilmu pengetahuan alam manusia masa kini.
Menurut Ahmad Khan, hanya Al-Quran yang menjadi asas dalam memahami agama, sedangkan hadits yang dapat dijadikan sebagai sandaran hanyalah hadits-hadits yang sesuai dengan nash dan ruh Al-Quran, yang sesuai dengan akal dan pengalaman manusia dan yang tidak bertentangan dengan hakekat sejarah. Bahkan setiap hadits yang bertalian dengan masalah dunia hanya berlaku khusus bagi kondisi dan keadaan bangsa Arab pada masa nubuwah, dan tidak mengikat bagi seluruh kaum muslimin.
Tampaknya poin terpenting yang dinafikan Ahmad Khan adalah dalam menerima hadits. Ia berpendapat perkara-perkara agama bersifat tetap, sedangkan perkara-perkara dunia berubah-ubah. Sampai disini dapat disimpulkan bahwa menurut Ahmad Khan, hadits-hadits tidak diterima sebagai sumber hukum diera setelah masa kenabian. Ia pun akhirnya menyangsikan kelayakan pendapat-pendapat fuqaha dahulu untuk diterapkan pada masa sekarang. Maka pintu ijtihad terbuka untuk seluruh masalah. Menurutnya perbedaan fisi dan kebebasan yang luas merupakan satu-satunya jalan untuk memajukan umat. Salah satu pendapatnya yang cukup mendapat tanggapan keras dari beberapa kalangan adalah bahwa Allah telah menciptakan dan membuat hukum-hukum, akan tetapi Allah tidak turut campur dalam hukum alam. Dari sisi cukup memperlihatkan bahwa ia menggunakan sistem nilai dari pemikiran Barat untuk memahami agama dan menafsirkan Al-Qur’an.
2. Chiragh Ali (1844-1895)
Chiragh Ali adalah murid sayyid Ahmad Khan. Ia melakukan studi banding tentang Bibble dengan Al-Qur’an, sebagai upaya untuk berargumentasi dengan penganut kitab Bible. Ia juga melakukan penelitian kembali sumber-sember hukum Islam. Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa Islam tidak terikat pada sistem sosial tertentu. Akhirnya ia pun memunculkan suatu penafsiran yang menyeluruh dan pembaruan dalam lapangan hukum dan politik yang didasarkan atas Al-Qur’an.
Menurutnya Islam harus beradaptasi dengan kondisi zaman yang berubah-ubah, agar senantiasa mampu hadir ke tengah-tengah umat dalam menyelesaikan problematika kehidupan yang terjadi. Dalam muqadimahnya ia mengemukakan bahwa Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad –Nabi bangsa Arab—didalamnya terdapat elastisitas yang memungkinkan bagi Islam untuk beradaptasi terhadap perkara politik dan sosial yang terjadi di sekitarnya. Menurutnya Al-Quran bukan merupakan penghalang kemajuan spiritual dan tidak melarang kebebasan berfikir di antara kaum muslimin serta bukan penghalang inovasi dalam segala aspek kehidupan baik dalam politik sosial, pemikiran maupun segi moral. Inti pemikirannya tidak berbeda nyata dengan gurunya Sayyid Ahmad Khan.
3. Sayyid Amir Ali (1849-1928)
Amir Ali adalah murid Sayyid Khan yang memandang bahwa kondisi masyarakat yang senantiasa berubah menuntut Islam yang bersifat universal dan senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Usahanya untuk turut memajukan umat Islam dalam menghadapi tantangan jaman ia tuangkan dalam karyanya "Ruhul Islam" (Spritual Islam). Masih dengan semangat yang sama dengan para pendahulunya, dalam buku tersebut ia menyatakan : "Sesungguhnya sikap prisip-prinsip Islam yang kaku dan tidak beradaptasi terhadap kondisi dan pemikiran masa kini, mengakibatkan berkurangnya eksistensi Islam sebagai agama universal. Untuk memurnikan nilai hukum serta pemahaman Islam yang dibawa oleh Muhammad, sebagian orang yang adil dalam mencari kebenaran harus menampakkkan bahwa prinsip-prinsip Islam bersifat sementara, sehingga terus disesuaikan dengan tuntutan-tuntutan jaman sekarang".
4. Muhammad Abduh (1849-1903)
Abduh adalah salah seorang murid Al Afghani. Ia berpandangan bahwa reformasi sosial serta pendidikan Islam merupakan jalan menuju reformasi politik serta pembebasan kaum muslimin dari cengkraman Barat. Penafsiran yang ia lakukan memang tidak menyerukan seruan revolusioner untuk memperbaiki kondisi yang ada berdasarkan pemikiran-pemikian kapitalisme yang kafir, namun hanya tindakan kompromi dan adaptasi antara Islam dengan perasaan zaman dan tuntutan-tuntutannya.
5. Ali Abdurraziq (1888-1966)
Ali Abdurraziq adalah salah seorang teman akrab Abduh. Ketika terjadi penghapusan kekhilafahan pada tahun 1924, ia menampilkan fikiran berjudul "Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan" sebagai upaya untuk memajukan umat Islam dari ketertinggalan Barat. Hanya saja dalam upayanya tersebut ia telah terbawa oleh gaya pemikiran Barat. Hal ini terlihat dalam buku yang ditulisnya. Ia menyatakan bahwa khilafah merupakan sistem yang dikenal oleh kaum muslimin berdasarkan sejarah, namun dalam prinsip-prinsip hukum tidak ada suatu nash pun yang mengharuskan hal tersebut. Dalam penutup bukunya ia menyatakan "Sesungguhnya dienul Islam terlepas dari dari khilafah yang dikenal oleh kaum muslimin". Sesungguhnya hal itu sedikitpun tidak berada didalam batas-batas dia, hukum, maupun batas-batas tugas hukum serta pusat-pusat pemerintahan. Namun kekhilafahan semata-mata merupakan garis politik murni yang tidak berhubungan dengan dien. Ia tidak mengenal kekhilafahan, tidak mengingkarinya, tidak memerintahkan dan tidak pula melarangnya. Ia membiarkan hal tersebut kepada kita agar kembali pada hukum-hukum akal dan pengalaman umat-umat sebelum kita, serta prinsip-prinsip politik. Abdurraziq menegaskan bahwa keberadaan pemerintahan dan pengaruh-pengaruh kekuasaan dari masa Nabi hanya sekedar sarana untuk memperkokoh dakwah dan agama. Ia memperkenalkan sistem politik Barat agar diambil dalam upaya menegakkan pemerintahan.


6. Rasyid Ridha (1865-1935)
Rasyid berpendapat bahwa kaum muslimin diwajibkan untuk melakukan pembelaan terhadap orang-orang non muslim yang tunduk di bawah pemerintahan kaum muslimin dan memperlakukan mereka sama seperti terhadap kaum muslimin sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh syariat. Pemuda Islam harus memiliki patriotisme yakni menjadi teladan yang baik bagi rakyat negaranya, apapun agama mereka yang bekerja sama dalam kegiatan yang sah demi mempertahankan kemerdekaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, kebaikan, kekuatan dan sumber-sumber sejalan dengan hukum Islam yang mengutamakan hubungan erat antara hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
6. Thaha Husein (1889-1973)
Menurutnya untuk mencapai kemajuan maka penting mengadakan hubungan dengan negara-negara Eropa. Ini adalah kesempatan yang baik, hanya saja tetap harus bersifat selektif dalam melakukan pendekatan terhadap kebudayaan Eropa. Ia juga berpendapat bahwa kaum muslimin telah menyadari adanya prinsip bahwa sistem politik dan agama adalah dua hal yang berbeda satu sama lain dan bahwa konstitusi dan ketenangan negara, lebih dari yang lain, merupakan landasan-landasan yang harus dilaksanakan.
7. Fazlur Rahman (1919)
Menurut pendapatnya rakyat di negara Islam mempunyai kekuasaan untuk membuat undang-undang. "Kedaulatan Allah" memiliki konsekuensi berupa perlu adanya suatu kerangka kerja dari ajaran-ajaran moral tersebut dalam rangka melaksanakan hak rakyat untuk membuat undang-undang. Al-Qur’an bukanlah kitab undang-undang melainkan kitab yang berisi ajaran-ajaran dan petuntuk Tuhan (Allah) untuk kepentingan umat manusia. Ajaran-ajaran ini masih harus diberi bentuk segar dalam pengertian legislasi. Dalam proses pembentukan hukum ini, prinsip ijtihad dan ijma’ memiliki peran penting. Dua-duanya memberikan kepastian yang senantiasa diperlukan dalam hukum dan juga faktor-faktor yang memungkinkan adanya perubahan dan dinamika hukum sehingga itu dapat mencerminkan gagasan-gagasan perubahan, kemajuan dan perkembangan masyarakat.
Ijma’ diartikan sebagai konsensus atau kesepakatan dari suara masyarakat. Kesepakatan inilah yang menentukan kebijaksanaan dalam menegakkan suatu produk perundang-undangan. Dalam masyarakat memungkinkan banyak ijma’ sehingga suatu ijma’ dapat digantikan kedudukannya oleh ijma’ lain yang lebih sesuai. Sedangkan ijtihad diartikan sebagai upaya untuk berfikir dan dalam hal ini tak seorangpun bisa memberikan atau mencabut hak untuk berfikir. Dengan konsep ini suatu masyarakat akan berjalan dengan baik karena masyarakat menjalankan undang-undang (peraturan) yang mereka inginkan. Dari sini tampak adanya gagasan untuk menggunakan suara mayoritas sebagai penentu kebijakan sebagaimana yang terjadi pada sistem demokrasi.
8. Asghar Ali Engineer (Sosiolog, Direktur Universitas Bombay)
Teolog asal India yang juga Direktur Institut of Islamic Studies Bombay ini menekankan perlunya penafsiran Al-Quran dan hadits dengan metode kontekstual (disesuaikan dengan sosiologis yang tengah berkembang). Asghar mengaku bahwa Al-Quran adalah buku suci pertama di dunia yang memberi hak-hak penuh pada kaum perempuan. Namun dalam perjalanan penafsirannya, telah mengalami banyak penyimpangan yang menempatkan perempuan di bawah kedudukan laki-laki. Ia pun membenarkan tuntutan persamaan (laki-laki dan perempuan) dalam segala bidang. Ia menolak penafsiran bahwa laki-laki adalah qowwam (pemimpin) kaum perempuan yang sering digunakan untuk mengalahkan perempuan. Dengan kerangka kontekstual progresif, maka persamaan hak waris perempuan dan laki-laki, hak perceraian bagi perempuan, pakaian setengah telanjang dan kenyataan perempuan menjadi presiden adalah sah-sah saja.
9. Fathima Mernissi
Fathima Mernissi dikenal sebagai teolog dan sosiolog asal Maroko. Mengaku dilahirkan di lingkungan harem, namun kemudian berhasil meraih gelar doktor di universitas Brandies. Mernissi menyoroti status perempuan Arab yang belum setara dengan laki-laki. Kehidupan harem yang serba komunal, poligamistis yang kental oleh stratifikasi sosial, hijab dan hudud merupakan batas-batas yang mengungkung perempuan menjadi bodoh dan lemah. Impiannya melampaui batas-batas ini terbuka saat imperialis Perancis mulai menjarah wilayah Maroko. Kesal dengan kecaman terhadap munculnya perempuan di pentas politik semisal Benazir di Pakistan, Mernissi pun melakukan penelusuran sejarah. Hasilnya, puluhan nama-nama perempuan dari Mesir, Persia, India, Indonesia dan Arab yang disebutkan sebagai ratu-ratu Islam yang terlupakan. Tak kurang gencarnya ia pun menghujat hadits-hadits yang menurutnya berbau misoginis antara lain : "Dan sekali-kali tidak akan berbahagia suatu kaum yang menjadikan perempuan sebagai pemimpin mereka" (HR. Imam Ahmad, Bukhari, Nasa’I). Umat Islam menderita amnesia sejarah, demikian kesimpulan Mernissi.
10. Amina Wadud Muhsin
Teolog asal Malaysia ini mengatakan bahwa bahasa dan konteks kultural yang melingkupi, telah mempengaruhi persepsi dan keadaan individu penafsir yang bersangkutan. Dengan tinjauan ini Amina mempertanyakan tafsir-tafsir klasik tentang perempuan serta mengungkapkan perlunya penafsiran ulang terhadap teks-teks Al-Qur’an tersebut.
11. Harun Nasution (Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Dikalangan masyarakat Indonesia, dikenal tokoh Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengemukakan pendapat bahwa banyak ketentuan Al-Qur’an yang sudah tidak dapat lagi diterapkan di jaman modern ini, karena tidak relevan lagi dengan perkembangan dan kemajuan jaman yang berubah-ubah dengan cepat. Itulah yang melatarbelakangi untuk melakukan penafsiran ulang terhadap makna teks Al-Qur’an dan Hadits. Jika umat Islam menginginkan kemajuan dan mengejar ketertinggalan Barat, maka umat Islam harus bersikap kritis terhadap ajaran-ajarannya, membuang konsep yang tidak terpakai di jaman ini, meskipun bersifat mapan dan berasal dari nash yang qath’i.
Harun mendorong mahasiswanya agar menggunakan logika bebas dalam meneliti segala sesuatu. Bila ternyata menurut logikamereka, Al-Quran tidak relevan dengan kemajuan jaman yang mengacu ke Barat, maka orang itu belum berani menyalahi nash dan mengkritik hal-hal yang sudah mapan dalam Islam, sehingga orang itu belum dikatakan berfikir ilmiah. Bila seseorang ingin meneliti Islam secara obyektif, maka ia harus mengeluarkan dirinya lebih dahulu dari Islam. Nampaknya pengaruh cara berfikir filsafat cukup mewarnai pemikiran Harun Nasution.
12. Nurcholish Madjid
Nurcholish adalah generasi murid Harun Nasution. Pemikiran-pemikiran yang dilontarkan, dikemas dengan gaya ilmiah. Penyampaiannya yang filosofis menjadikan orang-orang yang tidak jeli mengamati pokok-pokok pikiran yang ia lontarkan, akan menerima gagasan yang dikemas rapi itu.
Dalam wawancara dengan surat kabar Kompas, yang dimuat tanggal 1 April 1970, Nurcholish menyatakan bahwa : ‘Sekulerisme mengandung arti
pertama : pembebasan dari tutelege (asuhan) agama. Kedua : pemanfaatan ilmu pengetahuan. Orang-orang yang menolak sekulerisasi lebih baik mati saja. Karena sekulerisasi inheren dengan kehidupan manusia sekarang di dunia ini.
Menurutnya, desintegrasi dikalangan umat Islam harus dilakukan untuk melaksanakan pembaruan . Hal ini bisa kita baca dari ungkapannya dalam ‘Pendahuluan’ makalah yang berjudul "Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Integrasi Ummat". Ia menulis dalam makalahnya : "Sebuah dilema segera dihadapkan pada umat Islam : Apakah akan memilih menempuh jalan pembaruan dalam dirinya, dengan merugikan integrasi yang selama ini didambakan ataukah akan mempertahankan dilakukannya usaha-usaha ke arah integrasi itu, sekalipun dengan akibat keharusan ditolerirnya kebekuan pemikiran, dan hilangnya kekuatan-kekuatan moral yang ampuh. Tidak bisa dipersatukannya (inkompatibilitas) antara keharusan pembaruan dan integrasi ialah kenyataan bahwa bila suatu inisiatif pembaruan telah diambil akan ada reaksi kepadanya. Berkali-kali sejarah telah menunjukkan kebenaran hal itu.
Beberapa pendapat tersebut di atas, banyak dirujuk untuk memahami teks-teks keagamaan. Gagasan-gagasan tersebut memang nampak sebagai upaya kajian pendalaman Islam dengan metodologi yang akan membawa pengkaji sampai pada suatu kesimpulan kondisi sekarang tidak relevan dengan penafsiran yang bersifat tekstual. Sederhananya, teks Al-Qur’an dan Hadits tidak relevan lagi dengan jaman modern.
Mencari Relevansi Gagasan Pembaruan dengan Islam
Konsep relativisme dan pluralisme dalam memandang kebenaran dalam pasca modernisme telah menjadikan gagasan pembaruan semakin berkembang. Gagasan pemaruan dalam Islam yang muncul sebagai akibat cara berfikir filsafat dan sosiologi Barat telah menjadi sebuah paradigma yang harus dipertahankan di zaman modern.
Filsafat sebagai metode berfikir yang menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal, bisa mengakibatkan terjadinya penyimpangan terhadap aqidah yang sebenarnya. Cara berfikir yang mengagung-agungkan akal dalam membahas segala sesuatu (meliputi zat yang dapat dijangkau ataupun tidak). Mereka yang menggunakan metode ini berfikir dan membahas zat Allah dengan cara berlebihan, begitu pula terhadap sifat-sifat-Nya yang mereka bahas secara mendetail berdasarkan pertimbangan akal yang didukung oleh pendapat serta pemikiran para filosof sebelumnya.
Untuk melihat relevansi cara berfikir filsafat maka dapat kita tinjau dari beberapa aspek :
Pertama, metode ilmu kalam (filsafat) dalam menentukan bukti didasarkan pada ilmu mantiq, bukan kepada penginderaan. Metode ilmu mantiq (logika) dalam menentukan suatu bukti memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam penarikan kesimpulan. Hal ini disebabkan oleh premis-premis yang salah yang tidak didasarkan atas fakta-fakta. Berbeda dengan metode berfikir yang didasarkan atas fakta-fakta yang nyata, yaitu metode yang telah digunakan Al-Qur’an dalam menentukan bukti-bukti, sehingga tidak memungkinkan terjadinya suatu kekeliruan dalam berfikir.
Kedua, menjadikan akal sebagai patokan dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan iman, bahkan sampai menjadikan akal sebagai standar untuk memahami hal-hal yang ghoib. Penafsiran Al-Qur’an dilakukan berdasarkan pertimbangan akal. Akal dijadikan sebagai standar pemutus terhadap hal-hal yang mutasyabbihat. Ayat-ayat Al-Qur’an dita’wilkan dan disesuaikan dengan ketentuan akal sehingga mengakibatkan kesalahan dalam pembahasan. Sementara dalam Islam, akal hanya berfungsi untuk memahami nash-nash saja, dan Al-Qur’an adalah rujukan dalam menentukan segala sesuatu.
Ketiga, para mutakallimin telah menjadikan sikap pertikaian dengan para filosof sebagai dasar pembahasan. Hal tersebut menyibukkan mereka dalam perdebatan. Sementara Islam menjadikan metode Al-Qur’an untuk membantah sebagian pemikiran-pemikiran filsafat. Metode ini menjadikan manusia berfikir lebih serius tentang keberadaannya di alam ini serta kelanjutannya nanti.
Keempat, para mutakallimin meletakkan pemahamannya terhadap ayat-ayat mutasyabbihat berdasarkan pada apa yang didapatkan oleh akal mereka tentang makna ayat. Mereka mena’wilkan segala sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya, Sementara itu difahami dalam Islam bahwa ayat-ayat mutasyabbihat yang bersifat global dan tidak memberikan pemahaman yang jelas bagi pembacanya telah turun dengan penjelasan yang umum, tanpa memberi perincian. Pembahasan terhadap ayat-ayat ini hanya terbatas pada apa yang tersurat dalam lafadz-lafadznya.
Cara berfikir sosiolog Barat pun menjadi suatu paradigma yang harus dipertahankan di jaman modern. Cara berfikir ini dilandasi oleh suatu konsep perubahan sosial dalam sebuah masyarakat. Perubahan sosial merupakan sesuatu yang terjadi secara alami. Adanya perubahan sosial akan melahirkan kosep-konsep baru sesuai dengan perubahan zaman. Selain itu adanya kaidah dasar bahwa "tidak ditolak perubahan hukum karena perubahan zaman" memberikan dorongan bagi para pembaru untuk melakukan pengkajian ulang terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Hadits. Kemajuan ilmu dan perkembangan budaya kontemporer mengharuskan penganutnya menafsirkan kembali ajaran-ajaran agama yang dianggap ortodoks. Penafsiran ulang terhadap sebagian ajaran yang tidak sejalan lalu menggantinya dengan ajaran yang sesuai dengan kondisi jaman ini dapat dikatakan sebagai upaya adaptasi agama. Dengan asumsi-asumsi dasar, yakni : jaman sekarang adalah jaman perkembangan dan kemajuan, dan pada jaman ini terjadi perubahan besar –ajaran-ajaran agama pada setiap masa berkaitan dengan kondisi aktual pada masa tersebut—sehingga menyebabkan sebagian ajaran tidak sesuai lagi dengan masa sekarang ini; pandangan setiap zaman terhadap hakekat agama merupakan pandangan yang relatif, sesuai dengan pengetahuan yang berkembang pada saat ini, maka dari sinilah agama dihakimi.
Kesesuaian syariat Islam untuk setiap waktu dan tempat dilaksanakan merupakan suatu hal yang tidak dapat diragukan lagi. Hanya saja makna dari ‘sesuai sepanjang zaman" haruslah difahami bahwa Islam mampu memecahkan problematika manusia setiap masa dan tempat dengan berbagai macam hukum-hukumnya. Bahkan mampu memecahkan semua masalah manusia betapapun luas dan beragamnya masalah. Sebab tetkala syara’ memecahkan masalah manusia maka pemecahannya adalah dengan memperhatikan predikatnya sebagai manusia, bukan dengan predikat yang lainnya.
Keluasan syariat Islam bukan berarti syariat Islam itu fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan segala sesuatu walau bertentangan dengan syara’. Tidak berarti juga bahwa syariat itu berubah secara berangsur-angsur sehingga dapat disesuaikan dengan perubahan zaman. Akan tetapi yang dimaksudkan dengan keluasan nash-nash syara’ adalah sebagai sumber pengambilan berbagai macam hukum dan atau keluasan hukum untuk mengatasi beraneka ragam problematika manusia. Satu contoh firman Allah :
"…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berilah kepada mereka upahnya…" (QS. Ath Thalaq : 6)
dari ayat ini dapat diambil hukum syara’ bahwa wanita yang ditalak berhak mendapatkan upah menyusukan anak. Dapat pula diambil hukum syara’ bahwa seorang pekerja apapun bentuknya, berhak menerima upah apabila melakukan pekerjaannya, baik ia sebagai pekerja khusus seperti pegawai negeri, pekerja pabrik, pekerja di ladang dan yang sejenisnya, maupun pekerja umum seperti tukang kayu yang membuat almari, tukang jahit dan yang sejenisnya setelah mereka menyempurnakan pekerjaannya. Dengan demikian seorang khalifah (kepala negara) tidak berhak mendapatkan upah karena ia bukan pekerja. Sebab khalifah adalah orang yang dipilih dan diangkat oleh umat untuk menjalankan syara’ dan mengemban dakwah. Namun demikian ia berhak mendapatkan santunan sesuai dengan keperluan, karena ia tidak sempat melakukan urusan pribadinya sendiri.
Keluasan nash syara’ seperti di atas dalam pengambilan hukum-hukum yang beraneka ragam serta keluasan hukum untuk mengatasi beraneka ragam problematika manusia, inilah yang menjadikan syariat Islam mampu untuk menjawab tantangan zaman. Sehingga keluasan hukum ini sendiri tidak dapat dikatakan bersifat elastis atau berubah-ubah.
Dengan demikian kaidah-kaidah kuliyaat (umum) yang dilontarkan oleh para tokoh pembaru tidak memiliki relevansi dengan konsep dasar Islam. Sebab kaidah-kaidah tersebut mengandung konsep relativisme, artinya kebenaran itu berubah-ubah sesuai dengan perubahan zaman. Jaman menjadi pijakan (subyek) perubahan penafsiran agama. Padahal Islam tidak bersifat fleksibel, akan tetapi senantiasa bersifat sesuai dengan perkembangan jaman dan mampu menjawab tantangan jaman. Nilai kebenaran dalam Islam tidak bersifat absurd. Kebenaran dalam Islam senantiasa tetap karena berlandaskan kepada standar yang bersifat pasti. Apabila kita mengacu pada nash-nash ayat Al-Qur’an dan hadits maka dalam Islam tidak dikenal adanya kaidah "tidak ditolak perubahan hukum karena perubahan jaman", dan "adat istiadat dapat dijadikan patokan".
Jelaslah bahwa tidak ditemukan adanya relevansi antara gagasan pembaruan dengan Islam. Sehingga yang terpenting bagi kaum muslimin saat ini adalah bahwa dalam setiap menyelesaikan problematika kehidupan yang harus tetap merujuk kepada kitabbullah dan sunnah RasulNya melalui jalan ijtihad yang shahih.
Adakah Pembaruan dalam Islam ?
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dari Abu Hurairah :
"Sesungguhnya Allah senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap akhir seratus tahun (satu abad), orang yang akan memperbarui dinnya"
Sebenarnya pembaruan berasal dari kata tadjid yang memiliki makna memelihara nash-nash din yang asli dengan benar dan bersih. Sehingga bisa diambil suatu pemahaman bahwa pembaruan (tajdiduddin) merupakan penyusunan solusi-solusi Islam terhadap masalah yang muncul dalam kehidupan manusia. Hal ini karena kehidupan penuh dengan perubahan, dan nash-nash yang dzahir tidak cukup untuk menjelaskan hukum-hukum dari setiap masalah. Sehingga harus ada upaya mengerahkan kemampuan akal untuk mengembalikan masalah tersebut kepada sumber-sumber syariat Islam. Usaha inilah yang disebut dengan ijtihad. Melalui ijtihad yang shahih inilah akan didapatkan hukum yang akan menempati medan masalah. Ijtihad yang shahih ini pulalah yang dapat dikatakan sebagai bagian dari makna tajdiduddin.
Dengan demikian pembaruan (tajdid) dengan jalan ijtihad yang shahih dalam menghadapi setiap problematika tidak sama dengan pembaruan yang berkembang pada saat ini.
Waallaahu a’lam bishshawab berikut diatas ini yang di sampaikan saudara Nafiisah M. Ridlwan
adakah perbedaan antara salaf dan kholaf?
khilafiyah (perbedaan) sudah bukan sebatas wacaana sekaligus bukan hal yang tabu baik itu yang ada hubunganya dengan ibadah (pengabdian seorang hamba terhadap tuhan)
atau yang disebut hubungan vertical atau hablumminallah) dan juga tentang muamalah (hubungan pada sesama atau yang diistilahkan hubungan horizontal atau hablumminannas) kholafiyah yang sudah menjadi realita alam (bukan bentukan alam) disamping disebabkan oleh pergeseran yang bersifat subjektif karena kapabilitas menangkap suatu obyek dan kapasitas berfikir yang berbeda-beda,namun pada dasarnya sudah disinggung-singgung oleh allah dalam beberapa firmannya diantaranya adalah surat ar-rum ayat 22 :
         •    
Artinya"dan diantara tanda-tanda ayat(bukti)Allah adalah terciptanya beberapa langit dan bumi dan berbeda-bedanya lisan (bahasa)dan warna kalian(warna kulit)sesunguhnya yang demikian itu sebagaitanda bagi alam semesta"
disamping itu juga sabda Rosulullah
اختلاف امتي رحمة
"Perbedaan umatku(ulama')adalah rohmat"
maka pertanyaannya adalah bagaimana mensikapi realita yang demikian, manusia sebagai zona personality tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi berbagai kebutuhannya selalu melibatkan pihak kedua, pihak ketiga dan seterusnya sementara manusia dari fitrah (asal terciptanya) memang telah dibedakan oleh allah sang pencipta.
bukankan saat manusia masih berada dikandungan sang ibu telah ditentukan berbagai kepribadiaannya ?
namun meskipun demikian, perbedaan yang ada pada diri masing-masing perlu disikapi dengan kelapangan dalam berfikir bukan didasari emosi dan kebencian.

MANA YANG BENAR ?

Berbicara kebenaran, manusia sebagai makhluk yang diberi potensi lebih dengan nilai akal maka setidak-tidaknya mampu merumuskan mana yang dianggap benar dan mana yang dianggap tidak benar meskipun kebenaran mutlak hanya milik Allah. Ulama’ salaf dalam merumuskan berbagai kaidah lalu mencetuskan sebuah hukun itu tidak terlepas dari tuntutan lingkungan dan kultur di benak mereka tinggal sebagaimana imam syafi’i yang berseberangan dengan pendapatnya sendiri dalam qoul qodim dan jadinya (qodim: pendapat imam syafi’i sewaktu dibaghdad sedangkan qoul jadid adalah rumusan pendapatnya sewaktu dimesir)
Begitu juga sunnatullah yang terkadang mengcancel sebagian firmannya (seperti ayat naasih dan mansukh) seperti ayat yang dulu pernah ada tentang perpindahan arah kiblat dalam solat dimana pertama kali solat menghadap ka’bah lalu diganti menghadap baitul maqdis (dipalestina kurang lebih selama ...... bulan) lalu turun ayat lagi yang mewajibkan menghadap kearah kiblat pertama kali allah berfirman dalam surat al-baqoroh ayat 115 :
              
artinya"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahu".

Lalu ayat itu dimansukh (dihapus hukumnya) dengan ayat 144 surat al-baqoroh
       •                 •               
Artinya" Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[96], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjaka".
Perpindahan arah kiblat itu terjadi pada tahun 2 hijriyah bertepatan pada bulan rajab. Dan juga ayat-ayat lain yang sehubungan dengannya
As-syekh maimun zubeir seorang mufassir menukil dari maqolah as-syekh zubeir (ayahanda beliau) menyebutkan bahwa manusia itu perlu mempunyai pakaian luar dan pakaian dalam

عليكم بالدثار والشعار
Artinya manusia itu harus tau kondisi dan situasi dimana ia hidup dan kapan masanya harus peka terhadap berbagai stimulus yang menuntut adanya sebuah perubahan sebagai seorang muslim harus tahu dan selalu mengikuti informasi perubahan dunia yang berubah setiap saat intinya menusia itu wajib punya pakaian luar dalam artian iptek (Ilmu pengetahuan dan tekmoliogi) dan pakaian dalam dalam aritan imtaq (iman dan takwa)
Ahir dari semuanya dapat penulis garis bawahi bahwa kebenaran sain bersifat relatif dan akan berubah dengan penemuan-penemuan baru yang lebih otentik sementara kebenaran agama sifatnya adalah absolut namun demikian kebenaran agama terkadang membutuhkan sain sebagai pendekatan ilmiah.

Wallahu A'lam Bisshowab.



PUSTAKA
Al-Qura'an Wattarajumah
Showy Asy-syaikh.Tafsir Asshowi:Al-Hidayah
An-Nawawi.Tafsir Murohu Al-Labib :Al-Hidayah
Jalaluddin,Tafsir Al-Jalalainy :Al-Haromain
Aziz Nur,Menelusuri Kisah Nabi Adam :2008
lempung menguak rahasia keagungan Allah.Anton prasetio dan N Avisena
filsafat sains dalam Al-Quran Drs hadi masruri H.imron Rosidi
IAD ISD IBD.Drs Mawardi Ir Nur Hidayat
Abdul Qadir Jaelani. 1994. Menelusuri Kekeliruan Pembaruan Pemikiran Islam Nurchalis Madjid. Penerbit Yadia. Bandung.
10. Busthami M Said. 1995. Gerakan Pembaruan Agama antara Modernisme dan Tajdiduddin. Wala Press. Jakarta..
11. John J. Donohue & John L Esposito. 1987. Islam dan Pembaruan. Ensiklopedi Majalah-Majalah Pengantar DR. M Amin Rais. Rajawali Pers Jakarta.
12. : Nafiisah M. Ridlwan.com
13. Metodologi Penelitian Filsafat : Drs. Sudarto,M.Hum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar