Tentang Hidup Saya

Tentang Rizqi, Saya harus berusaha supaya bisa menyantuni anak yatim, dhu'afa', shodaqoh, wakaf, jariyah dengan sebanyak-banyaknya
Tentang ajal, kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan saya, maka saya harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya.
Tentang jodoh, dia pasti yang terbaik untuk saya dan saya juga yang terbaik untuk dia, harapannya saya dan dia sama-sama ikhlas, ridho, syukur, qona'ah, sabar, dan saling pengertian.
Tentang masa depan, saya tidak tahu, saya hanya bisa belajar dari masa lalu dan berusaha menjadi yang lebih baik.
Tentang harapan, saya kurang sabar saya hanya minta kepada Allah tergolong mina al-Shobirin, Al-Mukhlishin, Al-Mahbubin, Al-Mardliyyin, Al-Sholihin.
Tentang orang lain, mereka sebagai obyek pendidikan, jika saya tidak mau dilukai saya harus tidak boleh melukai, saya harus menghargai, tidak merendahkan karena belum tentu saya lebih baik dari mereka.
ALLAHU MA'II, ALLAHU NAADHIRII, ALLAHU SYAAHIDII.

Kamis, 24 Juni 2010

Kisah Hidupku

Aku tetap belum bisa
Apapun realita bagi saya adalah pelajaran untuk mendidik seseorang menuju kepada kedewasaan dalam mensikapi kehidupan yang fana ini………saat emosi, tegang, senang, gelisah semuanya adalah proses yang harus dilalui manusia dalam mencapai tataran yang lebih baik siapapun dia, dimanapun dan kapanpun akan menghadapi serta merasakan proses itu.
Nama saya Abdullah,lahir bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan bangsa indonesia yaitu 17 agustus, namun tahunnya lebih muda saya yaitu 1985.
Tentang kehidupan saya, saya dilahirkan oleh ibu yang sangat saya sayangi,begitu juga ayah serta kakak-kakak saya, semua adalah pendidik saya, saya mulai sejak dini dididik pendidikan berbasis agama.
Saya diajarkan ayah bahwa sebagai muslim yang baik perlu menjaga diri agar tidak berbuat ma’siat. Mulai kecil saya dilarang nonton Tv,alasanya Tv merupakan media seseorang untuk melakukan tindakan kriminal, asusila, ma’siat.
Hal itu dipengaruhi oleh tayangan-tayangan yang disajikan berbagai acara yang ada di tv .
saya juga dididik ayah untuk tidak berjabat tangan, berduaan bersama perempuan yang bukan mahom saya, karena itu adalah ma’siat yang banyak memberi potensi untuk berbuat asusila meski itu tergantung pelaku dan otak seseorang.
Saya dididik ayah untuk tidak mencuri, ghosob sekecil apapun, suatu ketika saat saya masih kecil, teman-teman mengambil tebu milik pemerintah, saya ingin menikmati tebu dan bermain seperti teman-teman, tapi ayah melarangku. Ayah bilang “makan barang curian itu haram, daging yang tumbuh dari itu haram masuk surga, disamping itu dapat menggelapkan hati dan fikiran”.
Efek yang ditimbulkan adalah saya menjadi kuper (kurang pergaulan) baik sesama laki-laki maupun perempuan, saya diajari ayah untuk selalu belajar dan belajar terutama fan agama, berbagai aktifitas menjadi jadwal rutin harian saya mulai pagi sampai malam.
Saya menjadi pemalu, kurang PD (Percaya diri) kurang bisa bergaul dan relative dijauhi teman-teman.

Saat menginjak usia SMP saya disekolahkan di satu lembaga yang menaungi sekolah formal dan diniyah sekaligus pondok pesantren,saya tinggal dipesantren itu sampai lulus, dipesantren itu tidak berbeda dengan pola pikir ayah, dilarang keras kumpul yang bukan mahram baik laki-laki maupun perempuan, meski sekolah bareng tapi saya tidak pernah bercanda sama perempuan.
Setelah lulus saya ditaruh dipesantren salaf yang diasuh oleh guru mursyid, ulama’ terkemuka, saya hidup dan belajar disitu selama lima tahun, hari-hari saya isi dengan kegiatan belajar, mengaji, menghafal, diskusi dll.
Nyaris tidak ada waktu nganggur, peraturannya juga sama, haram kumpul laki-laki perempuan yang bukan muhrim.
Setelah lulus, saya dipercaya guru saya untuk ditugaskan di kota luar propinsi tepatnya dikota pendidikan malang jawa timur, kota kelahiran saya adalah pati jawa tengah, saya ditugaskan untuk mengamalkan dan membimbing teman-teman siswa, santri yang ada di lembaga situ terutama pelajaran agama.kesan yang tak terlupakan adalah saya keluar keringat dingin karena malu saat pertama masuk,waktu itu saya berada di acara ta’aruf (perkenalan)sebagai guru tugasan pada santri, setelah itu saya langsung ngisi pelajaran di musholla putri .sungguh perasaan yang tidak pernah saya rasakan saat itu grogi, kurang PD.karena memang tidak pernah berhadapan dengan perempuan apalagi musholla penuh dengan santriwati.
Hari-hari saya hidup sesuai dengan kehidupan saya sesuai karakter pembawaan saya yang mungkin sedikit banyak dibentuk oleh ligkungan kecil saya,terlebih oleh lingkaran pedoman agama, saya sering mendengar kata teman-teman putri bahwa saya orang yang sok,sombong,sok suci dan lain-lain,hal itu karena saya tidak pernah bicara sama santriwati kecuali di kelas saat mengajar,saya diam seribu bahasa dan cuek pada mereka saat diluar jam kegiatan.
Prinsip saya, Saya hanya untuk mengajar ya mengajar tidak untuk yang lain.
Dau tahun setelah saya di lembaga itu, saya di anjurkan teman guru untuk kuliah di perguruaan tinggi,saya coba dan Alhamdulillah terasa nyaman,namun karakter saya tidak berubah,saya tetap tidak bisa komunikasi bagus terhadap teman perempuan,saya tidak bisa canda gurau seperti teman-teman lain pasahal banyak kesempatan.
Saya vocal hanya saat presentase pelajaran.
Hingga akhirnya oleh Allah, saya berada disekenarionya untuk memerankan acting dalam sinetron cinta, saya diperkenalkan pada seorang wanita dewasa, bijak, pintar, sosialnya tinggi, peduli pada kaum yang dianggap sampah masyarakat, dan manis..
awalnya saya menjalin komunikasi lewat tema pendidikan namun akhirnya Alloh menaruh rasa empati, kagum yang tumbuh menjadi cinta pada gadis itu.saya belum pernah melihat secara langsung cuma lewat foto dan facebook. Saya tertarik bukan karena apa, tapi karena pandangan hidupnya. Saya sempat jadian dan komitmen untuk meneruskan kejenjang pernikahan namun oleh Allah berahir hanya sebatas saudara hal itu karena factor orang tua dan guru yang tidak merestui. Saya ikhlas dan ridho, saya Cuma bisa mengambil pelajaran dan menyimpulkan bahwa “ perempuan tidak untuk dijauhi tapi untuk dicintai, diikat dengan ikatan suci dalam pernikahan yang sah, perempuan bukan untuk dibenci dan dimusuhi tapi untuk disayangi mereka adalah pelita alam”.
Saat saya menjalani komunikasi, saya tidak pernah bertemu dia dan memang itu yang saya cita-citakan dulu , saya punya keyakinan “saya tidak boleh berkumpul, berduaan selain dengan istri saya”.saya menjaga itu.
Waktu saya bilang bahwa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, itu juga tidak lewat langsung tapi lewat surat yang diantar teman saya.
Kira-kira dua bulan dari putusnya hubungan itu, dia sakit sampai dibawa kerumah sakit, saya dikabari pagi hari dengan berbagai pertimbangan saya beranikan diri menjenguk di rumah sakit. Meski mental saya sebenarnya tidak siap, saya tidak punya nyali bertemu dengan perempuan selain diforum resmi.
Saya minta izin dulu apakah boleh saya menjenguk, kaena dia memperbolehkan saya masuk diruangannya . grogi, minder, malu, semua bercampur hingga saya tidak bisa bilang apa-apa.
Sebenarnya saya juga tidak berani melihat wajahnya tapi saya mencuri-curi untuk melihat gadis yang hampir saja kalau jadi dia adalah istri saya, saya gemetaran luar biasa. Maklum saya tidak pernah berada diposisi dengan peasaan seperti itu apalagi didepan seseorang yang saya anggap special, dampaknya didepannya saya bicara yang kurang logis, salah tingkah dll.
Saya waktu itu benar-benar tidak sadar,emosi tidak terkontrol,pikiran normal terganggu,saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu,entahlah………………………………
ya Allah……
kenapa saya seperti itu, sebagai manusia normal saya ingin seperti orang lain, yang lebih tenang menghadapi siapapun. Saya ingin bicara apa adanya dan biasa serta komunikasi tapi kenapa saya tidak bisa.kepada teman-teman putri saya juga seperti itu, saya terlihat kaku, ekspresi wajah jadi tidak menarik. Bahkan pada siswi-siswi yang saya mengajar, tapi anehnya kalau waktu menyampaikan materi pelajaran saya baik-baik saja dan biasa saja, kenapa diluar itu saya berubah 90 %. Saya sudah belaja psikologi dan mencoba mempraktekkan tapi tetap saja saya tidak bisa tak jarang do’a ditengah malam saya curhat ke Allah tentang perasaan saya yang seperti itu saya ingin diberi sikap yang biasa seperti kebanyakan orang lain tapi tetap saja saya tidak berubah, saya pemalu, kurang PD, grogi didepan perempuan selain diforum resmi.
Ya Allah……
Jika ini memang hidupku yang sudah final mohon berikan keikhlasan dalam hati saya, saya rela dengan semua yang telah Engkau anugerahkan pada saya.
Ya Allah………….
Kini aku pasrah.
Saya bagai mayat didepan orang-orang yang mengurusnya, saya tidak bisa apa-apa….
Tapi mohon…..
Urus saya dengan yang baik serta ridhoi saya
jadikan saya sebagai salah satu dari sekian kekasihMU..
Ya Allah…..
Ataukah ini sengaja Engkau berikan pada saya agar saya tidak gampang berkumpul dengan ghoiru mahram, yang itu merupakan laranganMU ..?
Jika memang itu….maka terima kasih sedalam-dalamnya
Thank you very much for allah (my god)
Nb: untuk gadis yang nama harumnya pernah tinggal dan menari-nari dalam jiwaku serta telah membuka pintu perasaan yang selama ini terkunci, maafkan saya,saya tidak seindah yang kamu bayangkan,saya tidak punya apa-apa hanya punya hati,perasaan,pikiran yang telah Allah berikan pada saya,seta setetes ilmu.
Saya telah mencoba menjadi manusia seperti umumnya tapi Allah berkahendak lain,mohon pengertianya,dalam hidup ini saya punya pandangan bahwa kita hidup tidak hanya untuk dicintai,disayangi,dikasihi,disukai,diunggulkan tapi hidup juga untuk mencintai,menyayangi,mengerti,karena belum tentu kita lebih baik dari yang kita harapkan cintanya.hanya Allah yang tahu kebaikan hambanya,
Saya menganalogkan ”saat kita bercermin di depan kaca yang terlihat adalah kita orang yang baik,manis,cakep,sempurna, tapi saat kita melihat cermin orang lain kita melihat kekuranganya,kejelekanya,kenapa perbandinganya seperti itu toh realitanya belum tentu kita yang lebih baik ”
Pertemuan itu sudah disecenariokan Allah,sekaligus menbuka mata kita untuk mengetahui masing-masing,
selamat ………….anda hamba pilihan, cepat sembuh ya dan terus berjuang semoga anda temukan sosok yang special,ideal untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah
“ hidup ini tidak untuk mengabdi masyarakat,Negara tapi untuk menjadi Abdullah(hamba Alah) lewat abdi masyarakat,negara”semoga sukses,sekali lagi maafkan saya yang telah membuat kecewa saat anda bertemu saya,saya orang yang lemah tidak berdaya serta berjuta-juta kekurangan.
Minta doanya, saya bisa ikhlash menerima karakter yang Allah letakkan pada saya
Apalah artinya mengejar status social,pengakuan manusia jika dunia ini hanyalan sementara dan fana,semua akan hancur kembali di pangkuanYA,
apa yang dapat kita unggulkan serta andalkan ?
jabatan?
Harta benda?
Pengakuan manusia?
Pasangan hidup?
Anak keturunan?
Lingkungan hidup?
Relasi?
Harga diri?
Atau apa?..........?...........?..........?............?............?...............?..............?.............?...............?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar